The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Zirah Perak dan Mantel Merah


__ADS_3

Paginya, sang ksatria menemukan tetesan darah di jalur yang dia lalui sebelumnya. Ini yang membuat bandit tersebut menemukannya. Dia mengambil kudanya dan membenarkan pelananya, bersiap-siap dan dia bergegas pergi sebelum pasukan musuh berhasil mengejarnya.


Namun sudah terlambat, pasukan musuh dan bandit terus berdatangan di sepanjang jalannya. Kadang dia melawan ketika dia sanggup, kadang dia bersembunyi ketika jumlah musuh terlalu banyak dan terlalu letih. Sang ksatria memaklumi pasukan musuh yang mengejarnya, namun dia bingung kenapa bandit dan pembunuh bayaran terus saja bermunculan. Ketika bandit datang lagi, sang ksatria menangkap hidup-hidup salah satu bandit. Dia menanyakan kenapa bandit dan pembunuh bayaran mengejarnya.


“A-ampuni aku, seseorang bermantel merah mengatakan bahwa jika berhasil menangkap ksatria berlapis perak aku akan diberi hadiah yang banyak,” ucap bandit itu yang ketakutan.


Sang ksatria memukulnya dan meninggalkannya pingsan di tanah. Saat dia mendengar pria bermantel merah, hatinya terbakar api amarah tapi di lain sisi dia juga takut. Dia teringat kembali ucapan dari Raja Barias menjadi kenyataan. Sang ksatria menolak percaya dan terus berkelana mencari seseorang yang mau membantunya.


Tiba-tiba, seperti tersandung sesuatu, dia dan kudanya terjungkal ke depan. Kuda kesayangannya menggeliat dan meringkik kesakitan ketika sejumlah ular berbisa menggigit kakinya. Ksatra Perak lalu menebas ular tersebut satu persatu. Namun, sesuatu menciptakan getaran tanah hebat yang membuatnya terpaku seperti patung. Seekor ular seukuran rumah, mengangkat kepalanya dari tanah. Sisiknya di sekujur tubuhnya ditumbuhi lumut. Matanya tajam, membawa kematian bagi siapapun yang berhadapan dengannya. Ular itu membuka mulutnya lebar, tampak dua taring panjang yang dapat menembus baju pelindung besi. Dengan otot leher besarnya, dia mendorong kepalanya dengan tenaga yang dahsyat ke arah kuda sang ksatria. Kuda itu mati dalam sekali caplokan. Monster tersebut mengangkat kuda dengan mulutnya ke atas lalu menelannya bulat-bulat. Tapi perutnya belum puas, lidah bercabangnya yang menjulur, merasakan ketakukan dari mangsa kecil yang memegang pedang. Ksatria Perak yang ketakutan tersebut tak mungkin menang melawan makhluk mengerikan tersebut. Apalagi mustahil baginya dalam kondisi seperti ini untuk kabur. Satu-satunya pilihan adalah melawan.


Dengan tekad yang bulat, ksatria itu menghindari serangan ular itu. Lalu ketika kepala besarnya menatap tanah, ksatria menebas lehernya. Bahkan pedangnya tak sanggup menembus sisik keras ular tersebut. Karena gerakan ular tersebut yang lamban, tubuh sang ksatria yang lebih kecil memiliki keuntungan. Saat dia mendekati kepala sang ular, dia menebas beberapa kali di bekas tebasan yang sebelumnya. Dengan begini, dia dapat menembus sisik ular tersebut.


Ketika dia akan melakukan tebasan terakhirnya, sesosok pria muncul dan menangkis serangannya. Mata kuning dengan pupil berbentuk bulat panjang seperti ular menatap tajam ke dalam sela-sela pelindung kepala sang ksatria. Ksatria itu menjaga jarak dengannya, kini amarahnya kembali berkumpul saat melihat pria yang dihadapannya mengenakan mantel merah.


“Akhirnya ketemu juga kau.” Pria itu menyeringai.


Tanpa basa-basi Ksatria Perak langsung bertanya kepadanya, “Katakan. Kenapa kau menyerang Aramor? Kami tidak pernah bermacam-macam dengan kerajaan lain.” Sang ksatria mengarahkan pedangnya ke depan.

__ADS_1


“Tenebrum hanya ingin merebut pusssaka yang dimiliki rajamu. Tapi, sssepertinya dia menyerahkannya ke orang lain.” Pria bermantel merah menatap tajam sang ksatria dengan mata dan desisan seperti ular.


“Pusaka?” Ksatria melirik ke pedang di tangannya. “Hanya untuk pusaka, hingga rela menghancurkan kerajaan lain?”


Pria bermantel merah itu mendengus. “Itu bukan pusssaka sssembarangan. Pusssaka itu memiliki kekuatan yang kami perlukan.”


Air hujan menetes deras dari langit yang hitam. Membasahi kedua pria itu yang saling bertatapan. Pria bermantel merah berbalik ke arah ular raksasa di belakangnya. Dia membelai sisik ular tersebut dengan lembut. “Kau tidak apa-apa, Aposss sssayangku?” Pria itu menoleh melewati bahunya dan menatap benci sang ksatria.


“Ular itu milikmu?”


Tangannya yang telah mencabut banyak nyawa prajurit Aramor itu membelai sisik ular dengan lembut. “Cantik bukan? Aku menemukannya sssaat masih berupa telur di sssebuah sssarang di Alderia. Orang Gurun menyebutnya Hulun Kar.”


“Baiklah.” Pria bermantel menarik pedangnya dengan gagang yang berbentuk seperti ular yang sedang membuka mulutnya. “Aku, Rasssgan, Ksssatria Merah dari Tenebrum, dengan sssenang hati menjawab tantanganmu.” Dia menyeringai serta matanya terbuka lebar saat melihat pedang milik sang ksatria.


Gemuruh petir menggelegar di langit, menandakan pertempuran mereka dimulai. Kedua prajurit itu berlari berhadapan. Meskipun memakai zirah yang berat, sang ksatria berbelok dengan cepat melewati Rasgan. Dia menuju ke ular dibelakang pria itu.


Sang Ksatria Perak bermaksud untuk mengalahkan ular tersebut terlebih dahulu, karena jika ular tersebut masih hidup, pertempurannya dengan Rasgan akan lebih sulit. Pedang sang ksatria berhasil mendarat di leher ular itu, namun tidak cukup dalam. Untuk kedua kalinya, Rasgan menangkis serangan sang ksatria. Terjadilah pertempuran sengit antara mereka. Namun, ketika sang ksatria ingin melancarkan serangan kepada Rasgan, ular tersebut mengganggunya, begitu juga sebaliknya ketika dia ingin menyerang ke ular tersebut, Rasgan kembali menangkisnya.

__ADS_1


Merepotkan, kesal sang ksatria. Dia lalu melaju ke ular tersebut, dia sudah siap melancarkan serangan. Dan seperti dugaannya, Rasgan muncul untuk menangkis, namun ayunan pedang sang ksatria tidak bermaksud untuk menyerang ular tersebut, tapi dimaksudkan untuk Rasgan. Rasgan yang tak menduga, terkena serangan langsung. Pedang tersebut mengenai pinggang Rasgan, tapi seperti saat di Grandell, bilah pedangnya seperti tertahan oleh sesuatu di balik mantelnya. Sejumlah ular merayap keluar dari mantelnya seraya dia tertawa terkekeh. Ular tersebut melilit tubuh Rasgan, menjadi sebuah baju zirah untuk dirinya.


Strategi sang ksatria gagal, dia melangkah mundur. Namun saat bersamaan, dengan ekor besarnya, ular itu menyabet sang ksatria yang tak sempat menghindar. Rasgan menghampiri sang ksatria yang terbaring kesakitan.


Dengan bertumpu pada pedangnya, sang ksatria berusaha sekuat tenaga untuk berdiri.


Pria bermantel merah menendang ksatria itu hingga tersungkur. “Aku akan mengambil pedangmu.”


“Tidak akan kussserahkan pedang rajaku.” Ksatria Perak masih berusaha mengangkat tubuhnya yang gemetaran.


“Maksudmu raja tua itu? Sssayang sssekali kau tidak bisa melihat ekssspresssi terakhir pria tua yang lemah itu.” Pria itu menjilat bilah pedangnya. “Kerajaanmu, rajamu, sssemuanya sssudah kuhancurkan.”


Emosi semakin meluap dan tak terbendung lagi. Ksatria menggunakan seluruh amarahnya untuk berdiri dan melancarkan serangan acak. Namun, dengan mudahnya Rasgan menghindari serangan itu hanya menggunakan sedikit tenaga. Semarah apapun, sang ksatria tetap tidak bisa mengalahkan Rasgan. Dia mulai tak bisa menjaga keseimbangan tubuh lemasnya. Hanya sedikit dorongan dari kaki Rasgan, ksatria itu jatuh tak berdaya.


Sudut bibir Rasgan meninggi ke satu sisi, dia berbalik memberikan tanda kepada ularnya. “Habisssi dia.”


Rahang penuh gigi setajam pisau terbuka lebar, mengarah ke ksatria yang berlutut pada pedangnya. Ksatria Perak memejamkan matanya. Waktu seakan berjalan dengan pelan. Dia mengangkat kepalanya ke atas. Air hujan menembus sela-sela helmnya dan membasahi wajahnya. Di balik awan hitam yang menyelimuti seluruh dataran, muncul sebuah kilauan cahaya kecil menyinari pria itu. Tiba-tiba cahaya hijau terang bersinar dari permata yang terpasang di batang silang pedangnya. Dalam waktu yang sedikit, sang ksatria menarik pedangnya yang tertancap di tanah. Dia mengayunkan pedangnya ke atas. Angin berhembus sangat kencang hingga membuat guyuran hujan tersapu saat pedang itu diayunkan. Darah hitam menyembur seperti air mancur. Menutup warna perak dari baju pelindung dan pedang ksatria tapi tidak dengan permata hijau itu. Di depan sang ksatria, sebuah tubuh ular raksasa tanpa kepala menyemburkan darah hitam. Sementara kepala tersebut terhempas jauh dibelakangnya dengan mulut menganga.

__ADS_1


Kedua pria yang berdiri disana saling bertatapan. Mulut dan mata Rasgan terbuka lebar, “A-Aposss…” Pria itu langsung berlari ke arah ksatria, mengarahkan pedangnya. “Brengsssek kau!”


Ksatria Perak dengan cepat menangkis serangannya. Benturan bilah logam antar keduanya menciptakan angin dahsyat sekali lagi. Hempasan dari angin tersebut melemparkan kedua pria itu jauh. Sang ksatria terlempar sangat jauh di udara, melewati pepohonan dan sungai dan mendarat sangat keras di rerumputan yang membuatnya tak sadarkan diri. Beruntungnya, tubuhnya diselimuti oleh cahaya hijau yang mengurangi dampak pendaratannya.


__ADS_2