The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Pohon Sihir


__ADS_3

Di bawah bulan yang bersinar, pohon besar dengan kulit coklat abu-abu itu tampak layu. Daun-daunnya yang berbentuk sirip berjatuhan di tangan gadis itu.


Faye mengamati daun itu yang terlihat rapuh meskipun berwarna hijau segar. Tangannya meraba kulit kayunya yang layu dan pucat. “Pohon ini sakit.” Wajahnya sayu memandangi dahan pohon di atasnya.


Rynn berdiri di belakangnya, ikut bersedih, “Pantas saja tadi kau bilang kau merasa kelelahan.”


Gadis itu membuka bukunya lagi untuk menyerap Farbelwer yang diturunkan dari tangannya. Cahaya biru muncul disertai energi yang menyerap kadal itu. Semua makhluk yang terlepas akhirnya sudah terserap kembali di buku. Namun, masalah lainnya muncul.


Faye memejamkan matanya. Ia merasakan aliran sihir yang berasal dari pohon ini begitu kacau.


Mengamati pohon-pohon lainnya yang tampak normal, Ksatria Hitam terheran, “Tapi pohon yang lainnya terlihat baik-baik saja.”


“Pohon ini berbeda,” kata Faye, lalu menyandarkan keningnya di batang pohon. “Ini adalah pohon yang mengandung sihir. Tercipta akibat ramuan sihir Ibuku yang tak sengaja terserap oleh akarnya.”


Gadis itu merasakan pohon itu melemah, seperti orang sakit yang terbaring tak berdaya di ranjang. Angin dingin menghembus daun yang bergoyang di udara dan wajah gadis itu, menyampaikan pesan bahwa pohon itu memerlukan bantuannya segera mungkin.


“Pohon ini menghasilkan sumber energi sihir untuk seluruh hutan. Karena aliran sihirnya kacau, itu menjelaskan bagaimana pintu bengkel sihir Ibuku terbuka dengan sendirinya. Pintu itu memerlukan energi sihir terus menerus untuk menjaga segelnya tetap aktif,” lanjut gadis itu.


Segel sihir di bengkel sihir memiliki konsep yang sama dengan simbol pelindung di pohon. Kedua sihir itu memerlukan pasokan energi sihir terus menerus agar awet dan tetap berfungsi.


Rue seketika melemah di bahunya, tak kuasa menahan berdiri. Faye mengangkat burung itu dan mendekapnya erat. “Aku dan Rue ikut merasakan dampaknya, namun karena Rue hasil ciptaan sihir Ibuku, dialah yang paling merasakan. Rue dapat hidup dengan adanya sumber sihir.”


“Memang benar, walaupun samar, aku selalu merasakan energi sihir keluar dari pohon ini. Apakah ada cara untuk menyembuhkan pohon ini?” tanya Archie.

__ADS_1


Faye menggelengkan kepalanya. “Aku tak tahu. Ini tak pernah terjadi sebelumnya,” suara gadis itu melemah.


Tangan lelaki itu menahan dagunya. Matanya larut dalam pikirannya. “Bagaimana kalau sihir penyembuhan? Bukankah sihir itu berlaku untuk semua makhluk hidup?”


Mata biru Faye berkilau. “Mungkin saja.” Sambil memeluk Rue, gadis itu lalu menekan batang pohon dengan telapak tangan kanannya. Cahaya putih menerangi sela-sela jarinya yang tertutup rapat. Energi sihir yang dapat menyembuhkan luka terkumpul pada telapak tangannya dan perlahan tersalur pada pohon itu.


Ksatria Hitam berdiri di sebelah Archie, melipat tangannya. Semua orang menunggu hasilnya dengan sabar.


Faye berbalik, kepalanya menunduk lalu bergeleng. “Sihir penyembuhan memang bekerja tapi membutuhkan waktu yang lama dan energiku tidak akan cukup untuk itu,” ungkapnya.


Daun masih berguguran dari dahan, dan salah satu dahan bahkan menimbulkan bunyi bekertak. Rynn melangkah maju, wajahnya yang cerah tampak seperti membawa harapan. “Kolam ajaib!” kata gadis itu. “Kolam itu bisa menyembuhkan luka, bukan? Airnya juga segar dan selalu membuat kulitku tampak cerah, meskipun dingin.” Gadis itu tersenyum seraya memijat pipinya yang lembut.


Sebelum Faye menjawabnya, gadis yang energik itu melesat pergi ke rumah.


Rynn masuk kembali ke dalam bengkel sihir, mengembalikan buku di rak dan menutup pintunya dari luar. “Maafkan aku, Ibunya Faye, karena telah memasuki tempat ajaib ini diam-diam dan telah melakukan hal yang bodoh.” Gadis itu membungkuk di depan pintu, lalu menuju halaman. Rynn dan Ksatria Hitam mengambil ember kayu yang terletak di halaman sebelah kiri di antara bunga heather berwarna ungu dan bunga lily. Setelah mengambil ember tersebut, mereka bergegas menuju kolam, dan mengisi ember dengan air kolam ajaib tersebut.


“Kami kembali,” sapa Rynn berlari membawa seember air kolam ajaib yang tumpah-tumpah karena guncangan. Di belakangnya, Ksatria Hitam muncul juga membawa seember air kolam.


Gadis itu lalu mengayunkan embernya ke arah pohon dengan kuat. Seluruh air di ember itu menciprat pangkal pohon dan terpecah ke segala arah, sebagian mengenai jubah Faye dan sebagian lagi ke tanah “Hei, pelan-pelan!” geram Faye sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang dan memeluk erat Rue yang terlelap untuk melindunginya dari cipratan.


Archie menyambar ember Rynn. Air kolam sudah terbuang semua, hanya tersisa tetesan air yang mengumpul di pinggiran ember. “Dasar. Kau mau menyiram pohon atau membangunkan orang tidur?” kata lelaki itu jengkel.


Rynn mengusap kepala belakangnya. “Maaf.”

__ADS_1


Ksatria Hitam berjalan ke samping Archie. “Tenanglah, masih ada punyaku.” Ksatria itu lalu menuangkan airnya perlahan di pangkal pohon, lalu ke tanah di pinggirnya hingga tetesan terakhir. Perlahan, air menyerap ke tanah dan ke batang pohon, meninggalkan bekas basah di tempat.


Rynn terdiam menunggu. “Apakah berhasil?”


Faye memejamkan matanya mencoba merasakan sesuatu. Hembusan angin menyeliputi udara di sekeliling Faye. Perlahan aliran energi tak kasat mata bergerak dengan lembut, naik dan turun menjadi gelombang. Sensasi dingin mengalir di tubuh gadis itu seperti obat yang disuntikkan. Tubuhnya kembali segar, begitu pula Rue yang terbangun dan menguak kecil di pelukan gadis itu. “Berhasil.” Gadis itu mengangguk, lalu membuka dekapannya, dan Rue terbang berpindah di dahan pohon.


Rynn mengamati daun pohon yang berjatuhan, jumlahnya berkurang dari sebelumnya. Ia dan Ksatria Hitam bernafas lega.


Sementara Archie yang sudah lelah memegang punggung lehernya sambil menekuknya ke kiri dan kanan. “Baiklah, sudah selesai. Waktunya pulang. Pasti besok bakal bangun siang.”


Archie, Rynn dan Ksatria Hitam berbalik dan menuju rumah. Sementara Faye di tempat, memandangi pohon itu. Langit malam perlahan pudar, warna cerah perlahan mengisi perannya menghiasi langit. Gadis itu lega, mulutnya melengkung membentuk senyuman tipis. Pohon itu sudah menjadi tempatnya untuk memandangi bulan selama beratus tahun. Matanya beralih pada dahan yang besar. Dahan yang cukup tinggi hingga terasa seperti duduk di depan bulan. Dahan itulah yang membuatnya terasa lebih dekat dengan bulan, terasa lebih dekat dengan ibunya. Ia tak tahu lagi, jika pohon itu tak ada. Selain sumber energi sihir yang menyusut, waktu menikmati bulan akan terasa jauh berbeda. Dirinya akan semakin menjauh dengan ibunya.


Gadis itu lalu menyusul teman-temannya, kembali ke rumah. Faye mendapatkan Ksatria Hitam yang membukakan pintu untuknya dari dalam. Ksatria itu membungkuk. “Selamat datang ke rumah, Nona Faye.”


Faye melangkah masuk. “Tak perlu formal begitu.” Ia lalu menarik kursi di bagian kiri meja dan duduk. “Apa yang lainnya sudah tidur?” tanya gadis itu.


“Saat sampai di rumah, mereka segera ke kamar masing-masing dan tidur,” kata sang ksatria.


Gadis itu mengamati pintu di depannya. Pintu kayu hitam sudah tertutup rapat. Energi sihir sudah menyegel pintu tersebut. “Setelah semua yang terjadi, tentu saja mereka kelelahan.” Gadis itu melirik ke Ksatria Hitam yang berdiri di dekat pintu. “Apa kau tak kelelahan?” Mata gadis itu berat dan kepalanya berulang kali hampir terjatuh.


“Tidak, Nona Faye. Aku sudah terbiasa,” kata ksatria itu sigap.


Faye tak kuasa menahan kantuknya. Ia menyandarkan kepalanya yang terjatuh di meja dengan lengannya. “Aku tak kuat lagi. Kalau kau ingin beristirahat, jangan memaksakan diri.” Ia pun seketika lelap dalam tidurnya.

__ADS_1


“Baik.” Ksatria itu naik ke lantai atas. Mengambil selimut merah tua di kamar dengan pintu berukiran pedang. Ksatria Hitam lalu menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut tersebut. “Selamat tidur, nona.”


__ADS_2