
Menuruni sepasang anak tangga yang terpisah oleh perapian. Meskipun terpisah, kedua anak tangga itu memiliki akhir tujuan yang sama.
Dengan kaki-kaki kecilnya, ia menuruni satu persatu anak tangga dengan hati-hati. Ia tak ingin kejadian kakak pertamanya, Nina yang terlalu bersemangat hingga terpeleset dan jatuh dari tangga terjadi pada dirinya. Faye membayangkan seluruh tubuh kakaknya yang penuh luka akibat kecerobahannya sendiri.
Masih setengah anak tangga, tapi Faye sudah mendengar erangan dan geraman yang berasal dari ruang utama. Ia mendapati Rynn yang sedang membaca buku di meja dengan satu tangannya yang menekan perutnya.
Faye menarik kursi dan duduk di depan Rynn. Ia terkejut melihat banyak tumpukan buku di meja. Jika membaca semua buku yang tergeletak di meja secara terus-menerus, mungkin akan menghabiskan waktu hingga sore hari. Gadis itu memandang wajah Rynn yang merengut saat membaca sebuah buku. “Ada apa?”
Rynn menutup buku bersampul merah marun dengan judul mewah dari tinta emas bertuliskan, ‘Kisah Gerera dan Arwel.’
“Cerita buku ini menyebalkan.” Nada suaranya meninggi, wajahnya yang suram menjadi merah. “Kenapa Gerera tak membantu Arwel kabur dan malah membiarkan Arwel terbunuh oleh Miriar, si penghianat kejam ini.” Rynn menganjurkan bibir bawahnya dan meletakkan buku itu dengan sedikit keras di meja.
“Putri Gerera melarikan diri karena Pangeran Arwel yang memaksanya. Arwel tak ingin bayi mereka di dalam perut Gerera terluka akibat pemberontakan yang dipimpin Miriar. Itu konflik yang seru menurutku,” jelas Faye.
Rynn menekuk lehernya ke belakang dan mendesah. “Tetap saja cerita ini membosankan. Suasana hatiku jadi jelek gara-gara buku menjinjikan ini. Apa harus kubakar saja?”
__ADS_1
“Aku mengijinkanmu memasuki bengkel sihir, bukan berarti kau bisa bebas melakukan hal sesukamu.” Faye mengingatkan.
Aroma busuk seperti ramuan buatan Terenna menyebar dari dapur. Ksatria Hitam membawa dua piring di tangannya dan menyajikannya pada Faye dan Rynn. Aroma tak mengenakkan itu berasal dari sesuatu yang berwarna hitam gosong dan meletup-letup. “Silahkan dinikmati, Nona Faye.”
Faye mencoba menyendok cairan hitam yang mengeras dan melekat erat pada piring seperti lem. Saat itu Faye menyadari kalau memasak bukanlah keahlian Ksatria Hitam. Tentu saja, Rynn yang bodoh itu menyendok potongan bentuk padat sehitam zirah sang ksatria. Mungkin rasa laparnya yang tak tertahankan membuat indra penciuman dan penglihatan gadis itu memburuk.
Rynn melahapnya dengan tidak sabar. Terdengar sangat jelas kertakan giginya yang mengunyah benda keras mencurigakan itu. Faye tak tertarik untuk menerka-nerka bahan makanan apa yang digunakan Ksatria Hitam saat memasak, dia lebih tertarik melihat ekspresi seperti apa yang akan Rynn perlihatkan.
Setelah mengunyahnya dengan susah payah, gadis itu menelannya. Wajah gadis itu menghitam, air mata penderitaannya mengalir. Rynn bangkit dari kursinya sambil menjulurkan lidahnya yang berwarna hitam.
Faye tahu Rynn menginginkan segelas air, tapi melihat lidah hitamnya terjulur, air matanya menetes dan tubuhnya bergoyang-goyang tidak jelas itu merupakan pemandangan yang menarik di mata Faye.
Ksatria Hitam segera memberikan segelas air putih pada Rynn. Archie berdiri di anak tangga ketiga dari bawah dan melihat kegaduhan yang terjadi. “Apa kau tak apa?” tanya lelaki itu pada Rynn yang merasa lega setelah meneguk habis segelas air.
Rynn mengelap mulutnya dengan lengan tuniknya. “Terima kasih, Blackie, kau telah menyelamatkan hidupku.” Ia terengah-engah seperti habis berlari mengelilingi hutan.
__ADS_1
“Dia juga yang membuatmu hampir mati,” sahut Faye.
Archie menarik kursi dan duduk membelakangi perapian. “Jangan bersikap seperti itu pada temanmu sendiri,” ucapnya menasehati Faye.
Si ksatria langsung bersujud. “Maafkan aku, Nona Faye. Kupikir aku bisa menyiapkan sarapan untuk nona dan yang lainnya. Aku siap menerima hukuman apapun,” ucap pria itu dengan tegas.
“Tak perlu. Aku lebih suka kau membuatkan sarapan untuk Rynn setiap pagi,” ujar Faye.
“Kau jahat!” Bibir Rynn mengerucut dan tangannya terlipat.
“Kata orang yang ingin membakar buku milik orang lain hanya karena tak suka bagaimana cerita itu berakhir,” sindir Faye sembari memberikan tatapan dinginnya.
Archie yang paling normal di antara lainnya-dalam artian khusus, mencoba menenangkan dirinya. Mengingat kembali pelajaran etikanya ketika berada pada situasi yang memenatkan. Archie menyentuh dada kirinya dengan tangan kanannya, memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Setelah pikirannya dan jiwanya tenang, Archie menawarkan dirinya untuk membuatkan sarapan. Ia mengerahkan pengetahuannya yang dalam sebagai seorang Lanvinder yang harus menguasai banyak hal.
__ADS_1