
Archie menghirup udara segar yang membuatnya rindu saat melangkahkan kakinya di luar hutan setelah sekian lama. Tangan kirinya meletakkan gulungan perkamen di saku celana kirinya dan tangan satunya menutupi cahaya matahari yang hangat dan cerah. Matanya yang terbiasa dengan warna gelap di hutan, masih menyesuaikan dengan pemandangan di luar. Padang rumput yang luas dan semerbak aroma bunga liar bewarna-warni memenuhi luar hutan. “Ternyata pemandangan di luar masih tak jauh berbeda sejak aku meninggalkan kota. Meskipun baru 5 hari tapi rasanya sudah sangat lama.”
Lelaki itu berjalan melalui jalan setapak. Rumput dan bunga memenuhi pinggir jalan. Livadia adalah benua yang terkenal akan hamparan padang bunga yang luas, terutama Aruindale yang sangat menjaga kelestarian padang bunga, tak seperti wilayah lainnya. Tak heran jika selama perjalanan di Aruindale, pemandangan yang selalu terlihat di kedua sisi jalan adalah bunga-bunga liar yang bermekaran dengan indah. Sebelah kiri terdapat bunga mawar liar dan sebelah kanan anggrek liar berwarna merah muda cerah. Berjalan beberapa langkah ke depan, bunga lainnya pun tumbuh seperti popi dan bluebell.
Archie berhenti di hamparan padang bunga bewarna ungu, bunga yang paling indah baginya, yaitu bunga lavender. Bermakna kesucian dan pengabdian pada raja seperti keluarga Lanvinder yang selama ratusan tahun telah bersumpah setia untuk Aruindale. “Para gadis itu pasti akan suka melihat pemandangan ini.” Ia melanjutkan langkahnya. “Benar juga, mereka belum pernah keluar hutan selama ini. Lain kali akan kuajak mereka menikmati Festival Musim Semi,” gumam lelaki itu.
Di tanah yang meninggi di sebelah kiri tak jauh dari sana, hamparan bunga matahari menatap cerah langsung ke arah matahari. “Sudah sampai.” Archie meletakkan langkahnya di antara semak-semak dan rumput liar yang tinggi. Lelaki itu memperhatikan dengan waspada setiap langkah kakinya agar tak terkena gigitan Ular Bunga yang sedang menyamar menjadi sebuah bunga. Meskipun tak berbahaya bagi manusia, tapi cukup menyakitkan.
Lelaki itu sampai di sebuah pohon yang berdiri sendiri di atas bukit yang di kelilingi bunga matahari segar. Namun, pandangannya tertuju tak hanya pada bunga kuning tersebut, tetapi pada seorang wanita di balik bukit dengan jubah coklat dan topi coklat runcing yang sedang memetik bunga matahari. Di lengan kirinya, sebuah keranjang kayu tergantung yang berisi sejumlah bunga seperti mawar, bluebell, zinia, daisy dan bunga matahari yang wanita itu petik.
Archie menyipitkan matanya, berusaha melihat jelas wajahnya yang tertutup topi runcingnya yang lebar. Wanita itu berdiri tegak dari kejauhan, menyingkap sedikit pinggiran topi runcingnya, dan menatap ke arah Archie yang berdiri di atas bukit. Wanita tersebut adalah Terenna Sang Penyihir Kerajaan yang baru… “Profesor Terenna!?” …dan sekaligus guru sihir Archie.
Meskipun jauh, tampak wanita itu tersenyum dan melambaikan tangannya ke Archie. Terenna mengangkat rok panjangnya dan menyusuri padang bunga matahari menuju ke bukit. Angin meniupkan rambut cokelatnya yang beraroma Bunga Utara yang lembut dan dingin.
“Senang bertemu lagi denganmu setelah sekian lama, Archie,” sahut wanita itu. Bintik-bintik coklat di pipinya menghiasi senyumannya yang secerah bunga matahari, selalu membawa kehangatan dan kenyamanan bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Dari sang raja hingga warga biasa, sangat menyukai berada disekitar wanita itu, termasuk Archie sendiri.
Archie meletakkan tangan kanan di dada kirinya dan membungkuk. “Aku juga, Profesor Terenna, senang bertemu denganmu,” balasnya.
__ADS_1
“Tak usah memanggilku profesor. Aku tidak sedang menjadi guru sihirmu sekarang,” kata Terenna. “Apa yang kau lakukan disini? Sudah hampir seminggu sejak kau memutuskan pergi berkelana.”
“Berkelana? Jadi itu yang Ayah katakan.” Archie tertawa kecil.
Kening wanita itu berkerut. “Apa yang terjadi? Aku sempat mengira kau pergi karena tidak menyukai kelas sihirku.”
“Tidak, justru aku selalu menunggu kelas sihir Nona Terenna.” Archie mengusap belakang kepalanya. “Hanya saja, ceritanya panjang.”
Wanita itu menuju pohon, meletakkan keranjangnya di tanah dan duduk di bawah dahan yang rindang. Kakinya berlunjur ke depan. Ia menggeser tas selempang putih yang tersembunyi di balik jubahnya ke pangkuannya, dan melepaskan topi runcingnya yang dia taruh di atas tas selempang. “Lelahnya,” keluh wanita itu.
“Oh bukan, aku hanya mempersiapkan untuk festival nantinya,” ungkap wanita itu. “Aku suka disini, duduk di bawah bayangan pohon sambil memandangi hamparan warna kuning yang cantik. Kau tahu, saat Yang Mulia sibuk, aku sering diam-diam ke sini.”
“Tapi, bukankah kerajaan sudah berlangganan dengan toko Oldfine? Kenapa Nona Terenna memetiknya sendiri?”
“Ini bukan untuk hiasan festival, tapi untuk hal yang lain. Lagipula, aku tak suka pria tua itu. Entah mengapa aku merasakan kalau senyumannya mengerikan.” Terenna melipat tangannya. “Daripada bunga di tokonya, aku lebih memilih memetiknya sendiri di luar. Bunga liar disini lebih segar dan cantik.”
“Nona Terenna benar sekali. Mereka terlihat jauh lebih indah daripada terpampang di toko,” kata Archie. “Ngomong-ngomong, bagaimana kabar di sana?”
__ADS_1
“Yang Mulia masih saja terlihat hebat seperti biasanya, meneruskan jiwa raja-raja sebelumnya yang mencintai rakyatnya. Itu semakin membuatku-”
“Bukan raja, maksudku Keluarga Lanvinder, Ayah, Ibu.” Archie melihat ke atas, membayangkan kediamannya yang mewah dan kasurnya yang terbuat dari kapas berkualitas tinggi yang lembut. Mengingat kembali aroma teh hangat yang dibawakan oleh pelayan setianya setiap pukul 7 pagi dan 3 sore.
Wanita itu tertawa. “Oh, Ayahmu tetap tegar seperti biasa, menjalankan kewajibannya sebagai Kepala Keluarga Lanvinder, dan Ibumu aku jarang melihatnya, tapi tenang saja, wanita itu pasti baik-baik saja.”
Saat lelaki itu membayangkannya, awan putih yang mengambang di langit cerah tertiup angin hangat dan membentuk sebuah wajah gadis bermata biru yang dulu dicintainya. “Bagaimana dengan Meredith?” Archie bertanya penasaran.
“Meredith, ya, meskipun dia selalu tersenyum, tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi dia masih suka bercanda dan makan-makanan manis sepanjang hari. Apa gadis itu tidak takut gendut, ya?” Wanita itu berbohong. Perkataannya kontras dengan apa yang terjadi pada Meredith. Semenjak Archie pergi, badai gelap menutupi hati putri tunggal Zania. Kesedihan bagaikan hujan abadi terus mengikis kebahagiannya. Tak ada candaan yang keluar dari mulutnya, matanya hampa dan nafasnya dingin. Meredith hanya keluar saat malam hari, dimana malam yang sama saat dia dan Archie bercengkerama di tengah keramaian pesta.
Mengetahui itu, Archie menundukkan kepalanya. “Begitu ya, syukurlah.”
“Pernikahan kalian di batalkan, dan sepertinya Keluarga Zania mencari keluarga yang lain untuk dijadikan pasangan Meredith,” ungkap Terenna.
__ADS_1