
Cahaya matahari jingga perlahan menyinari zirah hitam sang ksatria. Sebilah Pedang Hitam dengan permata hijau terpasang di gagangnya mengikis setiap lapisan batang kayu mati tiap kali lengan sang ksatria berayun. Setiap ayunannya membuat zirah saling berderak. Selagi berlatih, pria itu masih terbayang-bayang akan pertempurannya dengan Rasgan. Ksatria Hitam menyadari akan kekuatan dahsyat tertanam pada padangnya dan muncul saat pertempurannya kala itu. Meskipun dia mengayun berkali-kali, tapi kekuatan tersebut tetap tak bisa dia keluarkan. Ia ingin segera menguasai kekuatan tersebut, dengan begitu sang ksatria dapat membalaskan dendamnya.
Di balik pepohonan, Archie muncul dengan wajah gelisah, penuh akan pikiran. “Ada masalah apa?” tanya Ksatria Hitam.
Lelaki beraroma lavender itu memasukkan tangan ke dalam saku celana. “Ini soal Anna, maksudku Faye, ya, soal Faye.”
“Ada apa dengan Nona Faye?”
“Apa yang akan kita lakukan sekarang? Masalah ini terlalu besar bagiku. Aku tak tahu harus bagaimana, rasanya seperti berada di ujung tebing.” Kepalanya mendongak melihat cahaya yang menembus kanopi. “Kemarin ada 3 orang yang masuk ke hutan, entah selanjutnya apa yang bakal kita hadapi.”
Ksatria itu berhenti. Ia berdiri tegak dan menatap Archie dari balik pelindung kepalanya. “Aku juga ingin bertanya kepadamu. Kenapa kau masih disini?” Suara sang ksatria yang berat dan gagah menembus melewati pelindung kepalanya.
“Tentu saja membantu meringankan bebannya. Aku tak ingin gadis itu sendirian menyedihkan sama sepertiku,” kata Archie.
“Berarti seharusnya sudah jelas. Bantulah Nona Faye melindungi hal yang berharga baginya.”
Archie tertegun, bibirnya menutup rapat.
Saat langit menjadi malam, di Pohon Sihir, atau sebutan untuk sebuah pohon besar bewarna abu-abu yang menjadi tongkrongan Faye. Seperti biasa, para gadis memandangi langit malam yang berbintang dengan bulan sebagai pusatnya. Mereka berdua duduk di atas dahan ditemani dengan Rue dan kelompok burung hantu lainnya yang berbulu lebih gelap. Faye menghela nafas. “Entah kenapa, kali ini aku merasa lelah.”
Rynn yang duduk di sebelahnya, menguap. “Sama, aku juga lelah. Sepertinya malam ini cukup. Mau kembali ke rumah?”
Faye menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Baiklah, aku pulang dulu.” Gadis itu melompat dari dahan. Tangannya sedikit lecet saat menapak tanah berbatu.
“Mau kusembuhkan?”
“Tak apa, kau terlihat kelelahan, tak perlu pakai sihirmu.” Rynn lalu menepuk debu dari roknya. “Selamat malam, Faye.”
Faye tak menjawabnya, gadis itu hanya terpaku pada bulan.
Rynn tersenyum. Ia lalu mengambil lentera yang diletakkan di bawah pohon, dan beranjak pergi. Rynn mengarahkan lenteranya ke depan, cahaya remang-remang muncul dari kejauhan. Sedikit demi sedikit cahaya tersebut membesar dan lebih terang, menerangi wujud rumah di antara kegelapan. Rynn lalu meletakkan lentera di halaman. “Apakah Archie dan Blackie sudah kembali?” gumamnya.
Saat gadis itu membuka pintu depan dan menengok isi rumah, pandangannya tertuju pada pintu di sebelah kanan. Pintu yang selama ini tersegel dengan semacam sihir dan hanya Faye yang boleh masuk ke dalam, terbuka lebar. Gadis yang penasaran itu, berjalan perlahan ke arah pintu yang terbuat dari kayu hitam. Ia mengintip dan berteriak, “Faye, kau sudah pulang?”
Tak ada jawaban. Gadis itu lalu memberanikan diri, memasuki ruangan remang-remang tersebut. Ia berpikir mungkin Faye ada di dalam dan lupa menutup pintunya. Rynn lalu berniat untuk menyapa sekalian memuaskan rasa penasarannya akan isi ruangan yang di rahasiakan oleh Faye. Rynn mengambil lilin yang digantung di dinding, dan mengarahkan ke depan untuk melihat ruangan lebih jelas. Gadis itu melihat seisi ruangan tapi tak ada siapapun disana. Ia hanya terkagum akan buku-buku, perkamen, dan peralatan sihir yang tersusun rapi di rak-rak. “Kenapa dia melarang kita memasuki ruangan ini? Setelah kulihat-lihat tak ada yang aneh atau berbahaya atau semacamnya.” Gadis itu bertanya-tanya seraya matanya mengamati tiap benda-benda.
Jarinya menelusuri judul buku-buku yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ia mengambil buku dengan sampul hijau kusam. Isi di setiap halaman menjelaskan tentang berbagai macam tanaman dan cara merawatnya, yang bukan merupakan hal kesukaan Rynn. Dia meletakkannya kembali dengan mengambil buku lainnya di deretan bawah. Buku fiksi yang menceritakan kisah romansa antara pangeran dan putri yang berbeda kerajaan, dibalut dengan masalah internal yang membuat kekacauan tak hanya pada pasangan tapi kerajaan yang mereka tempati-inilah yang ditunggu-tunggu Rynn.
Saat Rynn ingin memulai membaca paragraf pertama, matanya dengan tanpa sengaja melirik pada sebuah buku tua yang diapit oleh buku dongeng anak-anak dan buku panduan menggunakan tongkat sihir. Punggung buku itu coklat berkerut seperti tanah lumpur yang mengering.
Matanya terus memelototi buku itu, hingga api lilin semakin mengecil. “Ambil, tidak, ambil, tidak, ambil, tidak…” gumam gadis itu. Kemudian tekadnya bulat, dan tangannya langsung menarik buku itu dari rak. “Baiklah, rasa penasaran, kau mengalahkanku kali ini.”
Rynn menatap sampul coklat yang penuh akan goresan dan retakan. Pada bagian atas sampul, sebuah tinta putih bertuliskan ‘Sebuah Buku Milik’. Gadis itu membolak-balik buku namun tak menemukan nama pemiliknya. “Milik siapa?” Ia lalu mengambil halaman tengah, dan membuka buku tersebut. Rynn tercengang. Sebuah halaman menampilkan lukisan naga-makhluk bersayap yang menyemburkan api secara detail, dari kerangka hingga telurnya. Lengkap dengan deskripsi dan informasi dari makhluk tersebut yang ditulis dengan tinta hitam biasa. Gadis itu lalu membuka halaman berikutnya, lukisan lain dari kadal hijau yang memiliki sirip layar cantik. “Sepertinya pemilik buku ini sangat menyukai hewan,” gumam Rynn.
Pandangannya lalu beralih pada tulisan di bagian atas halaman. Gadis itu mendekatkan lilinnya agar tulisannya terlihat jelas. “Bebaskan.” Rynn membacanya dengan suara kecil. Ia memejamkan matanya mengharapkan akan terjadi sesuatu, namun tak sesuai ekspetasinya, tak terjadi apa-apa. Ia membalik halamannya berikutnya, dan membaca tulisan itu lagi, dan tetap tak terjadi apa-apa, bahkan Rynn sampai mengulanginya 5 kali untuk memastikan. “Hm, lalu apa maksud dari tulisan itu?”
__ADS_1
Gadis itu menutup kembali buku setelah rasa penasarannya terpenuhi. Saat ingin meletakkannya kembali di tempat, buku itu bergoyang-goyang tak terkendali seperti ingin melepaskan diri. Semakin lama guncangannya semakin liar hingga membuat genggaman gadis itu terlepas. Buku coklat terjatuh di lantai, cahaya biru terpancar terang dari buku itu hingga menyilaukan mata Rynn. Tak hanya cahaya, angin juga berhembus kencang dari buku tersebut. Gadis itu menahan topinya agar tak terbang. Perlahan cahaya itu kembali sirna, meninggalkan cahaya lain yang berasal dari lilin. Sejumlah lukisan hewan di buku tersebut lenyap. Rynn lalu membuka matanya dan samar-samar melihat sebuah figur bayangan kecil merayap di depan gadis itu. Setelah penglihatannya menyesuaikan dengan lingkungan di sekitar, figur itu semakin jelas, yaitu seekor kadal dengan sirip layar biru di punggungnya seperti yang terlihat di buku.
Rynn yang kebingungan, perlahan mendekati kadal itu untuk memastikan apakah itu nyata atau khayalannya. Kadal itu menoleh ke arah Rynn, layar biru yang membentang di punggungnya berganti warna menjadi kuning cerah. Dengan secepat kilat, kadal itu berlari ke luar ruangan dengan kaki kecilnya. Rynn meletakkan topi dan tongkat sihirnya, mengambil buku coklat, lalu mengejar kadal itu hingga sampai di pintu depan. Wajah dingin yang marah menampakkan diri di depan Rynn. “F-Faye!?”
Faye berdiri tepat di depan pintu. Matanya menatap tajam Rynn. “Apa yang kau lakukan?”
Aura kuat yang terpancar dari kemarahan Faye membuat Rynn gemetaran. Rynn lalu menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya. “Eh, aku, itu, um, a-aku hanya.” Suara Rynn terbata-bata. Keringat dingin mengucur di wajahnya.
Faye menyipitkan matanya. Ia menunggu jawaban dari Rynn.
Rynn akhirnya menyerah, dia menghela nafasnya seraya mengeluarkan buku dari punggungnya. “Maaf, tadi pintunya terbuka, dan saat aku masuk ke dalam, aku menemukan buku ini lalu membacanya, hanya membacanya saja.” Gadis itu meringis. “Maaf. Jangan marahi aku.”
Faye meraih buku itu, dan membuka isinya. Kepalanya berdenyut. “Kau telah melepaskan makhluk-makhluk ini.” Gadis itu menunjukkan sebuah halaman dengan lukisan yang kosong, hanya tersisa tulisan deskripsi.
Di lubuk hatinya, Rynn senang mengetahui bahwa ada hal yang ajaib terjadi karenanya, tapi di sisi lain dia merasa bersalah karena telah memasuki ruangan itu dan melakukan seenaknya.
“Faye.” Suara lelaki disertai langkah derap kaki terdengar dari balik pepohonan. Archie dan Ksatria Hitam muncul dan berlari menuju rumah. Nafas mereka terengah-engah. Archie mendekati Faye sambil berusaha mengatur nafas. “Kami tadi melihat sesuatu yang besar berwarna hitam, menggoyangkan dahan pepohonan. Kami tidak tahu apa itu, kami langsung pergi mencarimu.”
“Apa musuh sudah muncul?” tanya Ksatria Hitam, matanya mulai waspada melihat sekitar.
Archie mengamati wajah Rynn yang tertunduk dan Faye yang terlihat kesal. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Faye menghela nafasnya. Ia lalu mengajak mereka semua duduk di kursi untuk menejelaskan apa yang terjadi.
__ADS_1