The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Takdir Sang Putri Penyihir


__ADS_3

Nael kembali dari perjalanannya menemui Raja Erlobad. Dia membawakan oleh-oleh untuk putrinya berupa jubah hitam dengan tudung yang menyerupai kepala burung hantu serta dua bulu panjang yang menghiasi bagian kepala. Pada bagian bawah jubah dibuat meruncing seperti sayap burung. Jemari Faye menikmati setiap jahitan halus yang dibuat senyaman mungkin. “Jubah itu cocok denganmu,” kata Nael senang saat melihat putrinya memakai jubah tersebut.


Keesokan harinya, di suatu pagi yang cerah, Faye membawa secangkir teh hangat dan mengantarnya ke bengkel sihir Nael. Di ruangan yang gelap, hanya ada cahaya lilin yang samar-samar menerangi sudut ruangan. Faye mengitari sebuah rak penuh buku, menuju meja dimana Nael sibuk melakukan sesuatu.


“Apa Ibu tak enak badan?” tanya gadis itu saat melihat ibunya memijat keningnya.


“Oh Faye?” Wanita itu langsung meletakkan sebuah permata dalam kotak kayu. Dia mencondongkan tubuhnya agar Faye tak sempat untuk melihat. “Tak apa. Ibu hanya terlalu banyak berpikir.” Dia lalu meregangkan tangannya dan memutar lehernya. “Tolong pindahkan botol ramuan itu di rak sebelah sana.” Jarinya menunjuk ke rak kayu yang terpasang di dinding.


Faye mengambil sebuah botol dengan cairan berwarna biru terang, lalu meletakkannya di rak kayu. Ramuan itu mengandung energi yang sama dengan permata yang disembunyikan Nael dari Faye. Nael membuat permata dan ramuan itu bukan tanpa alasan.


Saat Nael menarik nafas, dia mencium aroma kayu terbakar yang menyusup masuk ke dalam ruangan. Jantungnya berdegup kencang. Wanita itu langsung berlari ke ruang depan. Matanya mengamati sekitar, mencoba menemukan sesuatu. Lalu berlari menuju dapur, tapi tak ada satupun di rumahnya yang menyiptakan aroma tersebut. Tungku masak dan perapian pun sudah dipadamkan jauh sebelum bau terbakar itu muncul. Nael bernafas lega.


Tapi aroma itu masih menusuk hidungnya, dia pun keluar rumah disusul putrinya. Mata mereka membelalak. Mulut mereka tak bisa berkata-kata saat pemandangan lautan api bak neraka melalap Desa Harapan. Teriakan minta tolong terdengar di penjuru desa. “Apa yang terjadi?” suara Faye bergetar. Dia terduduk lemas.


Pandangan Nael tertuju pada sejumlah warga yang terlihat menggunakan sihir mereka untuk melawan sesuatu. Beberapa warga lainnya berusaha memadamkan api dan yang lainnya menolong orang-orang yang terjebak. Dia menyipitkan matanya. Sebuah panji-panji bergambar naga berkepala lima terungkap saat angin menyapu asap yang menghalangi penglihatannya. “Tenebrum!?” Wanita itu menggeram. “Raja sialan itu!”


Sekelompok prajurit menyerang dan membunuh warga desa, menghancurkan rumah mereka, dan kebun mereka yang cantik hancur terinjak-injak. Perlawanan sengit timbul antara warga desa yang telah menguasai sihir dan prajurit Tenebrum. Dengan semangat juang yang tinggi dan kemampuan sihir yang hebat, mereka berhasil memukul mundur prajurit musuh. Beberapa prajurit mengacir kemana-mana, menghancurkan formasi mereka sendiri.


Dibalik api yang berkobar tinggi, seorang prajurit dengan mantel merah menembus kabut abu dan membenamkan pedangnya pada para warga satu persatu. Prajurit bermantel merah lainnya muncul dan ikut membereskan. Kemampuan mereka begitu hebat, hingga para ahli sihir desa kewalahan.


Di atas bukit, Nael melihat sosok dibalik serangan kejam tersebut, sosok yang memerintahkan mereka, adalah Raja Erlobad. Dia mengepalkan tangannya. Wajahnya terlihat mengerikan saat marah. Amarah meluap-luap, tekanan kekuatan terpancar kuat dari tubuhnya yang membuat leher Faye bergidik.


Nael memanggil sapu sihirnya dari ketiadaan. “Faye, Ibu pergi dulu.” Dia terbang melesat dengan sangat cepat hingga mengoyak rerumputan dan meninggalkan retakan di tanah.


Faye terdorong akibat angin yang menerbangkan ibunya. Tangannya masih gemetaran. Dirinya bingung dan khawatir, tidak tahu harus melakukan apa. Tapi dia akan menyesal jika hanya diam saja dan tak berbuat apa-apa.


Di udara, Nael melompat dari sapunya dan menghantam tanah dengan kekuatan yang luar biasa. Dia menyentuhkan tangannya ke tanah, cahaya biru muncul lalu menciptakan gelombang air yang menyebar untuk meredamkan api, gelombang air yang melewati warga dan menutup pendarahan mereka. Warga yang masih selamat segera melarikan diri sejauh mungkin. Bukit Harapan mungkin bukanlah keputusan yang bijak untuk mengamankan diri, apalagi putri sang penyihir tidak memiliki kekuatan sihir untuk melindungi mereka.


Seorang prajurit mantel merah dengan rambut putih panjang yang terurai muncul di hadapan Nael. Senyumannya selicik ular. “Salam kenal, Penyihir Agung. Aku-”


Nael menerbangkan sapunya ke arah pria berambut putih itu sebelum menyelesaikan ucapannya. Ujung gagang sapu mendorong tubuh pria itu hingga terpental ke rumah warga. Prajurit bermantel merah lainnya datang untuk menyerang Nael, namun Nael sama sekali tak kesulitan melawan mereka.


Raja Erlobad dengan angkuhnya mendatangi Nael yang tengah sibuk bertarung. “Kita bertemu lagi, Nyonya Venefika.”

__ADS_1


“Raja Erlobad! Kenapa kau melakukan ini!?”


“Ini karena kau menolak membantuku membuatkan permata sihir. Kalau kau membuat permata sihir untukku, maka ini tidak akan terjadi.”


Wanita itu menggeram. “Permata itu memiliki kekuatan yang tak boleh dimiliki oleh siapapun. Kekuatan yang besar terlalu berbahaya dimiliki olehmu.”


“Bagaimana dengan kekuatanmu? Bukankah kau pernah bilang tak baik untuk menguasai kekuatan besar untuk diri sendiri? Aku percaya kau pasti tak mengajarkan semua ilmu sihir yang kau miliki pada orang-orang.”


Nael terdiam. Perkataan Raja Erlobad salah, Nael hanya mengajarkan sebagian kekuatannya bukan karena dia ingin menguasai untuk dirinya sendiri, tapi karena manusia tak mampu untuk melewati kapasitasnya.


“Jika kau ingin menghadapiku, kau tak perlu melibatkan warga desa.”


“Tidak, warga desa adalah pengorbanan kecil untuk kekuatan yang besar. Setelah aku mendapatkannya aku akan menjadi raja dunia ini.” Raja Erlobad mengangkat pedangnya ke udara, menunjuk langit.


“Karena itulah, aku tak bisa membiarkanmu memiliki Permata Sihir. Jika kau berani mengotori tanah dimana putriku tinggal, akan kubunuh kau!”


Pria itu lalu mengangkat pedangnya ke depan. Puluhan prajurit Tenebrum berlari menuju Nael dengan senjata bersiap di tangan mereka.


“Ck.” Nael mendecakkan lidahnya. Dia mengumpulkan energi sihir di kedua tangannya. Cahaya merah panas perlahan berkumpul. Lalu Nael menepuk ke depan ke arah musuh, gelombang api yang sangat panas meletup dahsyat dari tangannya, membakar prajurit yang berada di depan hingga menjadi abu.


Nael seharusnya dapat melepaskan diri dari rantai itu dengan kekuatannya, namun sihir rantai yang mereka gunakan tersebut menyerap energi sihir dan tenaga Nael dengan jumlah yang besar hingga membuatnya terjatuh lemas. “Kekuatan ini?” Nael melirik ke pria yang ada di tengah, dia tak bisa melihat wajahnya karena tertutup tudung. “Bagaimana kau bisa memiliki Permata Roal?”


Permata Roal adalah salah satu dari 9 Permata Sihir. Permata itu dapat menyerap kekuatan lain dan menyimpannya.


Pria itu hanya menyeringai, tak menjawabnya.


Raja menghampiri Nael yang tak berdaya. Wanita itu hampir tak bisa mengeluarkan sihirnya karena rantai tersebut. Di kejauhan, gadis berambut hitam berlari kearahnya dan berteriak, “Ibu!” Dia berhenti saat matanya terpaku pada kengerian di depannya, sebuah pemandangan neraka yang sesungguhnya. Bunga dan rumput bermandikan warna merah. Api yang membakar rumah-rumah. Tubuh-tubuh yang sudah tak berbentuk lagi wujudnya bergeletakkan di seluruh tempat. Gadis itu menahan mulutnya yang hampir muntah dengan tangannya.


“Faye? Jangan kesini.”


Raja menangkap Faye, dan lengannya melilit tubuh gadis itu yang gemetar. Erlobad mengarahkan pedangnya di leher Faye, “Jadi ini putrimu yang tidak bisa menggunakan sihir itu? Tak kusangka Penyihir Agung memiliki anak yang cacat sepertimu.”


Nael berusaha melepaskan lengannya. “Beraninya kau menyentuh putriku, Erlobad!” Amarahnya terkumpul mengisi tenaganya. Dia menghancurkan rantai yang mengikat dirinya lalu melesat mengarahkan tangannya ke kepala Erlobad. Nael lalu mendorong kepala Erlobad hingga menghantam tanah dengan keras yang membuatnya tewas seketika, namun Nael tak bisa menghindari sebilah pedang lancip dengan gagang emas yang menembus perutnya. Dalam detik-detik terakhirnya Erlobad berhasil menusuk Nael. Jantung Faye berhenti berdetak saat melihat darah mengalir deras dari perut Ibunya, dan mulut Ibunya memuntahkan banyak sekali darah. Nael perlahan menghampiri Faye dengan terhuyung-huyung. Faye langsung berlari menolong Ibunya, lalu dia membaringkan Ibunya di pangkuannya. “Faye kau harus lari dari sini.” Wanita itu meringis.

__ADS_1


“Aku tak mau. Aku ingin bersama Ibu,” ucap Faye dengan air mata yang membanjiri wajahnya.


Nael tersenyum. “Kau memang suka menempel pada Ibu.”


Nael lalu memunculkan sebuah cahaya sihir yang memindahkan dirinya dan Faye dalam sekejap ke bengkel sihirnya di dalam rumah. Faye merobek jubah Ibunya lalu menekan lukanya agar darah tak semakin keluar. Nafasnya lemah, dan matanya pucat.


“Faye, tolong ambil kotak kayu di atas meja Ibu. Ambil isinya dan bawa kesini.”


Faye membaringkan tubuhnya ibunya secara perlahan di lantai, lalu dia langsung menuruti perintah ibunya, dia langsung segera mengambil kotak itu yang berisi sebuah kalung dengan permata biru gelap. Segelap malam namun seterang bulan. Hati Faye berharap jika ini adalah cara untuk menyelamatkan ibunya. Dia tidak menanyakan apapun, tidak mengeluh apapun. Jika kalung ini dapat membantu ibunya, maka dia harus menuruti ibunya. Faye lalu duduk berpangku tumit di sebelah Nael dan memberikan kalung itu.


Nael mendekap kalung itu ke dadanya. Cahaya keemasan muncul dan memenuhi kalung lalu lenyap. “Bagaimana? Apa luka Ibu sudah sembuh?” tanya Faye penuh khawatir.


Wanita itu mengerang. Darahnya semakin merembes keluar. Faye merobek kain jubah lagi. Dia menambah kain untuk menekan luka seraya melihat sekeliling mencari benda lain yang bisa digunakan. “Apa yang terjadi? Kenapa luka Ibu semakin parah?” Gadis itu panik. “Apa sihirnya tak bekerja?” Air matanya menetes dan menyatu dengan genangan darah di lantai.


Nael tersenyum pucat. Tangannya menyentuh pipi basah gadis itu. “Selamat ulang tahun, Faye. Ini adalah hadiahmu saat kau nanti berumur 17 tahun. Permata ke 10. Lebih baik Ibu berikan sekarang saja.” Dia lalu memasangkan kalung itu pada leher putrinya.


Nael menciptakan permata terakhir itu hanya untuk putrinya, Permata ke 10, Permata Venefika. Sesuai namanya, Nael menyalurkan energi sihirnya ke permata tersebut. Permata yang membuat penggunanya dapat menggunakan sihir, selemah dan sekecil apapun penggunanya. Dengan ini, Nael telah mengabulkan keinginan terdalam putrinya yang telah lama terkubur dalam kesedihan dan keputusasaan, yaitu bisa menggunakan sihir.


Gadis itu kebingungan. Dia menekan isaknya. “Aku tidak peduli dengan hadiah ulang tahun. Luka Ibu bagaimana?”


“Ibu sudah kehabisan energi sihir.” Tangan wanita itu menyapu air mata yang mengalir deras di wajah putrinya. “Tak apa-apa Faye, tetap hiduplah. Ibu sudah menandai lokasi untukmu berteleportasi. Segera larilah dari sini. Lindungi permata itu, apapun yang terjadi jangan sampai mereka memilikinya.” Tubuhnya dingin seperti es, tapi darah yang meresap ke rok gadis itu hangat. “Semua pasti akan baik-baik saja, Faye.”


“Jangan pergi, tetaplah disini. Bagaimana dengan janji Ibu?” Suara Faye terpotong tangisannya, lemah dan kecil. “Ibu akan selalu menikmati bulan bersamaku, kan?”


Tangan wanita itu perlahan lemas dan akhirnya terjatuh. Matanya menutup, dan dia pun menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Tubuh Nael perlahan menghilang menjadi butiran cahaya yang menghangatkan, dan berakhirlah hidup sang Penyihir Agung. Lenyap dalam dekapan putrinya. Menyisakan kalungnya sebagai kenangan terakhirnya.


Suara tangisan dan tetesan air mata memenuhi ruangan yang gelap itu. Gadis kesepian yang malang tersebut meremas roknya, menahan rasa sakit di hati kecilnya. Ketika tetesan terakhir jatuh ke lantai rumah, cahaya biru muncul dari kalung yang dipakainya. Dalam sekejap mata, gadis tersebut dan seisi rumah berteleportasi dan mendapatkan dirinya di sebuah hutan yang jauh nan asing. Guncangan yang hebat selama proses teleportasi membuat perabotan rumah dan benda-benda kecil jatuh berantakan. Botol yang menampung ramuan biru jatuh dan pecah, mengalirkan cairannya ke dalam tanah hingga tercampur dengan kolam air dan menjadi kolam ajaib yang terkenal. Cairan biru tersebut juga diserap akar sebuah pohon besar.


Sementara sang gadis tak sadarkan diri, beristirahat setelah menghadapi hal yang menyakitkan. Gadis itu bermimpi, mimpi yang sangat panjang. Mimpi dimana dia dan ibunya bersama di dunia putih dan indah. Bahagia bersama tanpa mengenal rasa lelah, tanpa mengenal waktu, dan tanpa mengenal kenyataan. Lalu muncul sebuah cahaya kecil berwarna putih yang dengan sekejap memanggil gadis itu yang tertidur. Akhirnya gadis itu pun terbangun dari penjara mimpinya. Cahaya putih yang memanggilnya adalah Rue, seekor Burung Hantu Putih yang bertengger menatapnya di atas meja. Dari dalam tubuhnya, gadis itu merasakan energi besar yang mengalir. Aliran energi itu muncul saat dia mengenakan kalung pemberian Ibunya.


Gadis itu berubah, kembali ke dirinya yang kesepian. Wajahnya dingin dan air matanya mengering. Dia bangkit dan pergi dari ruangan gelap itu, memakai jubah hitam pemberian ibunya, lalu dia melangkah keluar dari rumah dengan tangan kecilnya yang mendekap kalung permata di lehernya. “Aku akan menjaganya.”


Malam yang begitu dingin, sunyi dan sedih. Tak tahu harus bagaimana, saat merasa satu-satunya jiwa di alam bebas ini. Ditinggalkan satu-satunya harapan, ditinggal sendirian oleh orang-orang yang memiliki ikatan darah dengannya. Meski dia tertidur sekali lagi, kebahagiaan yang dia dapat dari mimpinya, sama hampanya dengan hatinya saat ini.

__ADS_1


Melayang di antara bintang-bintang, tepat di atasnya, bulan ikut berduka cita atas kepergian kerabatnya. Saat bulan bersumpah untuk menerangi malam, tak banyak yang bisa ia lakukan selain memberikan ketenangan. Cahaya yang ia pancarkan lebih terang dari biasanya, tak akan pudar oleh apapun dan terus menaungi warisan berharga di bawahnya. Gadis itu pun beranjak, berusaha untuk merelakan dan memandangi sang bulan di langit malam dengan burung hantu putihnya yang setia.


__ADS_2