The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
BAB 1 Ch.03 Cerita Seram di Hutan


__ADS_3

Rumor dan gosip masih berlanjut, seakan-akan tak ada habis-habisnya keluar dari mulut warga. Entah mereka mengarang semuanya atau berdasarkan pengalaman seseorang. Warga membahas apa yang ada di dalam hutan angker tersebut. Banyak yang beranggapan di sanalah tempat tinggal berbagai macam monster berbahaya, atau tempat para roh halus meratap. Banyak yang berandai jika makhluk legendaris seperti naga, salamander api atau kuda bersayap hidup disana.


Kondisi hutan yang lebat dan luas sangat cocok bagi habitat hewan-hewan liar, bisa saja ada makhluk punah yang ditemukan kembali atau spesies baru yang belum pernah ditemukan.


Warga desa kemudian semakin berpikiran liar dan kreatif, mereka beranggapan hutan tersebut selain dihuni oleh naga, bersemayam juga iblis jahat yang menangkap manusia yang tak waspada dan membawanya ke dalam neraka yang panas atau mereka memakan manusia hidup-hidup, dan tulang-belulangnya dijadikan aksesoris mereka. Yang lain menambahkan, selain iblis ada juga malaikat dengan sayap hitam yang jatuh dari surga dan hidup di hutan tersebut, mencari para pendosa untuk ditumbalkan ke Tuhan agar si malaikat bisa kembali lagi ke surga.


Tak masuk akal dan konyol. Tapi, kenyataannya konspirasi seperti itu banyak disukai para warga. Selain cerita yang tercurahkan dari pikiran imajinatif mereka, ada sebuah kisah terkenal yang sudah diceritakan secara turun-temurun dari desa dan menyebar ke kota. Kisah tentang kuda dan majikannya.


Pada malam hari, seorang warga desa sedang sibuk membersihkan kandang kudanya. Ketika sudah selesai, dia lalu keluar dan ingin menutup pintu kandangnya.


Seekor kuda bercorak hitam putih miliknya yang awalnya tertidur dengan tenang tiba-tiba bangun dengan gelisah dan meringkik. Kuda itu berputar-putar dan berkali-kali menendang dinding kandangnya yang terbuat dari kayu. Kuda tersebut seperti berusaha keluar. Majikannya datang dan berusaha menenangkan kudanya, dirasa tak berhasil, dia mengambil pecutannya lalu memecut kudanya beberapa kali agar tenang.

__ADS_1


Bukannya kuda tersebut menuruti kemauannya, kuda tersebut malah menerjang dan mendorongnya. Kuda itu keluar dan berlari ke arah hutan. Sang majikan pun mengejarnya, dia mengikuti jejak kaki milik kudanya dan sampai di bagian terluar hutan. Sang majikan berhenti dan terkejut saat melihat siluet hitam muncul di kegelapan hutan di malam hari. Dengan kaki yang gemetaran, dia berusaha mengarahkan lentera yang dia bawa perlahan ke siluet tersebut. Belum sempat melihat dengan jelas, seketika si majikan tersebut menemukan dirinya seketika tak sadarkan diri.


Pagi harinya, si majikan terbangun, dia mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Tapi, dia tidak menemukan kudanya dan bahkan jejak kaki yang kuda tersebut tinggalkan hilang begitu saja. Si majikan tersebut berpikir untuk mencoba masuk ke hutan dan mengambil kudanya kembali, namun ketika dia mengingat kembali siluet tersebut, dia masih merasa takut dan membuat seluruh tubuhnya bergidik. Dia pun memutuskan kembali ke rumahnya dan meninggalkan kudanya ditelan kegelapan hutan.


Para penebang kayu desa juga memiliki cerita seram versi mereka sendiri. Biasanya para penebang memilih menebang kayu di hutan yang tak jauh dari pabrik kayu desa. Mereka tidak akan merepotkan diri untuk memilih menebang di Hutan Burung Hantu yang jauh, apalagi transportasi desa masih sedikit. Jadi para warga membangun pabrik kayu mereka di hutan yang lebih dekat dengan desa.


Selain itu, para penebang memiliki kepercayaan terhadap roh hutan yang menjaga Hutan Burung Hantu. Mereka sudah tahu bahwa larangan yang beredar untuk tidak menyentuh atau memasuki Hutan Burung Hantu, bukan untuk melestarikan hutan atau mencegah hewan-hewan agar tidak punah, melainkan agar roh hutan tidak mengamuk dan menyerang para warga. Para penebang pun juga sudah bersyukur karena memiliki hutan yang dekat dengan desa mereka dan lebih aman.


Suatu hari salah satu penebang desa ingin menebang kayu pepohonan di Hutan Burung Hantu. Menurutnya, karena hutan tersebut tak tersentuh oleh manusia, membuat pohon-pohon di sana tumbuh dengan batang yang kuat dan teksturnya halus sehingga kayunya berkualitas tinggi. Dia tidak peduli dengan larangan untuk tidak memasuki hutan. Dia juga mengabaikan perintah dan nasihat dari teman-temannya. Teman-temannya pun enggan mengejar si penebang, membiarkannya kapok dan mendapatkan ganjarannya sendiri.


Sambil mengelap keringat yang menetes di dagunya, dia melihat ke sekitar. Dia menyadari hutan itu terlalu sepi untuk ukuran hutan yang luas dan jarang disentuh. Dia tidak melihat rusa yang berkeliaran, kelinci yang melompat-lompat, bahkan serangga yang berdengung di kepala pun tak ada. Tanpa memikirkan yang aneh-aneh, si penebang melanjutkan pekerjaannya, dia memotong batang pohon menjadi lebih kecil lagi. Ketika sudah selesai, dia mengikat kayu-kayu yang sudah dipotong menjadi satu.

__ADS_1


Ketika dia meletakkan potongan kayunya di pundak, dia merasakan ada seseorang yang menatapnya dari kegelapan. Tatapan yang tajam bahkan seakan-akan sampai menusuk tubuh si penebang. Pikirannya mulai kemana-mana, dia bahkan mempersiapkan kapaknya untuk situasi terburuk. Dia memutuskan untuk membawa kayu-kayu yang sudah diikat dan enggan menebang lebih banyak dan lebih jauh ke dalam.


Atmosfer hutan tiba-tiba membuatnya bergidik, dia semakin was-was terhadap suara sekecil apapun. Perasaan gelisah dan tidak tenang menguasai tubuhnya. Dia lalu semakin mempercepat jalannya dan berhasil keluar dari hutan tersebut. Angin berhembus kencang dari dalam hutan dan menerpa si penebang hingga tulang-tulangnya merasakan dingin yang menusuk. Sang penebang tak menyangka hari sudah berganti malam saat meninggalkan hutan, dia mulai berlari dengan kencang sambil membawa setumpuk kayu dipundak kiri dan kapak di tangan kanannya. Nafasnya semakin berat seakan-akan dia berlari di puncak gunung. Si penebang juga merasakan kram menyiksa otot-ototnya.


Akhirnya si penebang sampai di desa, saat itu desa terlihat sepi karena sudah malam. Dia berpapasan dengan penjaga desa yang berpatroli. Ketika penjaga tersebut menyapa, si penebang tidak menggubrisnya dan langsung menuju rumahnya. Dia mengistirahatkan dirinya di kursi dan berusaha mengatur nafasnya. Setelah dia mengalami kejadian yang buruk tersebut, dia tetap berpikir positif dan menganggap kejadian tadi adalah kecemasannya yang berlebihan hingga membuatnya berhalusinasi. Kemudian si penebang meletakkan beberapa kayu yang sudah dia tebang ke perapian. Aroma wangi yang unik muncul dari kayu yang terbakar, membuat si penebang mengantuk. Dia pun tertidur dan berencana untuk memamerkan kayu yang dia tebang ke teman-temannya keesokan harinya. Saat itulah kengerian yang sebenarnya muncul.


Sepasang tangan dengan kuku hitam muncul dan mencekik leher penebang kayu yang tertidur pulas. Penebang kayu tersebut terkejut dan meronta-ronta, berusaha melepaskan lehernya dari cengkeraman tersebut, namun usahanya sia-sia. Pria itu terlalu mengantuk dan terlalu letih untuk melepaskan dirinya. Ketika dia hampir kehilangan kesadarannya karena kesulitan bernafas, dia terbangun.


Hari sudah pagi, namun mimpi yang dia rasakan begitu nyata hingga dia merasa kesakitan dengan bekas cengkeraman tangan di lehernya. Si penebang yang ketakutan merasakan kalau mimpinya adalah sebuah pertanda, sebuah ancaman karena dia telah mengusik roh hutan. Ia bergegas mengambil kayu tersebut meskipun ada yang sudah hancur terlalap api menjadi arang. Mengikat tumpukan kayunya dengan tali dan meletakkan kayu yang sudah menjadi arang ke dalam toples. Si penebang lalu pergi keluar dengan tergesa-gesa.


Di jalan, dia bertemu dengan dengan temannya. Sama seperti sebelumnya, si penebang tidak menghiraukannya. Temannya yang sudah menyadari saat melihat wajah si penebang yang pucat, hanya bisa tersenyum melihatnya menderita. Si penebang sampai di hutan, dia meletakkan kayu-kayu yang sudah dipotong dan menebarkan arang di tanah tempat dia menebang pohon sebelumnya. Dia lalu berlutut dan memohon maaf, dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan setelah itu langsung lari terbirit-birit begitu mendengar suara gesekan ranting pohon.

__ADS_1


Namun, itu semua hanyalah cerita dongeng yang bisa saja dibuat untuk menakut-nakuti, tak ada yang bisa memastikan keasliannya. Tak ada dokumen tertulis yang dapat dijadikan sebagai bukti. Bisa saja cerita tersebut asli namun mereka bukan mengalami hal yang mistis melainkan hal-hal yang dapat dijelaskan dengan akal sehat. Justru ketakutan terhadap hal-hal yang tak ada tersebutlah yang malah memproyeksikannya menjadi nyata.


Ada juga cerita tentang gadis desa yang mencari kolam mata air keabadian di hutan. Mungkin dari semua cerita, cerita satu inilah yang paling banyak orang mengaku menyaksikannya, karena cerita ini pernah dialami langsung oleh warga desa pada masa dulu. Meskipun begitu, masih banyak orang yang tetap tidak memercayainya sebagai cerita asli.


__ADS_2