
Kini di rumah hanya tinggal Faye yang masih berusia 14 tahun dan ibunya. Dia setiap hari melihat ibunya selalu sibuk bereksperimen di bengkel, menemukan berbagai macam sihir dan mencatatnya di buku. Ruang kerjanya tak pernah kosong sekalipun. Tumpukan perkamen dan berbagai peralatan sihir berserakan di ruang kerjanya. Kadang ibunya pergi untuk menerima panggilan dari berbagai tempat. Ada yang meminta ibunya mengajari sihir, membuatkan peralatan sihir atau memintanya menyelesaikan masalah. Kesibukan Nael semakin membuat Faye menjadi lebih kesepian dari sebelumnya.
Faye merasa kesal. Kenapa ibu harus melakukan semua itu? Membantu orang lain. Menyelesaikan masalah yang bahkan tak ada kaitannya dengan ibunya.
Saat Faye menanyakannya, Nael hanya tersenyum dan berkata, “Bukankah ini hal yang harus dilakukan, wajar kalau kita saling membantu sesama.”
Suatu malam, Nael melihat anak bungsunya duduk memeluk kakinya sambil memandangi bulan di halaman rumahnya ditemani sekawanan burung hantu yang bersiul di atas pohon. Rambut hitamnya yang berkilau melambai tertiup angin. “Faye, apa yang kau lakukan disini?” Suara Nael terdengar lembut dan menenangkan, seperti secangkir krim dan madu. Dia melangkah keluar rumah, menghampiri sang putri.
“Tidak ada.”
Nael berdiri di sebelahnya. Matanya tertuju ke putrinya. “Apa Faye tidak bermain dengan teman-temannya?”
“Aku tak punya teman.” Faye menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke ibunya.
Saat melihatnya malam itu Nael menyadari mungkin selama ini putrinya lebih kesepian daripada dirinya yang kehilangan orang yang dicintainya. Faye selalu melihatnya mempelajari sihir tanpa bisa mempraktekannya. Tak pernah keluar rumah karna malu dan takut diejek oleh anak-anak yang lain yang lebih menguasai sihir daripadanya. Nael sendiri selalu sibuk dan fokus dengan sihirnya sehingga dia tidak pernah menghabiskan waktu bersama putri bungsunya yang masih kecil.
Nael mengikuti pandangan putrinya yang menatap bulan. “Apakah Faye suka melihat bulan?” Dia lalu duduk bersilang di sebelah putrinya.
Faye mengangguk kecil. “Aku suka warna bulan. Sangat cantik.”
Nael tertawa kecil lalu tersenyum. “Bulan memang cantik. Ibu juga suka.”
Saat itu, pikiran liar anak-anak mengisi rasa penasaran di hati kecilnya. Faye bertanya pada Ibunya, “Sebenarnya apa itu bulan? Dan kenapa terlihat seperti matahari?"
“Bulan itu teman Ibu,” jawab Nael.
__ADS_1
Gadis itu menoleh. Wajahnya kebingungan.
“Ibu punya cerita menarik tentang bulan. Faye ingin mendengarnya?”
Tanpa perlu jawaban dari putrinya, Nael tahu bahwa Faye tertarik dan sangat ingin mendengarnya. Gadis itu hanya berpura-pura tidak tertarik dengan mengalihkan pandangannya.
“Dahulu kala, ada dua saudara di negeri yang jauh. Bulan dan Matahari. Bulan memiliki nama. Namanya indah dan sangat dikagumi orang-orang. Namanya adalah Eyana. Sementara nama Matahari lebih terkesan hangat dan kuat, Eldi. Dulunya mereka memiliki jiwa dan raga layaknya manusia, namun karena dunia masih dipenuhi kegelapan, Eldi mengorbankan dirinya untuk menjadi cahaya bagi umat manusia. Semua orang tidak sedih atas kepergian Eldi, justru bersyukur dan gembira karena Eldi terus menyinari mereka dengan cahaya hangat di atas langit. Eyana iri dengan saudaranya yang menjadi pujaan para rakyat. Eyana juga merindukan Eldi yang selalu bersamanya sebelum menjelma sebagai matahari. Lalu, ia merubah wujudnya menjadi cahaya kedua. Cahaya Eyana tidak seterang dan sehangat cahaya saudaranya. Lebih dingin dan suram. Namun, cahaya itulah yang memberikan ketenangan bagi orang-orang di dalam kegelapan-dimana cahaya Eldi tak dapat menjangkaunya. Bersama, mereka saling membantu menjaga para umat manusia dan senantiasa memberikan kebahagiaan.”
Faye hanya terdiam mendengar cerita Ibunya. Senyuman Ibunya pun seterang bulan pada malam itu. Faye paham, bahwa Ibunya adalah bulan yang merindukan kehangatan matahari. Meski kehilangan orang yang dicintai, Ibunya masih bisa tersenyum. Melupakan rasa sakit yang tak bisa terobati.
“Oh, kau tahu, kalau Eyana adalah seorang pria juga seorang wanita. Ketika bersama dengan Eldi dia akan menjadi seorang wanita yang dingin dan lembut, tapi ketika tidak ada Eldi di sisinya, dia akan menjadi seorang-” lanjut Nael sebelum terpotong.
“Apa Ibu tak takut?” Faye bergumam.
“Maaf?” Nael menyingkap rambutnya yang menutup telinganya. Dia lalu mendekatkan telinganya agar mendengar lebih jelas.
Nael langsung mendekap putrinya dengan erat seakan-akan tak mau melepaskan. “Tentu saja Ibu takut. Ibu tak bisa membayangkan kehilangan orang-orang yang Ibu sayangi lagi.” Dia lalu melonggarkan dekapannya dan menatap mata Faye. “Karena itu Ibu akan selalu menjagamu dan kakak-kakakmu sejauh apapun mereka berada.”
“Bisakah Ibu berjanji.” Gadis itu mendongak ke wajah ibunya. Mengarahkan jari kelingkingnya ke depan. “Aku tak tertarik lagi dengan sihir. Aku juga tak punya teman. Jadi bisakah Ibu berjanji untuk selalu bermain bersamaku?”
Nael mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Faye. “Tentu saja,” ucapnya sambil tersenyum.
4 tahun kemudian, Faye tumbuh menjadi gadis cantik seperti ibunya. Memandangi bulan setiap malamnya sudah seperti kewajiban baginya. Kini Nael tak sibuk lagi dengan sihirnya, dia menghabiskan sebagian waktunya untuk menemani putrinya. Nael selalu menyeritakan kisah-kisahnya dan hal-hal konyol kepada putrinya. Membawakan kukis almon kesukaan Faye sambil menyeruput teh kamomil yang masih hangat. Cerita kesukaan Faye adalah saat ibunya dulu berpergian menemui hal-hal yang menakjubkan disepanjang perjalanannya. Faye sekarang tak lagi berlatih sihir, dia menikmati hidupnya hanya bersama ibunya. Namun, Nael sangat bahagia dan bangga, melihat Faye kini sering tersenyum manis dan selalu terbuka untuknya. Semakin sering menghabiskan waktu bersama membuat gadis itu lebih ekspresif dari sebelumnya.
Faye duduk di rerumputan dengan tenang di bawah cahaya bulan. “Apa pekerjaan Ibu sudah selesai?”
__ADS_1
Disebelahnya, Nael duduk sambil menyilangkan kakinya. “Tinggal satu lagi. Negeri di barat memerlukan bantuan Ibu.”
Faye menundukkan kepalanya, bibirnya melengkung ke bawah.
Tangan hangat Nael melingkar di pundak putrinya, “Kali ini saja, Ibu janji. Setelah itu kita bisa bersama lagi.” Dia menyandarkan kepalanya ke kepala Faye seraya mengusap pundaknya. “Ada satu tempat yang ingin Ibu kunjungi, katanya pemandangan bulan di sana lebih indah dengan warna-warni bunga dan jauh dari pemukiman. Kita bisa pindah kesana dan tinggal di sana dengan tenang.”
“Benarkah?” Mata gadis itu menyala.
“Tentu saja.”
Mereka pun bersama-sama kembali menikmati cahaya bulan. Angin malam yang dingin mengibarkan rambut mereka. Kicauan burung hantu yang hinggap di ranting pohon dan bunyi jangkrik meramaikan suasana malam. Semakin lama burung hantu berkicau, kening Nael mulai berkerut. “Suara yang menjengkelkan.” Wanita itu bangkit. Wajahnya kesal dan tangannya mengepal. Dari kepalan tangannya muncul cahaya biru yang bergolak.
Faye langsung menggenggam tangan ibunya. “Jangan! Kicauan burung hantu itu membuatku tenang.” Dia berusaha menenangkan amarah ibunya.
Tangan mungil putrinya yang lembut membuat wanita itu luluh. Ia mengela nafas, berusaha untuk tenang. Wanita itu tersenyum dan mengusap kepala Faye. “Baiklah, Ibu tak akan melakukannya.” Dia berlutut di samping gadis itu. “Sebagai permintaan maaf. Ibu akan membuatkan sesuatu untukmu.” Nael mengulurkan kedua telapak tangannya menghadap atas di depan dadanya. Partikel cahaya putih perlahan muncul terkonsentrasi di telapak tangannya. Cahaya yang hangat itu menyinari wajah Faye. Cahaya itu menyatu dan menyusun suatu figur di telapak tangannya sedikit demi sedikit. Lalu terciptalah figur burung hantu dengan bulu seputih salju.
Matanya bulat. Paruhnya kecil melengkung dan cakarnya menjulur dari balik bulu kakinya. Burung itu mendengkur ketika Faye mengusap bulu perutnya yang lembut. Gadis itu tertawa kecil ketika burung itu melompat ke bahunya.
“Kau suka?” Nael duduk berpangku tumit. “Kau boleh menamainya,” katanya.
Gadis itu mengelus bagian bawah paruh burung itu, “Kalau begitu aku akan memanggilmu Rue.
Kebahagiaan putrinya adalah hal yang ingin selalu dilihatnya daripada apapun di muka bumi ini. Dia tak menginginkan hal yang lain, hanya satu. Nael bangkit lalu melipatkan tangannya. “Faye, kau sekarang sudah dewasa. Kau harus terbuka terhadap orang lain dan mendapatkan teman sebanyaknya-banyaknya. Temanmu nanti yang akan menggantikan posisi Ibu saat kau merasa kesepian.” Ibunya berkata seolah-olah tidak akan bersama lagi dengan Faye.
Gadis itu mendongak. Senyuman di wajahnya memudar. “Apa maksud Ibu? Jangan membicarakan hal yang aneh.”
__ADS_1
“Karena kau kesulitan mencari teman. Maka burung hantu ini yang akan memilih seseorang yang cocok denganmu, yang setia denganmu, yang cinta denganmu, yang menerimamu apa adanya dan menganggapmu sebagai tempat dimana dia diterima. Kau harus berbuat baik dengan temanmu maka temanmu akan berbuat baik juga kepadamu. Lindungilah mereka, jaga mereka selayaknya hal yang paling berharga bagimu dan jangan memaksakan keinginan temanmu, karena itu tidak baik. Ibu yakin Faye pasti akan mendapatkan teman-teman yang baik.”
Faye tertunduk, bibirnya menutup rapat. Dia merasakan hal yang aneh di setiap kata-kata yang keluar dari bibir ibunya. Nael lalu membungkuk dan mencium kening gadis itu kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Faye yang tak berkata-kata bersama Rue di tengah malam.