The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Kolam yang Memancarkan Cahaya Bulan


__ADS_3

Rynn berangkat pada malam hari tanpa memberitahu siapapun. Rynn melihat dan mengamati para penjaga desa yang berpatroli. Ia menemukan satu jalur yang tak dijaga dan memakainya untuk menuju hutan. Sesaat dia sampai di pintu masuk hutan, ia mendengar nyanyian yang membuatnya terhipnotis. Rynn tanpa sadar menjatuhkan embernya di tanah, lalu menyusuri semak-semak dan pohon. Seperti orang yang dikendalikan, Rynn terus berjalan lurus menuju sumber suara. Rynn sudah tak tahu berapa lama berjalan. Berjalan tanpa merasa kehausan atau kelaparan. Rynn lalu melihat cahaya terang seperti cahaya bulan di depan matanya. Dia melihat gadis berjubah hitam yang bersenandung di tepi kolam sambil mencelupkan kakinya. Sinar bulan memantulkan cahaya dari kolam ke wajah gadis tersebut.


Terpesona dengan gadis tersebut, Rynn terus berjalan tanpa henti lalu terjatuh ke kolam yang memancarkan keagungan sinar bulan. Air kolam tersebut terasa berbeda dengan air yang selama ini dia rasakan. Airnya lebih segar dan menyejukkan. Di kolam tersebut tidak ditemukan ikan-ikan dan makhluk hidup lainnya. Kemurnian air kolam tersebut membuat wajah Rynn terlihat lebih cerah berseri-seri dan lembut, rambut panjangnya yang berkilau meneteskan air kolam, dan aroma tubuhnya seperti wewangian yang berasal dari surga. Rynn menghela nafas lega saat berendam di kolam tersebut. Menikmati waktu berendamnya hingga pagi hari.


Saat krisis air, Rynn dan warga desa lainnya mengurangi penggunaannya airnya dengan minum air sedikit dan mandi hanya 2 sampai 3 hari sekali. Karena itulah dia sangat menikmati waktu berendamnya di dalam kolam yang membawa ketenangan dalam hatinya, selayaknya dia di rumah sebelum perang melanda. Kolam air tersebut memiliki sihir yang membuat siapapun yang berendam atau minum dari air kolam tersebut memiliki umur yang panjang dan membuat seseorang awet muda. Tanpa Rynn sadari, dia tidak akan pernah merasakan tua seumur hidupnya kelak.


Rynn mengangkat badannya ke tepi kolam dengan pakaian serta lentera dan bekal makanannya yang basah, lalu dia duduk disebelah gadis berjubah hitam tersebut. “Hei, kau tahu kolam ini? Airnya sangat jernih dan menyegarkan ya. Omong-omong, namaku Rynn,” ucapnya sambil memeras air dari rambutnya. Sedangkan gadis disebelahnya diam tanpa merasa terganggu akan keberadaan Rynn, dia hanya menatap refleksinya di kolam.


“Oh ya, aku baru ingat, bolehkah aku membawa air ini kembali ke desaku? Desa tempat aku tinggal sedang kekurangan air, jadi aku bawa 2 ember, satu untuk Ibuku dan satu lagi untuk meyakinkan warga desa. Aku tidak mau membawa air untuk seluruh warga desa, biarkan mereka sendiri saja yang ambil,” ucap Rynn penuh semangat.


Gadis berjubah hitam yang bernama Faye itu memilih diam tak menjawab ucapan Rynn. Sedangkan Rynn mencari embernya yang dia jatuhkan tanpa sadar. Ternyata embernya tersembunyi dibalik semak-semak tak jauh dari sana. Dia yakin kalau sebelumnya sudah memeriksa tempat itu dan tidak menemukan apa-apa. Tapi, Rynn menghiraukannya dan mengisi kedua embernya dengan air mata kolam ajaib, setelah selesai dia langsung pergi, berteriak terima kasih sambil melambaikan tangannya ke arah gadis berjubah hitam.


Faye lalu membuat gerakan di udara dengan jarinya, seketika pakaian milik Rynn mengering, tanpa Rynn sadari saking semangatnya. Di depannya, Rynn melihat seekor Burung Hantu Putih yang terbang rendah. Rynn berpikir jika mengikuti burung hantu tersebut dia akan bisa keluar dari hutan. Rynn pun berlari mengikuti burung hantu tersebut dan berhasil keluar dari hutan tersebut. Burung Hantu Putih tersebut kembali masuk ke hutan meninggalkan Rynn yang menghampiri desa dengan membawa kabar gembira.


Ketika dia memasuki desa dan menyapa para warga dengan senyuman manisnya yang disinari matahari pagi, Rynn terkejut dan berhenti, bukannya perasaan gembira yang didapatnya, ketakutan terpampang jelas di wajah para warga desa. Bahkan ayahnya sendiri, sang kepala desa, meneriakinya sambil mengusirnya, “Kutukan! Pergi dari desa ini! Jangan berani menginjakkan kaki disini lagi! Aku tidak akan membiarkanmu menyebarkan kutukan ke warga!”


Memang sudah wajar jika warga merasa ketakutan. Saat itu pikiran mereka sedang kacau. Hutan sudah terkenal memakan korban sejak dulu. Tak ada yang pernah kembali dengan perasaan bahagia seperti gadis itu. Apalagi perang sedang terjadi dimana-mana. Persediaan semakin hari semakin menipis. Teror, ketakutan, pembunuhan, kegelapan, monster, apa lagi yang bisa melanda negeri mereka, seorang gadis yang sudah dianggap mati kini muncul dengan wajah cerianya. Saat itu, Rynn tak tahu bahwa dia sudah menghilang lebih dari seminggu semenjak dia pertama kali masuk ke hutan.


“Ayah, ini aku, Rynn.” Wajah Rynn melas.


Mata pria itu melotot. “Tidak mungkin! Kau bukan putriku, Rynn sudah mati.”


“Ini lelucon bukan?” Rynn menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya dibalik rambutnya yang terurai ke depan.


“Untuk apa berbohong! Penjaga cepat usir dia!” Kepala desa memerintahkan sejumlah penjaga yang datang membawa tombak.


Pedang dan tombak mengarah ke dirinya. Tak perlu senjata, hati Rynn sudah cukup terluka. Dia merasakan sakit yang menembus dadanya. Setelah semua yang dia lakukan demi desa, berjuang mencari kolam kedalam hutan yang entah bahaya macam apa yang akan gadis desa sembilan belas tahun hadapi, dia menerima yang tidak sepantasnya. Selagi warga desa meneriakinya dan melemparinya dengan batu, Rynn menjatuhkan embernya, air kolam yang dia ambil meresap ke dalam tanah dan kembali mengisi sumur-sumur desa dengan keajaibannya. Tanpa sepatah kata apapun, Rynn menunjukkan punggungnya ke arah ayahnya yang marah dan pergi. Darah yang mengalir dari kepalanya tercampur dengan air mata. Rynn juga sadar, jika dia pergi, dia akan meninggalkan ibunya yang dia harapkan penyakitnya sudah sembuh.


Warga desa sudah tidak peduli dengan dirinya, dia pun berjalan keluar dari desa. Tapi, kemana dirinya harus pergi, dia tidak membawa uang sepeserpun. Berkelana pun tidak memungkinkan. Apa harus mengemis pada setiap rumah? Lalu pikirannya seperti benang yang kusut dan akhirnya menjadi rapi. Ia memutuskan untuk pergi ke hutan.


Dia kembali ke kolam dimana si gadis berjubah berada. Rynn terkejut saat melihat Faye, tangisannya semakin kencang. Dia lalu duduk di tepi kolam berhadapan dengan Faye sambil menutup wajahnya yang dibanjiri air mata dengan lengannya.

__ADS_1


Faye yang melihat darah merembes dari kepala Rynn, menyembuhkan lukanya dengan sihir. Rynn menyadari rasa sakitnya menghilang, dia menyeka air matanya dan berusaha menahan isaknya saat dia berkata, “Bolehkah aku tinggal di sini bersamamu?” Selagi menunggu jawaban, seekor Burung Hantu Putih muncul dan hinggap di pundak gadis yang sedang bersedih itu. Rynn pun mengelus burung hantu tersebut yang membuat kesedihannya perlahan memudar. Faye terdiam beberapa saat, lalu tanpa berpikir panjang, mengiyakan permintaan Rynn dengan mengangguk.


“Aku ingin bertanya kepadamu.” Faye memecah keheningan, membuat Burung Hantu Putih terkejut dan terbang menjauh.


“Boleh, tanya apa saja.” Rynn mengusap air matanya.


“Apa kau tidak takut di tempat berbahaya seperti ini? Apa kau tidak takut terhadapku?”


“Saat memasuki hutan ini memang menakutkan, tapi melihat gadis dengan wajah cantik sepertimu, perasaaan takutku hilang. Saat pertama kali melihatmu, aku merasakan kesepian pada dirimu, sendirian di dunia ini, tidak diterima oleh orang sekitarmu.”


Rynn adalah gadis yang tak bisa apa-apa dan tak tahu harus melakukan apa. Ketika ketidakberdayaannya dihadapkan dengan sosok yang lebih kuat darinya, dia lebih memilih untuk mengikuti alurnya. Tapi gadis itu tak melihat Faye sebagai sosok yang lebih kuat darinya, justru sama sepertinya tak berdaya dengan kondisinya sekarang ini. Itulah yang membuat Rynn memutuskan untuk kembali ke hutan. Untuk bertemu gadis yang sama sepertinya.


Faye tertegun. Dia merapatkan bibirnya. Wajahnya sedikit menunjukkan kesedihan, seperti mengingat masa lalu.


“Aku sudah tidak memiliki keluarga dan rumah lagi, lagipula sebagai sesama gadis yang kesepian, kita harus saling berteman bukan?” lanjut Rynn dengan tersenyum manis ke arah Faye.


“Teman?”


“Disana.” Faye menunjuk ke suatu cahaya terang di balik deretan pepohonan yang gelap gulita.


Rynn dengan penasaran menghampiri lokasi yang ditunjuk tersebut. Dia menemukan sebuah rumah yang cukup besar dengan dinding dan atap dari kayu. Dihiasi oleh Bunga Bulan yang sedang kuncup merambat di sepanjang pagar yang mengelilingi rumah tersebut. Sejumlah lentera mengisi sudut-sudut rumah dengan lilin di dalamnya yang otomatis padam saat pagi hari tiba. Rynn terpesona dengan keindahan halaman yang rapi serta bunga-bunga yang menciptakan aroma wangi.


Rynn memegang gagang pintu dan mendorongnya. Di hadapkan langsung sebuah ruangan besar dengan meja kayu persegi panjang dan 6 kursi terletak di sisi meja. Sebuah sapu tergantung secara mendatar di dinding perapian di belakang meja yang meskipun api sudah padam, namun tetap dapat menghangatkan tubuh Rynn. Di sisi kiri ruangan terdapat dua pintu. Yang satu terbuka dan menunjukkan sebuah dapur. Sementara pintu di sisi kanan ruangan tertutup sangat rapat. Meskipun Rynn mendorongnya dengan sangat kuat, pintu itu tak terbuka, seperti terkunci. Di pojok kiri dan kanan perapian, ada dua tangga yang mengarah ke belakang perapian tersebut dan menjadi satu di sebuah lorong. Di lorong tersebut terdapat 3 pintu di sisi kanan dan 2 pintu lainnya di sisi kiri. Di antara 5 pintu, 4 pintu lainnya terlihat tak terurus dan berdebu sedangkan hanya satu yang terlihat bersih.


“Hei, kenapa ada banyak kamar disini?” Rynn berteriak ketika Faye memasuki rumah.


“Itu kamar keluargaku.”


“Lalu, dimana mereka?”


Faye menaiki anak tangga dan menghampiri Rynn yang berada di lantai dua. “Mereka sudah pergi,” ucapnya.

__ADS_1


“Oh maaf…” Wajah Rynn sayu.


"Tak apa."


“Bolehkah aku memakai salah satu kamar ini?” pinta Rynn dengan menatap melas ke gadis berjubah.


Faye mengangguk, dan itu membuat Rynn senang. Rynn mengerutkan dahinya seraya melirik pintu satu per satu. Mungkin pilihannya terlalu berat baginya. Saat Rynn sedang memaksa otaknya bekerja, dia menyadari bahwa di setiap pintu ada semacam simbol yang terukir. Dan pandangan Rynn tertuju pada pintu yang memiliki simbol berbentuk aliran air. Rynn menyentuh dan meraba ukiran tersebut yang menurutnya cantik.


“Itu kamar milik kakak kedua aku, Aena. Kakakku sangat-”


“Sepertinya aku suka yang ini.” Rynn menempelkan dahinya di pintu. “Jujur saja, hatiku masih sakit saat meninggalkan desa. Aku merasa sudah tidak memiliki apa-apa lagi, tapi saat aku bertemu denganmu sendirian di tengah malam, saat aku mengambil pilihan ini, aku sadar, pilihanku tidak bisa aku tarik kembali. Aku berusaha untuk terus maju dan menjalani kehidupanku saat ini, bersamamu. Seperti air yang terus mengalir. Kau mengerti, kan?” Rynn tersenyum ke Faye.


"Tidak," jawab Faye dengan wajah dinginnya. "Tapi, kalau kau mau, pakai saja kamar itu."


“Terima kasih. Walaupun wajahmu selalu tampak tak berekspresi dan terlihat tidak peduli dengan sekelilingmu, tapi menurutku kau orang yang baik.”


"Ya."


Rynn lalu memasuki kamar yang sudah dia pilih, “Ngomong-ngomong aku sedikit lelah. Aku mau istirahat dulu. Jadi, bangunkan aku saat makan siang sudah siap, ok,” ucap Rynn lalu menutup pintu kamarnya dengan pelan. Sementara, Faye berbalik dan berjalan ke arah jendela di lantai atas. dia memandang ke luar dan terlihat memikirkan sesuatu yang mengganggunya. Di balik jubah bertudungnya, ekspresi dinginnya pun tak berubah meskipun di sisinya selalu ada senyuman Rynn yang secerah matahari.


Faye mengingat kenangannya, saat dia masih kecil. Memberi makan burung-burung di halamannya dengan sisa-sisa kukis. Namun, jarinya tak sengaja terpatuk dan mengeluarkan darah. Seorang gadis remaja dengan mata biru laut dan rambut yang dikepang menghampirinya dari dalam rumah. Dia membungkukkan badannya dan mengarahkan energi sihir dari kedua tangannya. Sebuah cahaya berwarna biru yang sedingin lautan dalam dan selembut butiran pasir pantai muncul dari tangannya dan menyembuhkan luka tersebut. Gadis tersebut adalah Aena. Kakak kedua Faye.


Aena lalu duduk disebelah adiknya. “Sudah tidak sakit?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum lembut. Adiknya hanya bisa mengangguk tanpa membalas apapun. “Jangan lupa, kalau seseorang tersenyum kepadamu kau harus membalasnya dengan senyuman, mengerti?” Suara lembut yang keluar dari bibir Aena membuat adiknya terpesona. Aena yakin suatu saat nanti adiknya mengerti dan dia akhirnya bisa melihat senyuman manis adiknya.


Setelah beberapa jam, aroma harum memenuhi seisi rumah dan membangunkan Rynn dari tidurnya. Rynn mengikuti aroma tersebut. Matanya bersinar saat menemukan kukis almon di sebuah piring yang masih hangat di meja ruang utama. Di sampingnya, teh kamomil dengan cangkir yang cantik turut melengkapi kesempurnaan sajian saat itu. Dengan perutnya yang kosong, Rynn melahap kukis tersebut. Rynn merasakan tekstur yang gurih dan rasa manis di setiap gigitannya. Rynn lalu berpikir untuk meningkatkan kenikmatan menyantap kukis tersebut dengan mencelupkannya ke dalam teh kamomil. Saat mencobanya, dia terkejut, tekstur kukis tersebut masih gurih dan renyah, bahkan teh masih belum cukup untuk membuat kukis tersebut lumer. Rynn lalu menyadari untuk membuat tekstur yang gurih dan renyah meski sudah dicelupkan, adonan harus berada di tingkat panas yang sempurna dan waktu yang tepat. Rynn dengan semangat melahap kukis tersebut tanpa menunjukkan tata kramanya hingga membuatnya tersedak. Dia mengambil cangkir yang berisi teh kamomil dan meminumnya. Kelembutan dari teh tersebut membuat hati gadisnya terpuaskan. Wangi dari teh tersebut bahkan bisa dijadikan pengharum ruangan oleh Rynn. Dia lalu menghabiskan teh tersebut hingga tetesan terakhirnya. Setelah merasa perutnya terisi penuh, Rynn melihat Faye yang berdiri di halaman dan menghampirinya.


“Hei, apa yang kau lakukan di luar sini? Ngomong-ngomong, ini, kukisnya tersisa satu, maaf, aku memakan terlalu banyak, hehe.” Rynn memberikan satu kukis sambil tersenyum tak bersalah.


Faye menggelengkan kepalanya. “Tak apa, buatmu saja.”


Mata Rynn bersinar. “Benarkah? Kau baik sekali. Aku berjanji akan selalu menemanimu.” Rynn mematahkan kukis menjadi dua. Lalu dia memberikan sebagian ke Faye. “Kau belum makan kan. Ambil saja. Teman harus saling berbagi.” Faye pun akhirnya menerimanya dan saat itulah Rynn untuk pertama kalinya melihat sebuah senyuman kecil yang terukir di wajah kaku Faye. Saat melihat keajaiban itu, hati Rynn semakin yakin untuk menemani gadis kesepian tersebut. Rynn lalu memegang tangan si gadis berjubah dan mengajaknya sebagai sesama gadis yang kesepian untuk berendam di kolam mata air.

__ADS_1


__ADS_2