
Di sisi lain hutan, zirah hitam saling beradu menimbulkan bunyi derak yang mengalahkan keheningan hutan. Lengannya yang besar menyingkap dahan pohon yang lebat. Langkahnya yang berat diikuti oleh langkah kecil di belakangnya. Tubuh Rynn yang lebih kecil bersembunyi di belakang Ksatria Hitam.
Pria itu melirik ke belakang melalui bahunya. “Dari suara dan cahaya biru tadi, sepertinya Faye dan Archie sudah menyelesaikan satu.”
“K-kurasa begitu.” Suaranya yang kecil dan gemetar bertolak dengan suara ksatria yang besar dan gagah. Gadis itu membuka buku coklat yang di pegangnya. Jarinya menelusuri kata per kata. “Menurut buku, makhluk ini menyukai daerah yang dekat dengan sumber air.”
“Kolam sihir terlalu kecil. Kalau begitu sungai.”
Di jalan menuju sungai, mereka menemukan pohon-pohon roboh. Batangnya penyok dan terkoyak seperti tertabrak oleh kekuatan yang sangat besar. Ksatria Hitam juga melihat jejak kaki besar dengan jarak satu sama lain yang lebar. “Makhluk ini berlari dan menabrak apapun yang ada di depannya,” gumam sang ksatria yang meraba-raba jejak di tanah.
Pria itu bangkit dan melirik ke belakang, ia masih melihat Rynn bersembunyi di belakangnya. “Kalau kau takut, kau boleh menunggu di rumah.”
“A-aku tidak takut, aku tetap ikut.” Gadis itu bersikeras. “Lagipula ini kesalahanku. Aku tidak ingin terus-menerus membebani Faye. Aku harus menyelesaikannya, kalau tidak…” Ia menundukkan kepalanya. Suaranya semakin pelan. “Aku akan dibuang untuk kedua kalinya.”
Ksatria Hitam memutar badannya, ia mengelus kepala gadis itu dengan tangan berzirahnya yang berat dan keras. “Kau gadis yang baik, Nona Faye tidak akan membuangmu.”
Mata Rynn bersinar. Meskipun ksatria itu memakai pelindung kepala yang menutupi seluruh wajahnya, Rynn seperti melihat wajah pria itu sedang tersenyum. “Terima kasih, Blackie.”
“Blackie?”
Gadis itu mengangguk, “Lebih mudah memanggilmu begitu daripada Ksatria Hitam.”
Ksatria Hitam menghela nafas. “Aku tidak punya nama asli, tapi kalau kau ingin memanggilku begitu, tak masalah bagiku.”
__ADS_1
Bersama-sama mereka melanjutkan menyusuri semak-semak. Zirah ksatria bergesekan dengan duri tajam dan ranting semak-semak. Rynn yang membuntuti di belakang terlindungi dengan baik oleh ksatria.
Sebuah deruan aliran sungai terdengar jelas, semakin mereka melangkah ke depan. Bulan memantulkan cahayanya ke air sungai, yang membuat sungai bersinar.
Langkah sang ksatria mendadak berhenti. Kepala gadis itu beradu dengan zirah hitam yang keras. “Aduh.” Rynn memegang keningnya yang memerah. Ia menjijitkan kakinya, mencoba melihat apa yang ada di depan. “Ada apa?”
Cahayanya mengalir ke bawah, bersamaan dengan air sungai yang terangkat oleh sesuatu yang besar dari dalam sungai. Semakin lama wujudnya semakin jelas. Kepalanya yang hitam menyembul keluar dari air. Makhluk itu berjalan ke daratan, memperlihatkan tanduk besarnya yang tumbuh di kedua sisi tengkoraknya. Punggungnya dilapisi oleh lapisan keratin keras yang memanjang membentuk seperti perisai.
“Cepat arahkan halamannya!” Perintah sang ksatria.
Makhluk seperti banteng raksasa itu mendengus. Ia menundukkan kepala dan membungkukkan bahunya. Matanya terus menatap sang ksatria di depannya. Ksatria Hitam dan Rynn telah memasuki wilayah teritorinya. Mahluk itu akan melakukan segala cara untuk mengusir pengganggu yang memasuki wilayahnya.
Rynn membolak-balik halaman buku itu dengan panik. Gadis itu melupakan letak halaman untuk menyegel makhluk itu. Jumlah halaman di buku itu lebih dari 100, akan memakan waktu banyak jika mencarinya satu per satu.
“Rynn, makhluk itu datang!” seru pria itu.
Namun, Rynn sibuk dengan kesalahannya. Ia sampai tak mendengarkan hentakan makhluk itu yang semakin dekat. Tanduk hitamnya yang melengkung ke samping segera menuju mereka.
Ksatria Hitam mendekap Rynn dan membanting ke samping. Mereka meluncur ke tanah menghindari tubrukan. Tubuh Rynn mendarat di lengan sang ksatria.
“Kau cari halaman itu, aku akan memancingnya.” Ksatria itu melepaskan Rynn dan bangkit. Ia ingin sekali menggunakan pedangnya, namun dia masih tak bisa menguasai kekuatannya. Faye akan marah jika makhluk itu bernasib sama seperti ular raksasa.
Karena tubuhnya yang besar, makhluk itu tak bisa menghentikkan lajunya dan terus menerjang hingga menabrak pohon yang langsung tumbang.
__ADS_1
Ksatria Hitam melihat sebuah batu raksasa di sebelah kiri di antara semak dan rumput liar yang melingkari batu tersebut. Ia lalu berdiri membelakangi batu. Kakinya menginjak daun ivi yang tumbuh di sekitar batu. Ia menepuk tangannya, sambil meneriakkan kata-kata gertakan untuk memancing makhluk itu menyerangnya.
Makhluk itu berbalik dan merespon tantangan Ksatria Hitam dengan mendengus. Ia menggoyangkan tanduknya. Kakinya mengais tanah bersiap menyerang. Lalu makhluk itu berlari, dan mengarahkan tanduknya ke depan.
Saat waktu yang tepat, sang ksatria melompat ke samping. Banteng itu menabrak batu dengan sangat keras. Dentumannya membuat serangga dan burung terbangun dari tidurnya dan terbang menjauh. Namun sayangnya, banteng itu lebih kuat dari perkiraan ksatria. Batu itu retak dan terbelah menjadi kecil. Retakan-retakannya yang lebih kecil terpental ke mana-mana.
Rynn yang duduk berpangku tumit, melindungi kepalanya dengan lengannya dari retakan batu yang terpental. Gadis itu kemudian berhasil menemukan halaman dengan lukisan yang kosong tersebut. Namun saat melihat Ksatria Hitam sedang berhadapan dengan makhluk itu. Hati gadis itu ciut. Buku coklat tergeletak di pangkuannya. Kedua tangannya terkulai ke samping.
Gadis itu mengingat kembali perkataan sang ksatria dan senyuman yang tersembunyi di balik zirahnya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia juga sudah berjanji pada Faye. Gadis itu bangkit. Ia mengambil retakan batu di dekatnya. Saat Banteng itu bersiap menerjang lagi sang ksatria, gadis itu melemparkan retakan batu tepat di kepala makhluk itu.
Makhluk itu mengalihkan pandangnnya ke Rynn dan berlari ke arahnya.
Rynn membentangkan bukunya ke depan. Buku itu bergetar, lembarannya berderak-derak. Energi sihir keluar dari lembaran disertai cahaya biru, dan menyedot banteng itu perlahan. Angin berhembus kencang, meniupkan daun-daun dan rambut gadis itu. Rynn tak kuasa untuk menahan dorongan energinya terlalu lama. Tangan ksatria meluncur di belakangnya, dan menahan pundak gadis itu. Cahaya biru memudar dan energi sihirnya lenyap. Makhluk itu berhasil terserap kembali dalam buku.
Gadis itu langsung menutup bukunya. Ia terduduk lemas sambil berusaha mengatur nafasnya.
Ksatria Hitam mengulurkan tangannya. “Kita berhasil.”
Wajah Rynn kembali ceria. “Ini semua berkat Blackie.” Ia meraih tangan pria itu.
“Bagaimana dengan selanjutnya?”
Rynn membersihkan debu dari pakaiannya. Ia lalu membuka buku. “Tenang saja, aku sudah melipat ujung halaman untuk hewan berikutnya.” Mata Rynn terbuka lebar. Sebuah ingatan muncul di benaknya. “Aku ingat. Saat di rumah, aku melihat seekor kadal kecil dengan layar biru. Pasti itu salah satu makhluk yang terlepas.”
__ADS_1
“Kemungkinan kadal itu masih ada di sekitar rumah. Ayo kembali ke rumah,” ajak sang ksatria.