
Nael meninggalkan bangsanya dan memilih kehidupan baru. Dia kemudian mempunyai 4 anak yang sangat dincintainya. Nina, anak perempuan tertua dengan rambut semerah api dan penuh semangat. Meskipun seorang gadis, Nina sangat menyukai pertempuran dan banyak menciptakan berbagai senjata hebat. Aena, anak perempuan kedua. Gadis yang lemah lembut namun tegas ini sangat menyukai lautan dan bermimpi untuk pergi untuk menemukan Samudera Tertinggi. Dia yang selalu menggantikan Nael untuk memarahi saudara-saudarinya. Velan, satu-satunya anak laki-laki. Lebih nakal daripada kedua kakaknya. Meskipun dia suka bermalas-malasan, Velan sangat menyukai berkelana ke berbagai tempat, namun Nael selalu menghukumnya karena suka menghilang dan pergi secara tiba-tiba. Dan yang termuda adalah Faye, dia adalah gadis yang pendiam dan kaku. Rambutnya hitam dan matanya biru seperti langit malam.
Suatu hari, Nael dan Murtal sedang keluar ke kota luar. Membantu para warga seperti biasanya. Di rumah, Nina berjalan menuju kamar adiknya Velan dengan langkah yang cepat dan perasaan yang gembira. Dia membanting pintu kamar Velan. Senyuman lebar tergambar di wajahnya yang ceria. “Velan. Lihat!” Gadis itu mengangkat pedang merah dengan bilah yang besar, gagangnya berwarna hitam dan terpasang sebuah permata berwarna merah terang. “Aku membuat pedang ini.”
Velan yang sedang bermalas-malasan di tempat tidur, tersentak mendengar suara keras kakaknya. Dia sudah terbiasa dengan hobi kakak tertuanya yang suka membuat senjata yang berbahaya, tapi pandangannya tertuju pada permata merah menyala di batang silangnya. “Bukankah itu permata milik Ibu?”
Nina menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya, “Ssst. Jangan bilang pada Ibu. Aku mengambilnya di bengkel sihirnya.” Gadis itu melangkah masuk. “Ayo berduel! Aku ingin mencoba senjata ini.” Wajahnya menyeringai memperlihatkan giginya.
Velan menggelengkan kepalanya. “Tak mau.”
Gadis itu mendekatkan kepalanya dan berbisik, “Akan kubantu kau bersih-bersih rumah hari ini. Sekarang jadwalmu kan?”
__ADS_1
Lelaki itu langsung tersenyum.
Mereka pun bergegas keluar dari rumah melewati halaman dimana Faye sedang memandangi kupu-kupu yang beterbangan dan menghisap sari bunga. “Faye, jangan bilang apa-apa pada Aena.” Nina berlari melewati adik bungsunya. Velan mengikutinya dibelakang.
Faye hanya mengangguk tanpa menoleh ataupun penasaran. Tatapan gadis itu selalu dingin seperti es di puncak gunung. Bahkan sifat jahil kakaknya tak membuatnya sedikitpun peduli.
Dari arah yang berlawanan dengan Nina dan Velan pergi, gadis dengan senyuman selembut lautan berjalan perlahan. Alisnya panjang, bibirnya juga indah. Langkahnya pun anggun dan aroma bunga mawar biru terpancar dari tubuhnya. Matanya tertuju pada Faye lalu menghampirinya. Dia membungkuk, tangannya yang halus mengacak-acak rambut Faye. “Halo adikku yang manis,” sahut Aena.
“Apa Faye tahu kemana Kak Nina pergi?” Dia menoleh ke dalam rumah. Matanya penuh rasa penasaran. “Tumben sekali aku tak mendengar suara berisik Kak Nina pagi hari ini.” gumamnya. “Dan bukankah hari ini giliran Velan yang bersih-bersih? Ya sudah, ayo kita buat kue yang enak.” Aena menggenggam tangan kecil adiknya.
Tiba-tiba suara benturan keras dan ledakan terdengar dari balik pepohonan di bawah bukit. Asap hitam mengepul dan menodai langit biru yang cerah. Aena terkejut dan menoleh ke kepulan asap tersebut. Dia memegang keningnya dan menghela nafas panjang.
__ADS_1
Aena lalu mengajak Faye pergi untuk memeriksa ledakan tersebut. Di sebuah lapangan yang luas, api melalap rumput dan semak-semak. Retakan tanah dimana-mana. Pedang merah besar mengeluarkan uap panas yang tinggi hingga dapat membelokkan cahaya. Nina dan Velan tampak saling menyeringai dan bertatapan. Nafas mereka terengah-engah. Berbagai luka tampak di sekujur tubuh mereka.
Aena langsung lari ke arah mereka, memukul kepala mereka yang kosong dan menjewer telinga mereka hingga merah. Hatinya tak lagi lembut seperti sebelumnya, bagaikan laut yang kadang tenang dan kadang berbahaya. “Bersihkan kekacauan kalian sekarang atau kulaporkan pada Ibu!” ancamnya.
Selagi melihat kakak pertama dan ketiganya dimarahi oleh kakak kedua, gadis itu tercengang dengan pertempuran dahsyat yang menyebabkan lingkungan sekitar menjadi hancur. Begitu pula hatinya juga ikut hancur. Rasa iri dan kekesalan menjalari hati gadis itu bagaikan api.
Anak-anak Nael mewarisi kekuatan sihirnya, meskipun kekuatannya tidak sekuat ibunya, mereka tetap bisa membuat hal-hal yang menakjubkan dengan sihir mereka. Namun, Faye dilahirkan berbeda, tidak seperti kakak-kakaknya, dia tidak memiliki bakat sihir turunan ibunya, bahkan tubuhnya tidak mampu mengeluarkan energi sihir meskipun dia sudah belajar dengan keras. Faye sering merasa malu sebagai putri penyihir, tidak bisa menggunakan kekuatan sihirnya. Dia tak pernah keluar rumah, tak pernah bermain-main dengan anak sebayanya. Selalu berlatih ilmu sihir, meskipun sama sekali tak ada perkembangan hingga akhirnya menyerah.
Keempat anak Nael yang sudah beranjak dewasa, memutuskan untuk berpergian ke penjuru dunia untuk membagikan ilmu sihir mereka dan membantu siapapun yang membutuhkan. Nael tahu kalau Permata Sihir tak boleh berada di tempat yang sama. Ia menyerahkan permata-permata itu ke orang yang dipercayainya. Permata terakhir yang dia berikan untuk putra-putrinya, dua permata merah untuk Nina, satu permata biru untuk Aena dan satu permata hijau untuk Velan.
Sedangkan sang ayah akhirnya menerima kerajaan yang menawarinya sebagai Penyihir Kerajaan. Tak bisa dihindari, perang pun terjadi dengan kerajaan yang Murtal layani terlibat. Akibat perang tersebut, Murtal tewas. Bahkan sihir perlindungan tak tertembus pun tak bisa melindunginya dari kematian sekalipun. Tubuhnya di pulangkan ke Nael tapi permata yang pria itu bawa hilang. Kesedihan melanda Nael, namun sebagai seorang penyihir terkuat dia harus tegar menerimanya. Nael mengubur tubuh suaminya di bawah Pohon Amoria, pohon yang melambangkan rasa cinta yang tulus dan abadi.
__ADS_1