
Mereka lalu berpisah, Faye dan Archie menuju ke barat hutan, sedangkan Ksatria Hitam dan Rynn menuju sisi timur. Archie mempercepat langkahnya mengejar Faye yang pergi lebih dulu. Udara dingin menembus jas mewah lelaki itu. “Faye, tunggu!” panggilnya.
Faye lalu berhenti, melirik Archie melewati bahunya. “Kau tak perlu memaksa. Tinggal saja di rumah, biarkan aku menyelesaikan ini.”
Archie menatap gadis itu. “Kenapa kau selalu ingin menyelesaikannya sendiri?” tanya lelaki itu sambil mengencangkan jasnya.
Gadis itu menunduk. “Karena ini segala apapun yang terjadi disini adalah tanggung jawabku.” Ia menggenggam kalung di balik jubahnya.
Tiba-tiba, terdengar suara pekikan keras bersamaan dengan kepakan sayap yang menggelegar di langit. Mereka lalu melihat ke atas. Seekor Taranau, burung hitam raksasa terbang di langit. Burung itu berusaha mencoba keluar, namun terhalang oleh cahaya berwarna biru yang mengelilingi hutan. Sejumlah petir dan guntur bergemuruh, menyambar langit dari sayap raksasa sepanjang 5 meter.
Archie tercengang sambil menunjuk makhluk itu. “Itu makhluk yang kulihat saat bersama Ksatria Hitam.”
Burung itu menoleh, menyadari keberadaan Faye dan Archie. Matanya yang bulat bermata biru menatap tajam. Lalu makhluk itu menukik tajam ke bawah. Sayap besarnya menghempaskan tubuh besarnya, dengan kecepatan yang luar biasa menuju mereka. Cakar yang setajam pedang bersiap untuk menyambar.
“Awas!” teriak lelaki itu.
Dahan pohon yang lebat menyelamatkan mereka. Burung itu terhenti di udara, terhalang oleh ranting dan dahan. Ia mengepakkan sayapnya, seketika petir menyambar. Burung itu berusaha melukai mereka dengan petirnya. Archie dan Faye berkelit ke samping menghindari sambaran petir. Angin yang berhembus dari kepakannya menyatu dengan petir yang dahsyat.
__ADS_1
Archie melindungi kepalanya dengan lengannya. “Bagaimana cara kita menyegelnya?”
Faye melihat sekeliling. “Ambil ini!” Gadis itu menyerahkan 3 lembar halaman ke Archie. Ia lalu mengarahkan tangannya ke depan, sejumlah bayangan muncul, meliuk dan memanjang, lengan bayangan itu mengambil dan mengumpulkan bulu-bulu hitam yang berjatuhan akibat gesekan dengan ranting pohon, lalu memberikannya ke Archie. “Gunakan itu. Bulunya seharusnya kebal terhadap petir.”
“Apa yang harus kulakukan dengan bulu ini?”
Faye melangkah mundur jauh dari jangkauan sambaran petir. “Pikirkanlah! Tutupi tubuhmu dengan bulu itu atau semacamnya, lalu arahkan lembaran sedekat mungkin. Aku akan menahan burung itu.” Gadis itu lalu mengarahkan bayangannya untuk mencengkeram kaki burung itu dengan kuat.
Burung itu memberontak dengan keras, berusaha melepaskan dirinya. Faye dan burung hitam itu saling tarik menarik.
Faye meringis. “Cepatlah! Aku tak tahan lagi!” Pijakannya hampir terlepas dari tanah. Angin meniupkan tudung gadis itu, mengibarkan rambut hitamnya yang berkilau terkena cahaya bulan.
Archie lalu mengarahkan ranting dengan jas berbulunya ke depan seperti payung. Lalu berjalan perlahan mendekati makhluk itu. Sejumlah petir menyambar jasnya, dan Archie tak merasakan apapun, hanya dorongan kecil. “Ini berhasil,” kata lelaki itu senang.
Ia lalu menuju makhluk itu tanpa keraguan. Jarak Archie dengan makhluk itu sangat dekat seakan-akan dirinya berada di dalam badai petir. Archie lalu mengeluarkan salah satu lembaran ke arah makhluk itu. Seketika sebuah energi muncul saat lembaran itu bergetar, bersamaan dengan cahaya biru terang yang menjulang, menerangi langit gelap. Burung itu tertarik oleh energi sihir yang sangat kuat. Angin berhembus kencang di sekitar lelaki itu dan petir menyambar ke mana-mana. Ranting patah terlempar angin, dan mengenai lengan lelaki itu. Tangan Archie berusaha menggenggam erat lembaran agar tidak terlepas. Semakin besar ukuran dan jumlah yang diserapnya maka guncangan dan energi yang dikeluarkan semakin besar.
Lalu perlahan burung itu terserap ke dalam lembaran bagaikan menghirup udara. Cahaya biru lenyap. Faye jatuh terduduk saat cengkeraman bayangannya terlepas. Lembaran yang sebelumnya kosong, mendadak muncul sebuah lukisan burung raksasa itu yang mengeluarkan petir dari sayapnya.
__ADS_1
Archie menarik nafasnya pelan-pelan. Lalu ia meletakkan jas berbulunya di tanah. Lelaki itu menghampiri Faye yang terjatuh dan membantunya berdiri kembali dengan menarik lengannya. “Kau tak apa-apa?”
Gadis itu menepuk debu dari jubahnya. “Ya. Aku tak apa.” Mata gadis itu tertuju pada lengan Archie. “Lenganmu terluka?”
Archie meregangkan lengannya. “Aku rasa tidak.” Lalu tangan lelaki itu mendarat di kepala gadis itu dan mengacak rambutnya. “Terima kasih telah mengkhawatirkanku.”
Faye lalu menepis lengan Archie. Ia memalingkan pandangannya. “Aku bukan anak kecil.”
Archie tertawa kecil. Ia lalu menggulung sisa lembaran dan memasukkannya dalam saku celananya. “Baiklah, satu sudah selesai. Sekarang kita ke mana?” Matanya melihat sekeliling.
“Kita akan ke barat laut hutan.” Gadis itu mengamati pepohonan di sebelah kirinya. “Pepohonan di daerah itu lebih sedikit dan jarak antar pepohonan lebih lebar.”
Wajah Archie berkerut. “Bagaimana kau tahu?”
Gadis itu berjalan ke kiri, menuju rerumputan di balik bebatuan. Faye lalu berjongkok. “Lihat ini.” Gadis itu menunjuk sebuah jejak seperti cakar kucing besar yang membekas di rerumputan. Jejak rerumputan tersebut gosong seperti terbakar. “Macan Maderazul sangat menyukai rerumputan yang terbuka. Satu-satunya tempat terbuka dan jauh dari gangguan Tarauna adalah bagian barat laut hutan,” jelasnya.
Archie berjalan melewati gadis itu. “Baiklah, aku percaya padamu.”
__ADS_1