
Seorang ksatria dengan baju pelindung berlapis perak dari tanah yang jauh, berkelana tanpa henti mencari pertolongan. Kerajaan Aramor yang dia layani akan hancur akibat perang yang dari awal tidak bisa dimenangkannya.
Kota Grandell berdiri kokoh di utara Livadia. Dinding batu yang tebal, mengelilingi dan melindungi bangunan dan kastil yang berdiri diatas bukit. Sejumlah kincir angin menjulang di dalam maupun di luar dinding. Di belakang kota persis mengalir sungai dari Laut Elythia yang menjadi salah satu sumber kehidupan penting kota. Meskipun dipimpin oleh raja yang sudah sangat tua, dibawah pimpinannya membuat kerajaan menjadi makmur dan sejahtera.
Sang raja sangat mencintai rakyatnya, dia melakukan segala cara untuk dapat menyejahterakan rakyat Aramor. Namun, di akhir hidupnya dia tak bisa menyelamatkan kerajaan dan rakyatnya. Suatu hari, Tenebrum menyerang Ibu kota Aramor, Grandell tanpa peringatan satupun. Bahkan tak ada kabar yang datang dari penjaga perbatasan. Pasukan Aramor tak bisa menahan serangan tiba-tiba yang dahsyat. Di bawah panji-panji bergambar naga berkepala lima, pasukan Tenebrum yang berjumlah ribuan menyerbu Grandell bahkan di siang hari yang bolong. Raja Aramor berjuang bersama pasukan dan ksatria kepercayaannya yang memakai zirah perak.
Meskipun sang ksatria melayani kerajaan terkecil di Livadia, ia tak takut dengan kekuatan besar pasukan Tenebrum. Kehebatan sang ksatria ditunjukkan saat dia mengacaukan formasi depan musuh dengan kudanya seorang diri. Tetapi karena jumlah pasukan yang tak sebanding membuat sang Ksatria Perak kewalahan. Pasukan musuh berhasil menjebol benteng dan menyerang warga sipil yang tak sempat mengungsi. Ksatria Perak yang merupakan pemimpin ksatria menyuruh pasukannya untuk mundur dan melindungi para warga. Rumah-rumah warga pun hancur tak bersisa akibat ketapel musuh, seluruh kota di lalap api yang besar, juga membakar mayat warga hingga menjadi abu. Sang ksatria berlari saat melihat rajanya terpojok dalam pertempuran dengan salah seseorang dari pasukan musuh yang mengenakan mantel merah.
“Yang Mulia!” Ksatria Perak dengan cepat menangkis pedang yang hampir menghabisi sang raja.
Saat dia menahan pedang tersebut, dia merasakan pedang musuh sangat berat hingga tangannnya tak kuat lagi memegang pedang. Dia lalu mengayunkan pedangnya kebawah agar melepaskan ayunan pedang musuh, kemudian menyambung gerakannya dengan mengayunkan pedangnya dari kanan. Bilah pedangnya yang lancip berhasil menyentuh tubuh musuh, namun tak berhasil menembus mantelnya sedikitpun, seperti tertahan oleh sesuatu yang keras dibalik mantel. Dua bawahannya muncul di saat yang tepat dan membantu sang Ksatria Perak. Selagi pasukannya menahan musuh, sang ksatria menghampiri raja yang terduduk lemas di puing-puing bangunan.
“Yang Mulia! Berlindunglah di belakang.” Ksatria tersebut berlutut dan menjatuhkan pedangnya di tanah. “Aku akan menahan pasukan musuh.”
Dengan nafas yang terengah-engah, luka di sekujur tubuh lemahnya, dan usia yang sudah tak mencukupi, sang raja berkata, “Sudah, ini sudah berakhir. Kita tidak bisa menang.
“Jangan menyerah, Yang Mulia! Aku tidak bisa membiarkan Aramor dan Yang Mulia yang melatih dan membesarkanku berakhir disini!” Suaranya yang tegas bergema dalam pelindung kepalanya.
Melihat kegigihan di mata ksatrianya, dia menyadari ajaran yang dia berikan saat ksatria masih kecil telah membuatnya menjadi sosok prajurit yang hebat, yang bermimpi membawa kemenangan bagi kerajaan. Namun, ada satu hal yang harus dipelajari dalam peperangan ini, saat kau berada di akhir hidupmu, ujung dari garis takdir terlihat, berwarna putih dan tipis seperti benang. Tak ada yang bisa terhindar dari takdir, tapi ujung garis takdir milik sang ksatria masih belum terlihat. Sang raja mengangkat tubuhnya sedikit, lalu mengambil pedang kebanggaan dengan permata hijau terpasang di batang silangnya lalu menyerahkannya kepada sang ksatria, “Wahai ksatria yang selalu setia mengikutiku, aku perintahkanmu untuk pergi dari sini! Bawalah pedang yang pernah membantai musuh-musuh kerajaan dan membawa kehormatan raja, kemudian carilah bantuan dari raja-raja lain yang rela mengorbankan pasukannya! Jangan kembali sampai kau membawa bantuan, ini perintah!”
__ADS_1
“Baik Yang Mulia! Aku akan kembali secepat kilat.” Sang ksatria mengambil pedang rajanya, pedang legendaris yang konon menyapu bersih pasukan musuh seperti badai angin saat perang dulu. Dia lalu menaiki kudanya dan memacunya dengan kecepatan tinggi.
“Wahai pasukanku yang gagah berani! Lindungi Ksatria Perak keluar dari kerajaan dengan nyawa kalian!” Sang raja bangun dengan sekuat tenaga memerintahkan pasukannya untuk terakhir kalinya.
Setelah kepergian Ksatria Perak, peperangan sudah mencapai akhir, Raja Aramor terbaring tak berdaya di tanah, perutnya diinjak oleh musuh yang memakai mantel merah. “Dimana benda itu?” Musuh menodongkan pedangnya. Saat sang raja hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaannya, ujung pedang musuh menembus dada raja secara perlahan hingga menusuk jantungnya, mengakhiri kejayaan kerajaan kecil dan nyawa sang Raja Aramor beserta seluruh pasukannya.
“Cepat cari benda itu!” Pria yang memakai mantel merah dengan rambut putih panjang dan bola mata kuning seperti ular itu berteriak memerintahkan pasukannya mencari suatu benda. Lalu dari balik lengan mantelnya, keluar sejumlah ular dengan corak warna dan ukuran yang berbeda-beda. Pria itu memerintahkan ular-ular tersebut untuk merayap ke penjuru daratan.
Ksatria Perak berhasil keluar dari kerajaan dan bergegas dengan kuda putihnya dia melesat bagaikan angin badai menuju kerajaan di timur laut Livadia. Ketika sampai, ksatria tersebut langsung menerobos ke ruang takhta raja, dia lalu berlutut di hadapan Penguasa Barias, Kerajaan Mesadas, bahkan saat para penjaga menahannya.
“Maaf atas kelancangannya, Wahai Penguasa Barias. Kehadiran hamba disini bermaksud untuk meminta bantuan dari Yang Mulia. Kerajaan yang hamba layani, saat ini diserang oleh musuh secara tiba-tiba dan kami tak bisa menahannya lebih lama lagi, kumohon Yang Mulia, pinjamkan pasukan anda.”
“Benar, Yang Mulia.”
Sang raja dengan rambut pirang yang dihiasi mahkota emas tersebut memerintahkan penjaganya untuk melepaskannya, dia mengamati sang ksatria dengan sinis, lalu dengan sombongnya menolak permintaan ksatria dengan berkata, “Wahai ksatria perak, kerajaan yang telah engkau layani pasti telah hancur saat perjalananmu menuju kerajaan ini. Meskipun masih ada rakyatmu yang tersisa, andaikata aku memberikan bantuan terhadap kerajaanmu, bayaran apakah yang akan aku terima? Aku tak mau mengorbankan prajuritku demi kerajaanmu yang miskin. Jika tak ada urusan lagi, engkau boleh pergi.” Sang raja berdiri dari singgasananya lalu memerintahkan penjaga untuk mengusirnya.
Penguasa Barias tak ingin berurusan dengan Tenebrum. Meskipun kekuatan Mesadas dan Aramor digabung sekalipun, tak akan sanggup memukul mundur pasukan dari Tanah Hitam.
Tak ada satupun orang di Mesadas yang tak tahu kengerian Tenebrum sebelum bergabung dengan Kerajaan Nortur di barat, saat pasukan mereka yang keji meluluh lantahkan Bukit Harapan dalam kobaran api kehancuran, membantai Desa Harapan dan memberikan mimpi buruk pada setiap kerajaan di Livadia. Asap hitam dan bau tak sedap memancing gagak-gagak yang turun dari langit hitam. Pohon-pohon yang lebat kini hancur, tak ada yang bisa ditemukan selain kematian di tempat yang dulunya ramai dan hangat. Sebuah harapan dalam Bukit Harapan itu sendiri telah menghilang sejak lama. Ksatria Perak dipaksa keluar oleh para penjaga, dia lalu mengambil kudanya dan pergi sambil menahan rasa amarahnya.
__ADS_1
Raja Aramor sebenarnya tahu bahwa tidak akan ada yang datang membantunya. Dia hanya memberikan tugas palsu pada Ksatria Perak. Raja hanya memberikan kesempatan kedua untuk sang ksatria menjalani hidup bebasnya.
Sang ksatria hanya mematuhi perintah rajanya, ia tidak akan menyerah sampai saat itu saja. Dia pergi dan mencari bantuan ke tempat lainnya, namun tak ada yang mau membantunya, dengan alasan yang sama bahwa kerajaan sang ksatria sudah pasti hancur. Bahkan dia berkunjung ke desa-desa yang bahkan tak memiliki kekuatan untuk bertempur, tentu saja yang dia temui adalah penolakan. Perjalanannya tak membawa harapan sedikitpun.
Sang ksatria tersebut terus menerus memacu kudanya entah kemana. Di tengah perjalanan, dia mendengar bunyi derapan dari balik debu di belakangnya. Sejumlah pasukan kecil bersenjata berlari dan mengarahkan senjatanya sambil berteriak, “Cepat! Tangkap dia!”
Sang ksatria yang tanpa kenal takut berbalik arah dan menuju arah yang berlawanan. Menerjang musuh dengan kencang. Musuh yang berada paling depan merasakan pedang tajam pemberian sang raja memutus leher mereka. Sang ksatria melompat dari kudanya, menebas satu persatu musuh yang bukan tandingan berpedangnya. Darah menyiprat ke seluruh baju perak dan bilah pedangnya.
Setelah itu, dia melanjutkan perjalanannya tanpa mengatakan satu hal pun. Dia beristirahat di pinggir Sungai Nieor saat malam. Dia mengikatkan kudanya pada sebatang pohon. Membilas noda di pedang dan baju besinya yang sama sekali tak dia lepas di sungai. Lalu membuat api dari ranting-ranting kayu. Menangkap ikan lalu memakannya setelah dibakar. Pria itu sempat berpikir ini bukan waktunya untuk bersantai, dia harus segera membawa bantuan. Dia tidak akan berani menghadap wajah rajanya jika tidak bisa menunaikan tugasnya.
Dia menyandarkan tubuhnya di sebuah batu lalu memejamkan matanya. Di malam yang sepi itu, telinganya yang tajam menangkap suara dari balik kegelapan malam. Dia melompat dan berdiri tegak sambil mengarahkan pedangnya. “Siapa disana!?”
Hanya suara derik jangkrik yang menjawabnya. Saat kewaspadaannya sedikit menurun, seseorang muncul dari belakangnya, namun sang ksatria dengan gesit berhasil menghindar. Sekelompok pria berjumlah 5 muncul dari persembunyian mereka. Pakaian mereka kotor dan tak rapi, namun wajah mereka seram dengan tubuh luka. Masing-masing orang memakai senjata seperti pisau, pedang dan pentungan.
“Oi lihat, pedang itu terlihat bagus. Aku mau pedang itu,” tunjuk salah satu dari mereka ke pedang milik ksatria.
Bandit, pikir sang ksatria. Di balik helm, matanya mengamati dengan cermat. Dia memperbaiki pegangan di gagang pedangnya. Lalu salah satu bandit berlari ke arahnya sambil mengangkat pedangnya dan berteriak. Sang ksatria menghindar dan menendang keras bandit itu hingga terjatuh, tanpa ampun dia menusuknya saat terbaring di tanah.
Para bandit lainnya takut sekaligus marah ketika melihat temannya mati begitu saja. Kesalahan dalam pertarungan adalah tidak berpikir tenang. Seorang prajurit tidak boleh termakan emosinya atau perasaan pribadinya, dia harus tenang dalam segala situasi dan memutuskan langkah selanjutnya. Akan tetapi, mereka bukanlah seorang ksatria. Inilah yang membuat mereka tak layak untuk mati secara terhormat di tangan sang ksatria. Akhirnya rasa marah yang meluap-luap membuat para bandit terbantai dengan mengenaskan.
__ADS_1
Dia mengumpulkan barang-barang yang diperlukan seperti makanan dan selimut dari para bandit. Lalu dia membiarkan tubuh mereka tergeletak di tanah. Jika dia membuangnya di sungai, justru mayat tersebut akan mencemari sungai.