
Terenna menyikut perut lelaki itu. “Hei, bagaimana dengan ceritamu?”
“Cerita apa?”
“Kemana saja kau selama ini?”
Archie tersenyum. “Ceritanya panjang dan itu terjadi begitu saja,” katanya. “Ngomong-ngomong, apa Nona Terenna tahu cara menyembuhkan penyakit pada tanaman? Mungkin lebih tepatnya pohon. Pohon milik temanku terlihat sakit.”
“Tentu saja. Aku sudah banyak meneliti tanaman, tapi, Archie, tak semua penyakit tanaman dapat disembuhkan dengan cara yang sama.”
Archie terdiam.
“Seperti apa ciri-ciri penyakitnya, apa ada gejala khusus seperti daun yang terbakar sendiri, atau tumbuh benjolan di batangnya, dan apa jenis tanamannya?” Terenna mengerjapkan matanya. “Apa jangan-jangan jenis baru?”
“Ya, daunnya rontok, kulitnya pucat, dan energi sihir yang mengalir berkurang,” kata Archie sambil mengingat ciri-ciri pohon yang sakit.
Terenna melirik ke sebuah gulungan yang ujungnya timbul di saku lelaki itu. “Apa itu?” Tunjuk wanita itu.
Archie yang pasrah, menarik gulungan tersebut dan menunjukkannya pada Terenna. “Ini perkamen tentang Pohon Perak.”
“Pohon Perak?” Wanita itu terkejut. Ia lalu merampas perkamen itu dari tangan Archie. “Oh, jadi alasanmu ada disini untuk membuat obat ini.”
Archie mengangguk. “Seperti yang nona pikirkan.”
“Obat ini hanya berguna untuk Pohon Perak saja. Memangnya tanaman seperti apa, hingga Putra Keluarga Lanvinder menganggap kalau obat ini akan berhasil?”
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” kata Archie.
“Kalau begitu, biar kulihat sendiri saja tanaman itu. Aku juga masih ada waktu luang.” Terenna membuka tas selempangnya yang berisi banyak gulungan, botol ramuan, rumput kering yang diikat, tulang hewan-hewan kecil dan benda aneh lainnya. “Lihat, aku selalu membawa persiapan kemanapun aku pergi.”
__ADS_1
Archie tertawa kecil. “Nona Terenna memang selalu penuh persiapan ya.”
“Tentu saja. Kalau tidak, aku tidak mungkin menjadi Penyihir Kerajaan.” Terenna memakai topi runcingnya lagi dan bangkit. Tasnya berayun dari pangkuannya ke samping tubuhnya. Wanita itu menepuk jubah dan roknya dari debu. “Cepat, tunjukkan jalannya, kalau kelamaan penyakitnya akan semakin parah. Kau tak mau kan temanmu terus bersedih karena tanamannya mati?” ucapnya penuh semangat. Pengalamannya dengan berbagai tanaman, membuat dirinya yakin dapat membantu muridnya.
Sebuah harapan muncul. Dengan bantuan Terenna Sang Penyihir Kerajaan, Pohon Sihir itu pasti bisa tersembuhkan. Archie bangkit mengikuti wanita itu. “Sebenarnya temanku sepertinya tak terlalu menyukai dengan orang luar. Tapi jika itu akan membuatnya bahagia, maka aku dengan senang hati menerima bantuan nona.” Lelaki itu membungkuk di depan Sang Penyihir Kerajaan.
“Temanmu pasti bangga denganmu.”
“Tapi sebelum itu, ada yang harus kuceritakan pada Nona Terenna terlebih dahulu.” Archie menatap mata Terenna dengan serius.
Archie lalu menjelaskan dibalik semua ini sesuai dengan apa yang dia paham, yang berpusat pada Hutan Burung Hantu. Alasannya meninggalkan kota, dan mencari jawaban di hutan legenda tersebut. Pertemuannya dengan gadis bermata biru dan beban yang dibawa gadis itu yang merupakan putri Sang Penyihir Agung, serta jawaban dari segala kemisteriusan orang-orang yang kehilangan ingatannya dan sebuah Pohon Sihir. Tapi beberapa ceritanya memiliki lubang-lubang yang tak terisi, masih ada rahasia dari sang gadis yang terkubur dalam dan Archie membiarkannya, karena ada rahasia-rahasia yang memang seharusnya tak diketahui siapapun.
Sebagai seorang yang berambisi untuk mengalahkan Saulmandria dan memecahkan rahasia hutan, wanita itu diam mematung ketika jawabannya datang sendiri kepadanya. Pikirannya berusaha mencerna segala informasi yang diucapkan dari mulut Archie. “Jadi begitu.” Wanita itu menyeringai. “Setelah kau memberitahu segalanya, aku semakin tak sabar untuk bertemu langsung dengan gadis yang membuat Tuan Saulmandria ketakutan.” Terenna mengangkat keranjang bunganya di sisi tubuhnya.
“Jangan melakukan hal yang aneh dan bicara tentang penelitian. Dan juga, tolong, jangan katakan pada siapapun termasuk raja,” kata Archie tulus memohon pada sang penyihir.
“Tenang saja, aku akan menahan diri, lagipula ada tugas yang harus kuselesaikan.”
Mereka lalu sampai di depan hutan gelap dan suram. Hembusan angin dingin melewati seluk-beluk pepohonan dan membelai wajah Archie dan Terenna.
“Aku tak pernah berada sedekat ini dengan Hutan Burung Hantu,” ucap Terenna yang memandangi pepohonan dari luar. “Memang benar aliran sihir di hutan ini kelihatan tak baik-baik saja. Tapi, aliran sihirnya menolak untuk kurasakan lebih dalam, seperti hidup dan hanya mematuhi satu orang saja.”
“Baiklah, Nona Terenna tunggu disini terlebih dahulu, aku akan berbicara kepadanya, bisa gawat kalau dia marah,” ujar Archie.
Terenna tersenyum dan mengangguk.
Di depan pagar coklat yang tersusun dari kayu ek yang di potong rapih dan ujungnya lancip, Faye berdiri di depan rambatan tanaman yang batangnya melilit erat di antara pagar. Di antara kegelapan, mata gadis itu bersinar terang seperti berlian, kerlap-kerlipnya seperti bintang biru yang berpijar di langit malam. Lengkap dengan jubah burung hantunya, gadis itu memetik sebuah Bunga Bulan berukuran sedang yang mengatup. Di tangan kirinya, memegang erat sejumlah Bunga Bulan yang sudah dipetik.
“Faye,” panggil Archie, berdiri lima langkah dari gadis itu.
__ADS_1
“Sudah kembali?” Gadis itu memutar tubuhnya menghadap Archie. “Maaf tentang sebelumnya. Ini pertama kalinya aku tak bisa menyelesaikan masalahku, karena itu aku marah.”
Archie tersenyum simpul. “Tak apa, aku juga minta maaf karena telah memaksamu.” Pandangan Archie mengamati ke sekeliling. “Ngomong-ngomong, dimana Rynn?”
Faye melemparkan pandangan ke dalam rumah. “Dia di dalam, sedang menyiapkan mangkuk dan air untuk obat.”
Lelaki itu mengusap belakang kepalanya. “Soal itu…” Pandangannya beralih, menghindari tatapan Faye. “Ada hal yang harus kukatakan padamu.”
“Apa kau tak mendapatkan bunga mataharinya?”
“Bukan, kalau itu aku sudah menemukannya.”
“Lalu?”
Archie menarik nafas dalam-dalam. “Maaf, kau benar, sebaiknya kita tidak membuat obat ini.”
Faye mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu? Bukankah kau yang bersemangat membuat obatnya meskipun tahu itu tidak akan berhasil.” Gadis itu menghela nafasnya. “Tenang saja, aku tak akan marah. Mau bagaimanapun, obat ini tak akan bekerja. Sudah saatnya untuk mengucapkan perpisahan pada Pohon Sihir.” Faye berbalik.
Sebagian kepala menyembul keluar dari balik jendela dapur. Mata Rynn mengamati dengan seringai jahilnya, tanpa Faye dan Archie sadari.
“Tunggu, aku ada satu cara, tapi mungkin kau tak menyukainya.”
Langkah gadis itu terhenti, melirik Archie melalui bahunya.
“Nona Terenna, maksudku kita perlu membutuhkan bantuan dari orang luar. Nona Terenna ahli dalam bidang tanaman, jadi dia pasti bisa menyembuhkan penyakit pohon sihir. Ia adalah orang yang hebat dan juga guru yang kuhormati,” ungkap Archie.
Faye terdiam. Jantung Archie berdegup kencang, seperti menghadapi maut. Keringat dingin menetes di wajah lelaki itu, ia sudah menyiapkan dirinya untuk mendapatkan hukuman. Archie akan lakukan apapun yang Faye inginkan agar bisa membuat senyuman gadis itu kembali, termasuk meninggalkan hutan ini.
Sebuah senyuman yang sama sekali tak terpikirkan oleh lelaki itu, tergambarkan di wajah Faye. “Baiklah, biarkan dia masuk.”
__ADS_1
Archie yang kebingungan, bertanya, “Kau tak marah?”
“Tidak, karena aku ingin percaya padamu.”