
Faye bangkit, lalu mengejar Archie yang berada di depan. Mereka mengikuti jejak kaki gosong yang menuju ke suatu tempat. Jejak kaki itu mengarah ke sebuah batu besar yang diapit oleh semak belukar dan pepohonan.
Faye menunduk dan segera menarik tubuh Archie. Ia menempelkan jari telunjuk pada bibirnya. “Sst. Kucing itu ada di depan.” Faye lalu melangkah pelan sambil membungkukkan tubuhnya setara batu besar. Ia berhenti di belakang batu.
Archie mengikutinya. Membungkukkan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan ukuran batu, lalu berhenti di sebelah Faye. Kepalanya perlahan muncul dari balik batu untuk mengintip. Lelaki itu melihat seekor macan dengan corak kail hitam yang menghiasi bulu biru gelapnya yang cantik. Makhluk itu tertidur nyenyak di rerumputan, tak jauh dari tempat mereka. Kaki depannya menopang kepala besarnya yang gagah, dengan taring panjang menjulur dari rahang atasnya.
Hidung Faye menangkap aroma lavender yang menyengat. Ia melirik ke Archie. Sebuah ide cemerlang muncul di benak gadis itu. “Archie, kau ingin membantu kan?”
“Tentu saja.”
“Kau dekati makhluk itu perlahan-lahan, dan jangan sampai membangunkannya. Aku sedikit kelelahan saat mengeluarkan sihir tadi, jadi aku tidak bisa membantumu.” Faye mengecilkan suaranya.
Archie merasakan sesuatu yang mencurigakan, tapi karena dia sudah membulatkan tekadnya, ia pun mengiyakan permintaan Faye.
“Tenang saja, selama kau tidak membangunkannya, kau akan aman. Aku akan menunggu disini,” bisik gadis itu.
Pria itu lalu melompati batu besar. Tubuhnya gemetar. Ia berpikir ini bukan ide yang bagus, namun sudah terlambat untuk mundur. Lagipula mundur di depan seorang gadis sangat memalukan baginya. Ia lalu jalan merangkak mendekati makhluk yang tertidur pulas. Tangannya menyapu rumput-rumput liar. Semakin dekat, suara dengkuran makhluk itu semakin terdengar jelas. Archie berhenti saat ekor makhluk itu mengibas. Mata kuningnya terbuka perlahan, makhluk itu bangun menatap tajam Archie. Jantungnya seperti akan copot.
__ADS_1
Archie melirik ke belakang. “Tolong aku,” bisiknya.
Faye hanya merespon dengan memberikan jempol pada lelaki yang ketakutan itu.
Sial.
Kucing itu bangkit, dan meregangkan tubuhnya. Ia lalu merendahkan tubuh depannya dan menggeram. Berjalan perlahan menghampiri Archie. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang terbakar oleh api biru.
Archie diam terpaku, tak berani menggerakkan tubuhnya sedikit apapun. Keringat mengucur di wajahnya saat melihat makhluk itu menunjukkan taring sepanjang pedang. Archie lalu ingin mengeluarkan lembarannya saat kucing itu sudah dekat dengannya. Kucing itu langsung melompat saat melihat pergerakan dari tangan lelaki itu. Archie tersentak ke belakang. Ia memejamkan matanya, berharap ini hanya mimpi.
Tekstur basah dan kasar, menyentuh pipi Archie. Ia membuka matanya perlahan dan melihat kucing itu menjilat tubuhnya seperti mainan. “Apa yang terjadi?” Kucing itu tak terlihat seperti mengancam sama sekali, terlihat seperti kucing rumah biasa namun dengan bulu berwarna biru dan cakar yang berapi-api.
Gadis itu berjalan santai di belakang Archie. “Macan Maderazul itu makhluk yang jinak, apalagi kalau mencium aroma yang wangi. Dia menyukainya,” jelas gadis itu. Bibirnya melengkung kecil.
Archie mendorong kepala besar makhluk itu. Mengangkat tubuhnya yang berlumuran air liur kucing. Ia mengendus bahunya yang tercium aroma khas bunga lavender meskipun sedikit luntur. “Ini parfumku.”
Kucing besar itu menggosokkan kepalanya ke tubuh Archie. Rambut birunya menempel pada tubuh lelaki itu. Archie berpegangan pada leher kucing itu. Jari-jarinya terbenam pada bulu tebal yang hangat.
__ADS_1
Gadis itu tertawa kecil saat melihat rencana jahilnya untuk membuat Archie ketakutan sukses. Faye menggunakan sihirnya untuk membersihkan tubuh Archie, setelah itu berjalan ke samping makhluk itu dan membenamkan kepalanya pada perut birunya. “Lembutnya.” Tangannya menggosok bulu perut. Wajahnya cerah berseri-seri merespon kehangatan bulu kucing itu.
Archie terpesona. Ini pertama kalinya lelaki itu melihat wajah Faye yang ceria. Wajah yang membuatnya tak bisa melupakan masa lalu. Berbeda saat pertama kali bertemu dengannya. Sebelumnya gadis itu terlihat kaku dan tak ekspresif. Tak ada suasana hangat di sekitarnya, seperti berjalan di samping es. Bertanya dan menjawab hanya yang diperlukan saja. Tak ada kekesalan, Archie justru senang gadis itu menjahilinya. Archie mulai sedikit lega, bahwa gadis dingin sepertinya yang selama ratusan tahun melewati banyak hal masih bisa tersenyum. Lelaki itu akan berusaha untuk melindungi senyumannya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan gadis, melengking di langit malam dari sisi hutan lainnya memecah suasanan. Kucing itu melepaskan dirinya dan mendesis waspada, bulu ekornya terlihat mengembang. Faye melemparkan pandangannya ke Archie. Archie mengambil gulungan halaman di sakunya dan mengarahkannya ke kepala kucing itu. Energi sihir kuat serta cahaya biru muncul dan menyerap kucing itu ke dalam lembaran. Lukisan kucing yang gagah perlahan muncul dari bagian yang kosong.
Faye mengamati pepohonan di belakangnya. “Itu suara Rynn. Dia ada di sisi timur hutan,” ucap gadis itu.
Mereka teralihkan oleh teriakan tersebut, tanpa mereka sadari ada sesuatu lain yang mengintai mereka di balik kegelapan. Mengintai mereka yang telah menurunkan kewaspadaannya. Makhluk itu memanjat pohon dengan cakarnya. Cakar tunggal yang tumbuh dari lengan depannya mencengkeram batang pohon. Makhluk itu mengamati dari atas dengan mata bulat coklatnya. Tulang panjang dan tajam tumbuh keluar di ujung ekornya seperti sabit. Makhluk itu melompat dari cabang pohon, ia membentangkan lipatan kulit diantara kaki depan dan kaki belakangnya, yang disebut patagium. Ia meluncur melalui angin di belakang mereka sambil mengarahkan cakar tunggalnya ke depan. Tepat sebelum cakarnya menyentuh helai rambut Faye, Rue muncul melesat ke perut makhluk itu dan melukai dengan cakarnya.
Faye dan Archie menoleh saat makhluk mirip musang besar itu memekik kesakitan. Musang itu terjatuh di tanah. Luka di perutnya tak terlalu dalam, hanya seperti goresan. Makhluk itu lalu memanjat pohon lalu melompat lagi ke arah burung itu. Faye memerintahkan sihir bayangannya yang seperti tangan untuk menangkap makhluk itu, namun makhluk itu mengibaskan ekornya seperti sabit. Sihir bayangan Faye terpotong dan lenyap. Rue mengelak dan mengarahkan cakar ke punggung musang.
Archie terkejut saat melihat sihir Faye lenyap. “Makhluk itu bisa memotong sihir!?”
Dengan tubuhnya yang fleksibel, musang itu berkilah dari serangan Rue. Ia melompat ke atas pohon dan melayang kabur dari satu pohon ke pohon lainnya.
“Cepat! Jangan sampai makhluk itu lolos!”
__ADS_1
Rue terbang dengan cepat mengejar musang itu, disusul oleh Faye dan Archie di belakang.