
Ksatria Hitam dan Rynn sampai di rumah. Gadis itu menggapai pegangan perak lalu memutarnya ke bawah. Engsel pintu berderit bersamaan dengan masuknya cahaya bulan yang semakin menjauh. Gadis itu mengamati sekitar, dan tak mendapatkan apapun selain perabotan rumah pada umumnya. Rynn memasuki ruangan diikuti dengan sang ksatria di belakangnya. “Apa mungkin makhluk itu sudah kabur?” tanya sang ksatria.
Gadis itu meletakkan buku hewannya di meja. “Mungkin.”
Sebuah suara benda jatuh terdengar dari dapur. Rynn bergegas menuju dapur dan menemukan toples yang berisi buah beri jatuh terpecah-pecah di lantai. Seekor kadal dengan sisik hijau merayap turun dari rak ke lantai. Kadal itu mencapit sebuah beri di mulutnya yang penuh gigi-gigi kecil.
Rynn berteriak. “Itu dia! Aku menemukannya.”
Kadal itu terkejut dan melepaskan gigitan buahnya. Warna sirip layar di punggungnya berubah kuning lalu merah. Kadal itu melesat melewati sela-sela kaki Rynn. “Ia kabur!”
Ksatria Hitam yang berada di ruang depan membungkuk dan mencoba menangkapnya. Namun, tubuh kecil makhluk itu terlalu gesit untuk sang ksatria, dan kadal itu berhasil melewati mereka berdua tanpa kesusahan menuju ke semak-semak di luar.
Gadis itu menjulurkan kepalanya ke belakang melewati ambang pintu dapur. Rynn dan Ksatria Hitam bertatapan satu sama lain.
Pria itu menarik kursi yang paling dekat dengan pintu dan duduk. Kepalanya bersandar pada punggung kursi. “Aku bisa mengandalkanmu, kan?”
Senyuman terpancar di wajahnya. Gadis itu merasa senang karena ada orang lain yang mengandalkannya. “Aku akan berusaha,” ucap Rynn dengan penuh semangat.
Ia kembali ke dapur. Membuka halaman dan membaca informasi apapun yang tertulis di halaman itu. “Farbelwer adalah makhluk pemalu… Ia juga sensitif terhadap sekitarnya… Selain untuk mengatur suhu tubuh dan menarik lawan jenis, layar di punggungnya akan berganti warna sesuai dengan kondisi emosinya… Biru berarti tenang, kuning berarti waspada, dan merah berarti bahaya,” gumam gadis itu. Jarinya meluncur ke kalimat selanjutnya. “Makanan kesukaannya… Oh, makhluk itu lapar! Tentu saja.” Kepalanya terangkat.
__ADS_1
Rynn memunguti sejumlah beri dan mengumpulkannya di tangan kirinya. Ia lalu menyambar buku dan bergegas ke luar. “Blackie, tolong bersihkan pecahan toples di dapur,” teriaknya bersemangat.
“Baiklah, akan kubersihkan. Semoga beruntung,” sahut sang ksatria.
Gadis itu berlutut di tanah. Setelah sebuah beri segar diletakkan di tanah, ia mundur agak jauh agar memberikan makhluk itu rasa nyaman. Langkah selanjutnya adalah sabar menunggu. Kesunyian mengelilingi gadis itu, tak ada derik jangkrik atau suara apapun. Burung hantu pun sepertinya sudah lelah mengiringi bulan dengan nyanyian.
Suara gemerisik menyadarkan Rynn yang hampir terkalahkan oleh rasa kantuknya. Kadal itu muncul dari semak-semak, lidahnya menjulur keluar. Merayap perlahan menghampiri beri yang diletakkan Rynn. Layarnya berwarna kuning, berarti makhluk itu masih waspada terhadap keberadaan Rynn. “Tak apa kawan kecil, tak perlu takut,” ucap gadis itu, suara lembutnya menenangkan tak hanya hati manusia tapi hati kadal tersebut.
Layar di punggungnya perlahan berganti menjadi biru. Kadal itu melahap beri dengan tenang. Gadis itu lalu memberanikan diri memberi makan secara langsung. Ia perlahan menjulurkan beri di tangannya ke kadal tersebut. Awalnya, kadal itu menjulurkan lidahnya untuk memastikan berbahaya atau tidak, karena tak merasakan adanya ancaman, kadal itu mengambil beri di tangan Rynn dan memakannya. Seringai manis tergambar di wajah Rynn. “Aku mengira semua makhluk di buku itu mengerikan dan berbahaya, ternyata tidak semuanya.”
Selagi Rynn memberikan makan pada Farbelwer dengan tenang, sirip layar kadal itu mendadak berubah merah. Kadal itu merayap dan bersembunyi di belakang Rynn. Terdengar suara teriakan seorang gadis yang samar-samar dari kegelapan. Teriakan seperti memperingati Rynn akan sesuatu yang datang, tapi Rynn tak mungkin sempat untuk meresponnya. Dan semakin lama semakin dekat dan jelas. “Rynn. Awas!”
Cakar sabit meluncur langsung ke arah Rynn. Gadis itu seperti terkunci di tempat, tak bisa bergerak, hanya terpaku pada sabit yang mengarah ke dirinya dengan sangat cepat. Tepat sebelum cakar itu menyentuh gadis itu, sebilah Pedang Hitam melesat seperti angin di depan Rynn, menahan cakar yang berasal dari makhluk ganas seperti musang yang dikenal sebagai Peluncur Sabit. Permata hijau bersinar, seperti merespon keinginan sang pemegangnya yaitu Ksatria Hitam. Angin dari segala penjuru hutan terkumpul dan melapisi bilah pedang, menghempaskan musang itu tinggi ke udara saat Ksatria Hitam mengayunkannya.
Archie membuka gulungan lembaran terakhirnya dan mengarahkannya ke atas dimana musang itu akan jatuh. Energi dahsyat muncul dan menghisap makhluk itu kembali dalam lembaran. “Sudah selesai.”
Rynn menghela nafasnya. “Apa-apaan makhluk tadi itu? Bentuknya aneh.”
“Alam adalah tentang fungsi bukan bentuk,” kata Ksatria Hitam.
__ADS_1
Suasana kembali tenang, ditandai dengan layar Farbelwer yang kembali biru. Faye berlari menghampiri Rynn. Gadis itu membantu Rynn bangun. “Kau tak apa-apa?” ucapnya khawatir. Rue meluncur dan mendarat di pundak Faye.
Rynn sedikit terkejut, karena ini pertama kalinya melihat Faye khawatir. Sedikit demi sedikit gadis kaku itu berubah. Rynn senang mendengarnya, ia mengganggukan kepalanya dan senyumannya pun kembali.
Faye menoleh ke Ksatria Hitam di belakangnya. Matanya memandang permata hijau yang sinarnya kembali pudar di Pedang Hitam lalu beralih ke sang ksatria itu. “Sepertinya kau perlahan sedikit menguasainya, ya.”
Ksatria itu mengangkat pedangnya. “Tapi ini belum cukup.” Lalu menyarungkannya kembali di pinggang.
Dengan nafasnya terengah-engah, Archie bergabung. Ia menepuk pundak Ksatria Hitam. “Kau hebat juga, Paman.”
Mata Faye tertuju pada seekor kadal di bahu Rynn. “Rynn, masih ada satu yang belum selesai.”
Rynn tersentak. “Oh, aku lupa.” Gadis itu berlutut dan meletakkan kadalnya di tanah. Archie memberikan lembaran miliknya pada Rynn, lalu lembaran itu diselipkan di antara halaman lainnya. Sesaat ia membuka bukunya, kadal itu meringkuk gemetaran di belakang Rynn. Gadis itu menutup bukunya. Layar di punggung kadal kembali menjadi merah. Semua orang terkejut.
“Ada apa kawan kecil?” Rynn memutar tubuhnya dan mengangkat lembut kadal itu di telapak tangannya.
“Faye,” tukas Archie sembari melemparkan pandangan ke Faye.
Gadis itu mengangatkan kedua tangannya. “Aku tak melakukan apapun.” Matanya melebar saat merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasakan aliran energi di hutan itu kacau. Aliran energi sihir seharusnya bergelombang seperti ombak, namun kini alirannya terputus-putus dan kacau. Perlahan-lahan semakin memudar. "Pohonnya!"
__ADS_1