The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Sesuatu yang Tak Dapat Dilakukan


__ADS_3

Dalam mimpi indahnya, dimana dia berdiri kaku di hamparan padang bunga matahari yang luas dan langit yang selalu cerah. Tak ada pohon, rumah ataupun serangga yang selalu memanen madu. Faye tak melakukan apapun, hanya diam seperti patung, serta pandangannya tertuju ke depan. Sejauh mata memandang hanya ada warna kuning, hangat dan terang. Lalu muncul api kecil yang memercik di salah satu kelopak bunga, perlahan menyebar. Suara samar-samar terdengar dari langit, seperti seorang dewa memanggilnya. Suara itu familiar dan semakin lama semakin keras. “Faye, bangun!”


Faye tersentak, terbangun dari mimpinya. Selimut di punggungnya merosot ke kursi.


“Pohonnya kembali sakit,” kata suara yang membangunkannya yang ternyata adalah Rynn.


Faye ingin marah karena membuatnya terbangun secara tiba-tiba, tapi tak bisa, ada masalah yang lebih penting. Faye dan Rynn lalu bergegas menuju pohon sihir.


Di depan mereka, Archie dan Ksatria Hitam sudah menunggu. “Apa yang terjadi?” tanya Faye penasaran.


Di bawah sinar matahari, pohon itu semakin layu. Kini di salah satu dahannya tak tersisa sedikitpun daun. Kulit kayunya retak, memperlihatkan bagian dalamnya yang berwarna putih.


Archie menggelengkan kepalanya. “Aku tak tahu. Pohon ini sudah begini sejak aku dan Ksatria Hitam datang untuk memeriksanya.”


“Mungkin kita harus menyiramnya dengan air kolam lagi,” kata Rynn. Rynn dan yang lainnya lalu menyiramkan air kolam tersebut pada pohon.


“Tak berhasil.” Faye terkejut. Energi sihir tak mengalir lagi dari pohon itu. “Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa?”


Rynn merangkul bahu Faye dan mengelusnya, berusaha menenangkan gadis itu yang panik.


Archie berjongkok di dekat pohon. Matanya mengamati tanah coklat di sekitar. “Ini membingungkan.” Pria itu mengorek sedikit tanah di tangannya dan mengusap butiran tanah dengan jari. “Tanah di sekitar sini, tidak mengandung racun apapun. Tanaman lain juga tampak normal,” ucapnya.


Teringat akan sesuatu, Rynn berkata ke Faye. “Mungkin jawabannya ada di bengkel sihir Ibumu. Aku lihat ada banyak sekali buku dan catatan. Seharusnya jawabannya tertulis disana.”


“Tak ada yang boleh memasuki ruangan itu!” bentak Faye. “Akar masalah ini gara-gara kau yang memasuki bengkel sihir! Kalau saja aku ada disini saat malam, mungkin aku bisa mencegah pohon ini sakit.” Gadis itu melepaskan diri dari rangkulan Rynn.


“Aku minta maaf soal itu," Rynn tertunduk menyesal.


Archie bangkit dan menghampiri Faye. “Rynn benar. Jika kita menemukan jawaban di bengkel itu, kita bisa menyelematkan pohon ini."


Faye merapatkan bibirnya. Menatap ke Archie lalu berpindah ke Rynn, dan menunduk. Tak ada alasan bagi dirinya untuk menolak. Terlepas dari rasa takut Faye kehilangan benda peninggalan ibunya di bengkel dan catatan yang bisa saja menjadi malapetaka, ia juga tak ingin pohon itu mati. “Baiklah,” ucap gadis itu pasrah.

__ADS_1


“Aku akan berjaga di sini, jika terjadi sesuatu yang buruk akan segera kulaporkan,” kata sang ksatria.


Faye, Rynn dan Archie lalu memasuki ruangan gelap tersebut. Karena segel pintunya melemah lagi, Faye tak perlu menggunakan sihir untuk membukanya. Gadis itu menjetikkan jarinya, seketika lilin-lilin yang menempel di dinding ruangan menyala. Cahaya lilin menyinari rak-rak dan meja yang terbuat dari kayu yang sama dengan pintu.


Di tengah ruangan, terdapat dua rak yang berisi buku-buku yang tersusun secara acak. Rak yang dibelakang memiliki ukuran yang kecil daripada rak satunya, buku yang tersusun pun lebih sedikit.


“Aku akan mencari di rak yang kecil,” kata Rynn.


Archie menuju sebuah lemari kayu yang berisi gulungan perkamen di belakang rak kecil. Tali dari serat tanaman rami mengikat erat gulungan-gulungan itu. Sedangkan Faye mencari pada rak satunya yang lebih besar. “Biar kuingatkan. Aku selalu memeriksa buku-buku dan catatan. Aku tak ingat apapun yang berhubungan dengan menyembuhkan Pohon Sihir.” Faye memandangi punggung-punggung buku.


“Jangan menyerah dulu.” Rynn menyemangati seraya jari telunjuknya menelusuri buku-buku dan berhenti pada sebuah buku dengan sampul hijau. Gadis itu menyapu sampul buku yang berjudul ‘Serba-Serbi Merawat Tanaman’. “Ini dia,” gumamnya.


Gadis itu membuka halaman pertama. “Tanaman hidup seperti makhluk lainnya, memerlukan air dan cahaya matahari.” Lalu dia membalikkan halaman mencari nama-nama tanaman. “Mangoria, Anadalia, Cemara Pelangi, Sintila… Tak ada tanaman yang seperti Pohon Sihir.”


Faye meraih buku dengan sampul berwarna abu-abu. Saat buku itu dalam posisi miring, Faye meletakkannya lagi. “Tidak.” Pikirannya gelisah, gadis itu tidak bisa fokus mencari jawaban di buku. Faye sendiri tahu bahwa tak mungkin jawabannya ada disini. Ia selalu memeriksa satu per satu buku dan catatan lainnya sejak kematian ibunya. Karena Pohon Sihir baru ada setelah kepergian Sang Penyihir Agung, tak ada catatan apapun tentang pohon itu.


Archie bersemangat. Berlari di tempat sempit seperti pengantar pesan yang membawa kabar gembira untuk semua orang. “Mungkin ini bisa membantu.” Ia berdiri di samping Faye. “Lihat, ini catatan mengenai Pohon Perak milik Ratu Hutan Agung.” Tangannya membentangkan gulungan itu di depan perutnya. “Dikatakan bahwa saat pohon itu sekarat, Ratu Avaina menggunakan Bunga Matahari dan Bunga Bulan untuk menyembuhkan Pohon Perak. Energi besar yang berlawanan dari siang dan malam yang tersimpan pada kedua bunga itu sanggup menekan penyakit pada pohon tersebut. Di sini juga tertulis cara membuat obatnya. Mungkin ini berhasil,” seringai bahagia tergambar di wajah lelaki itu.


Bahu Archie merosot. “Kenapa kau selalu menyerah. Tidak ada salahnya dicoba kan?” Archie mencengkeram bahu dan menarik tubuh gadis itu ke dekatnya.


“Sudah kubilang, ini tak akan berhasil.” Faye menepis lengan Archie. “Apa kau sebegitu bodohnya hingga tak mengerti?”


Lelaki itu melipat tangannya. “Tentu saja aku mengerti. Apa kau ada cara lain?”


“Tidak.”


“Maka izinkan aku membantumu, meski hanya sekali saja.”


“Dasar keras kepala.” Faye menggigit bibirnya. Wajahnya merah seperti terbakar. Gadis itu mendorong Archie dengan tangannya. “Kenapa kau selalu memaksa ingin membantuku. Kau dulu juga seperti itu kan? Selalu menolak bantuan orang lain, berusaha menyelesaikan semua masalah sendiri.” Suara Faye meninggi.


Archie yang terdorong menabrak rak buku yang bergoyang seperti akan rubuh. Lelaki itu menahan rak buku dengan memegang pinggiran kayunya. Sejumlah buku terjatuh saat rak kembali tegak. Buku-buku tersebut mendarat di kaki Archie. Rynn lalu meletakkan bukunya di rak yang paling kecil dan datang berusaha menenangkan Faye dengan memegang kedua bahunya.

__ADS_1


Archie mengambil buku-buku yang terjatuh dan meletakannya kembali di rak yang bagian paling atas, disela-sela yang lebar antara buku berwarna putih dan coklat. “Karena itu aku membenci diriku yang dulu. Aku tak ingin kau terlihat menyedihkan sepertiku!” ucap lelaki itu. “Jika tetap tak berhasil, akan kucari obatnya sampai ke ujung dunia. Pohon itu penting bagimu, kan?” Archie melangkah melewati Faye dan Rynn.


“Pergi ke mana?” tanya Rynn penasaran.


“Aku akan mencari Bunga Matahari, kau siapkan saja bahan yang lainnya. Bunga Bulan seharusnya tumbuh banyak di pagar.” Lelaki itu melewati pintu dan menghilang pergi, membawa gulungan perkamen di tangannya.


Faye duduk memeluk lutut. Cahaya kemerahan yang terpancar dari lilin menyinari kedua gadis tersebut. “Aku rindu Ibu. Jika saja ada Ibu, semua masalah pasti akan selesai dengan mudah.” Meskipun, Faye hidup ratusan tahun tapi dia tetaplah seorang gadis pada biasanya. Merasakan takut dan kebingungan, tak jauh berbeda dengan gadis desa seperti Rynn ataupun gadis bangsawan seperti Meredith.


Rynn duduk disebelahnya, lengannya memeluk bahu Faye. “Seperti yang Archie katakan, Faye harus semangat. Kita semua pasti akan membantumu.”


Faye melirik ke Rynn. “Kenapa kalian selalu memaksa ingin membantuku.”


Rynn tersenyum manis. “Tentu saja karena kami semua temanmu.”


“Aku tak butuh teman.”


“Lalu, kenapa tidak mengusir kami saja? Faye pasti sanggup mengusir kami semua dengan kekuatanmu itu.”


“Aku tak bisa, Rue yang memilih kalian,” gumam gadis itu.


Rynn menarik nafas dan menghembuskannya. “Apakah yang menentukan hidupmu Rue atau dirimu sendiri?”


Faye diam tak menjawab, menatap mata gadis di depannya yang secerah dan sehangat matahari.


“Kau tidak mengusir kami karena keinginanmu sendiri, bukan? Kau dulu selalu sendirian, tak ada siapapun untuk diajak mengobrol. Dan sedikit demi sedikit, orang-orang yang baik datang kepadamu, tentu saja dengan niat baik mereka,” kata Rynn. “Kau tak ingin mengusir kami karena kau merasakan kembali hangatnya berkumpul bersama yang lainnya setelah sekian lama, bukan?”


Rynn menyandarkan kepalanya pada pundak Faye. “Kami semua juga merasakan hal yang sama dengan berada disini. Kehilangan tempat kami sebelumnya dan menemukan tempat baru yang menerima kami. Kami semua bersyukur bisa bertemu denganmu,” lanjut gadis itu.


Faye melirik ke Rynn. Gadis itu tak bisa menyangkal lebih ke ucapan tulus yang Rynn berikan. Faye rindu ibunya lebih dari apapun, tapi sekarang ibunya tak ada disini untuk menemaninya memandangi bulan, membuatkan teh hangat, dan menceritakan kisah petualangan. Ibunya telah lama pergi dan sekarang teman-temannya lah yang menggantikan ibunya untuk terus berada disisi Faye kapanpun dan dimanapun. “Pergilah. Archie menyuruhmu menyiapkan bahannya, bukan?”


Rynn tersentak. “Oh, kau benar, aku pergi dulu.” Gadis itu bangkit dan menuju ke luar. “Jangan lupakan kata-kataku, selalu tersenyum,” teriaknya dari luar.                                                                       

__ADS_1


__ADS_2