
Terenna tak henti-hentinya terkagum. Mata penuh gairahnya mengamati kedalam hutan. “Aku tak menyangkan bisa sedekat ini dengan Hutan Burung Hantu.”
Sebuah figur lelaki muncul perlahan dari hutan, perlahan menampakkan wujudnya dengan jelas. “Kabar baik, Nona Terenna. Temanku mengijinkan kita masuk,” kata Archie
“Baguslah.”
Archie mengantarkan Terenna ke dalam hutan. Di antara cahaya matahari tipis, mata mereka bertemu. Jawaban yang dicarinya selama bertahun-tahun, ada di hadapan Terenna. Sesosok gadis berjubah dengan mata biru yang berdiri di depan sebuah rumah di tengah hutan.
Jantung Terenna berdegup kencang, antara senang bertemu dengan Faye dan merinding akan energi sihir yang mengalir di sekitar Faye. Terenna saat itu memiliki banyak pertanyaan yang ingin disampaikan, hingga mulutnya tak kunjung terbuka saking campur aduk perasaannya saat ini. Bahkan pesona gadis berjubah itu, mengalahkan segala sihir yang pernah diciptakan Terenna seumur hidupnya.
Berbeda dengan Terenna, Faye diam bukan karena pertama kalinya mengijinkan orang luar masuk, tapi karena gadis tersebut memang dingin. Memang begitulah sikap gadis itu.
“Perkenalkan, ini Nona Terenna, Penyihir Kerajaan sekaligus guruku.” Archie memecah keheningan antar mereka berdua.
Terenna meletakkan tangan kanannya di dada kirinya, dan membungkuk. “Senang bertemu denganmu, Faye Yang Agung.”
“Cukup Faye saja,” kata Faye.
“Aku menantikan seumur hidupku untuk bertemu denganmu, tapi sebelum itu ada tugas yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.”
Faye mengangguk. “Tentu.” Gadis itu berbalik dan memimpin menuju Pohon Sihir.
Terenna mendekatkan kepalanya ke telinga Archie. “Hei, apa kau mempermainkan gurumu?” bisiknya.
“Aku tidak berani menipu nona. Cerita yang kukatakan itu benar.” Archie yang berjalan di belakang Faye ikut mengecilkan suaranya. “Seharusnya nona bisa merasakannya dari awal.”
“Aku kira penyihir yang tinggal disini orang yang berwajah jelek dan jahat. Apakah gadis itu selalu bersikap dingin seperti itu?”
Archie tertawa kecil. “Kau tak boleh kasar, nona, memang kenyataannya seperti itu. Maklumi saja.”
Faye melirik ke belakang. “Apa yang kalian bicarakan?”
“Tak ada.”
Terenna menarik lengan baju Archie. “Apa kau merasakan energi lainnya?”
“Iya. Sesaat lagi, nona akan tahu.”
Faye berhenti. “Sudah sampai.”
Mata Terenna terbuka lebar saat melihat sebuah pohon besar tumbuh di tengah-tengah. Pohon itu mengeluarkan sejumlah energi sihir yang Terenna rasakan dari tadi. Dahannya pun besar dan bercabang. Kulit pohon terlihat pucat dengan daunnya yang rontok. Jumlah daun yang gugur di tanah menggunung setinggi pinggang manusia.
Ksatria Hitam menghampiri Faye. “Maaf, Nona Faye, tak ada kabar baik yang bisa kusampaikan, tapi aku sudah membersihkan daun-daun yang berguguran.”
Terenna menunjuk ke Ksatria Hitam dengan penuh keterkejutan. “Ohh, Ksatria Hitam yang waktu itu dibicarakan.”
“Nona Terenna, sudah kubilang jaga sikapmu, Nona Terenna,” gusar Archie.
Ksatria Hitam menoleh ke Terenna. “Siapa?”
__ADS_1
“Perkenalkan, Paman Ksatria Hitam, ini Nona Terenna, Penyihir Kerajaan Aruindale yang sekarang.”
Terenna membungkuk di hadapan Ksatria Hitam. “Maafkan kami, atas kelancangan di kedai waktu itu.”
“Kalau kau bisa, kumohon, sembuhkan pohon ini,” potong Faye, menatap Terenna dengan penuh harap.
Terenna memberikan keranjangnya pada Archie, lalu mengamati kulit pohon dari dekat. Wanita itu membungkuk, seperti kakek-kakek. Topi runcingnya yang besar dan digabung dengan jubahnya, justru semakin membuatnya terlihat aneh. Terenna menjetikkan jarinya di udara, dan seketika sebuah tongkat besar dari kayu ek muncul di tangannya. Ia menusukkan ujung bawah tongkat kayu yang lebih runcing ke batang pohon. Kulit pohonnya rapuh, hanya dengan tusukkan kecil saja sudah membuat retakan di kulitnya.
Terenna membalikkan tongkatnya, menusuk kulit kayu dengan ujung tongkat lainnya yang bertatahkan sebuah kristal biru. Pancaran kristal sangat jernih dan bening, hingga dapat melihat goresan yang sangat kecil di kristal. Terenna memejamkan matanya ketika kristal itu menyentuh pohon. “Aku tahu!” teriaknya.
Archie berusaha melihat dari bahu Terenna. “Ada apa, Nona Terenna?”
“Kau memalukan nama gurumu sendiri, Archie,” ejek wanita itu. “Bagaimana bisa kau tak menyadari ini?”
“Aku sama sekali tak mengerti.”
Kristal biru itu menyala terang saat Terenna menghentakkan tongkat ke tanah. “Sesuatu merusak saraf pohon ini dari dalam,” katanya. Ia lalu mengarahkan kristalnya di tanah. “Ikuti aku,” perintah wanita itu.
Faye, Archie dan Ksatria Hitam mengikuti wanita itu yang berjalan menguarkan tongkatnya ke bawah. Seperti penciuman tajam seekor serigala, tongkat itu menuntun Terenna dan yang lain ke sebuah tanah terbuka. Cahaya matahari menerangi tanah melewati kanopi pepohonan yang terbuka. Semak dan bunga liar tumbuh subur yang membentuk lingkaran di sekeliling tanah. Udara di sekitar pengap dan lembab, entah karena pancaran kekuatan dari Putri Sang Penyihir Agung atau tanaman liar dan pohon yang tumbuh sangat subur hingga sedikit berbeda dengan tanaman sejenisnya yang tumbuh di hutan lainnya.
Cahaya dari kristal berkedap-kedip, menandakan sesuatu terkubur di dalam tanah. “Di sini! Cepat, gali tanah ini sebelum terlambat.”
Melangkah ke depan di sebelah Terenna, Faye memejamkan matanya. Bayangan di kakinya bergejolak, lalu tumbuh dan membentuk sepasang tangan hitam. Bayangannya menjadi nyata, tipis tapi fleksibel dan kuat. Faye mengarahkan tangannya ke depan, memerintahkan bayangannya untuk menggali tanah tersebut. Sesuai dengan keinginan gadis itu, tangan bayangan tersebut memanjang dan membesar, sebesar gerobak. Kedua tangan bayangan itu menusuk melalui tanah, lalu mengangkat tanah tinggi di udara dengan sekali serokan.
Mata Terenna terus memandangi sihir Faye. Sihir misterius yang belum pernah ia lihat. Energi hitam menyelubungi gadis itu, namun sedikit Terenna rasakan, adalah kehangatan. Mungkinkah sihir ini yang dimaksud Tuan Saulmandria, benaknya.
“Inilah yang membuat Pohon Sihir sekarat,” ungkap Terenna, lalu menjatuhkan lututnya di pinggir cekungan dengan tidak sabar. Ia menusukkan ujung kristal ke cairan hijau, dan saat memejamkan matanya, cairan itu tersedot ke dalam kristal. Kristal itu menyedot sangat banyak cairan hingga warna hijaunya memenuhi kristal.
“Cairan apa itu?” Archie menatap cairan hijau yang berpendar di dalam kristal.
“Ini bisa ular.”
Faye mengernyitkan dahinya. “Ular?”
“Iya.” Terenna membuka tas selempangnya yang terbuat dari kulit hewan, penuh akan benda-benda aneh. Dengan cepat, Terenna mengambil sebuah botol kaca dengan ramuan sihir berwarna hijau diantara tumpukan bulu burung dan daun-daun yang mengering. Tak ada yang spesial dari bentuknya, hanya cairan biasa dengan gumpalan serat hijau, seperti tak diaduk dengan rata oleh wanita itu.
“Pegang ini.”
Archie mengambil tongkat sihir Terenna. Saat lelaki itu mengenggamnya, ia merasakan energi sihir yang besar mengaliri di tongkat sihir itu, tapi Archie sedikit gelisah karena seharusnya dirinya tak boleh menyentuh Tongkat Azaryaha yang legendaris milik Saulmandria. Sayangnya hukum seperti itu tak berlaku disini. Cairan hijau tak hanya memenuhi kristal tapi juga pikiran lelaki itu. Ular macam apa yang dapat merusak Pohon Sihir?
Archie tak mengedipkan sedikit pun matanya, ia ingin melihat suatu keajaiban dari Sang Penyihir Kerajaan. Begitu pula dengan Ksatria Hitam dan Faye yang tak sedikitpun mengalihkan pandangannya pada akar pohon seraya menyilangkan tangannya, dengan harapan terakhirnya.
Ramuan hijau itu berguncang seperti ombak ganas saat Terenna membuka penutup botol yang terbuat dari kayu dengan kuat. Aroma seperti campuran telur busuk, jerami kering dan bau aneh lainnya yang tak dapat di jelaskan menusuk hidung mereka sesaat tutup botol terbuka.
Bagi Ksatria Hitam bau darah kering dari tumpukan korban perang jauh lebih busuk dan tak nyaman daripada bau ramuan itu. Tapi bagi orang biasa, bau ini sudah cukup untuk membuat tidur mereka tidak nyaman.
“Ramuan Ular Bunga?” suara Archie sengau saat jarinya menjepit hidungnya yang malang.
“Apa itu Ramuan Ular Bunga?” Faye menutup hidung dengan punggung lengannya.
__ADS_1
Bau ramuan itu sama sekali tak menggoyahkan Sang Penyihir Kerajaan. Bau busuk seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. “Ini ramuan yang kuciptakan sendiri. Aku membuat ramuan ini untuk menghilangkan dampak bisa Ular Bunga saat diekstrak menjadi parfum.”
“Tunggu! Bukankah terlalu beresiko untuk mencobanya langsung? Kita tidak tahu jenis bisa ular apa yang meracuni Pohon Sihir.”
Wanita itu hanya melirik dan tersenyum kecil. “Bolehkah aku meminta sepetik Bunga Bulanmu?” pintanya ke Faye. “Dan Archie, di keranjangku ada bunga matahari, tolong ambilkan sekuntum saja.”
Gadis itu memberikan bunga putih yang sudah dipetiknya, sedangkan Archie menyerahkan sebuah bunga matahari segar dari keranjang bunga. “Bukankah obat itu tak akan bekerja pada Pohon Sihir?” heran lelaki itu.
“Tentu, tapi bukan obat itu yang akan kubuat.” Terenna melumatkan kedua bunga itu dengan tangannya dan mencampurkan ke dalam botol ramuan. “Bunga matahari dan Bunga Bulan menyimpan energi dari kedua objek agung di langit. Ratu Avaina menciptakan Pohon Perak dari gabungan cahaya matahari dan bulan, karena itulah yang membuat obatnya hanya bekerja pada Pohon Perak. Tapi sebenarnya kedua bunga itu bisa digunakan untuk obat lain.” Ia menggoyangakan botol itu dengan kencang, ******* bunga-bunga itu menyatu dengan cairan hijau, dan perlahan warna hijaunya menjadi lebih pucat. Campuran dua bunga itu juga membuat ramuan menjadi lebih wangi.
“Kau mencampurkan kedua bunga itu dengan ramuan agar efek ramuannya menjadi lebih kuat?” tanya Faye.
“100 poin untukmu, gadis muda.” Terenna menjulurkan tangannya ke depan dan menuangkan ramuan secara perlahan ke akar pohon. Ramuan itu membaluri akar pohon yang terkelupas, lalu meresap ke dalam akar. “Dengan campuran bunga matahari dan bunga bulan ramuan ini juga dapat menghilangkan dan menghentikan penyebaran bisa jenis apapun, termasuk yang mencemari Pohon Sihir.”
“Apakah Pohon Sihir benar-benar akan sembuh?”
“Tenang saja, meskipun reaksinya agak lama, aku yakin pohon ini akan segera sembuh.” Terenna memasukkan kembali botol ramuan di tasnya dan mengambil kembali tongkat sihirnya. “Yang membuatku penasaran, kenapa ular dapat meracuni pohon? Aku tak pernah mengetahui ada ular semacam itu.” Mata coklatnya memandangi kristalnya yang kini berwarna hijau. Wanita itu lalu mencengkeram kristal dengan tangan kanannya, dan seketika cahaya putih berkedip dengan cepat kemudian sirna. Saat Terenna melepaskan cengkeramannya, kristalnya kembali bersih dengan warna birunya. Penyihir itu memurnikan racun ular dengan sihirnya.
Dengan hati yang penuh kelegaan, Faye menggerakkan bayangan ke cekungan dan menjatuhkan gundukan tanah itu. Ia mengubur kembali akar tanpa menyisakan satu lubang kecil pun di tanah. “Di buku pun, seingatku juga tak ada jenis ular seperti itu.”
“Buku apa?” Terenna merespon perkataan Faye dengan cepat saat mendengar sebuah buku.
“Buku coklat tentang makhluk-makhluk mengerikan,” sambung Archie.
“Aku justru lebih penasaran dengan buku itu. Bolehkah aku melihatnya?”
“Maaf.” Dari belakang, suara Ksatria Hitam yang berat memotong pembicaraan mereka. “Mungkin saja itu salah satu ular milik Rasgan. Pria itu memiliki berbagai macam ular,” duga sang ksatria. “Ular raksasanya cukup berbahaya. Dia juga menggunakan ular-ular yang melilit tubuhnya sebagai baju pelindung.”
Archie tertegun sejenak, lalu melemparkan pandangannya pada Faye, mencoba menebak pikiran gadis itu akan apa yang dilakukannya. Keringat mengalir di wajahnya, ketika lelaki itu memikirkan hal buruk. “Jika benar itu ular milik salah satu ksatria Tenebrum, mereka berarti sudah siap untuk menyerang. Akan tetapi Aramor baru saja dihancurkan, tak mungkin mereka bergerak secepat ini.”
Faye terlelap dalam pikirannya sendiri. “Ini tidak mungkin. Apakah mereka sudah tahu keberadaan Permata Sihir disini?” gumamnya.
“Jadi pria bernama Rasgan dan teman-temannya lah yang membuat kekacauan ini.” Terenna mengambil kembali keranjangnya dari Archie.
“Kumohon, jangan beritahu Raja Aruindale soal ini. Karena diriku yang lemah ini, aku sudah melibatkan terlalu banyak orang.” Faye menyalahkan dirinya sendiri atas semua ini. Jika saja dia bisa menggunakan sihir dan berhasil menyelamatkan ibunya, ibunya akan ada disampingnya saat ini, menyelesaikan semua masalah yang ada. “Aku tak ingin menambah orang lain yang ikut terlibat dalam masalah ini.” Faye keluar dari bayang-bayang pohon, cahaya matahari menyinari wajahnya.
Terenna mengedipkan matanya. “Aku tak akan melakukannya. Akan tetapi, aku tetap akan membantumu atas dasar keinginan pribadiku sendiri.” Wanita itu menyeringai saat menyingkap pinggiran topinya.
Archie tertawa kecil, dia lebih tahu penyihir itu daripada yang lainnya. Archie tahu alasan sebenarnya wanita itu hanyalah untuk meneliti Putri Sang Pencipta Sihir, ini satu-satunya kesempatan yang tidak akan dia lepaskan begitu saja. Lelaki itu juga tahu bahwa gurunya adalah orang yang baik, jadi tak masalah untuk membiarkan gurunya melakukan hal yang dia sukai sekali-kali. Jika melakukan hal yang buruk kepada Faye, Archie sudah siap untuk memarahi gurunya.
“Baiklah, aku tak bisa berlama-lama lagi, aku harus kembali ke kerajaan sebelum Yang Mulia mencariku,” ungkap Terenna.
“Aku tak tahu apa yang harus kuberikan sebagai rasa terima kasihku,” kata Faye.
“Tenang saja, mengenal dan membantu Putri Sang Penyihir Agung saja sudah membuatku senang.” Terenna mengayunkan tongkatnya di udara, seketika tongkatnya lenyap dan digantikan oleh sebuah sapu ijuk. Wanita itu menduduki sapunya, dan terbang melesat ke atas, melewati dahan-dahan pohon.
Ksatria Hitam mendekati Archie, ia penasaran kenapa wajahnya biasa saja saat gurunya pergi. “Apa kau tak sedih? Kau tidak akan bertemu dengan gurumu lagi.”
Lelaki itu melipat tangannya. “Tenang saja, kita pasti akan bertemu dengannya lagi dalam waktu dekat.”
__ADS_1