The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Merindukan yang Lalu


__ADS_3

Berjalan menuju rumah, Ksatria Hitam menggosok lumpur yang menempel di zirah kakinya pada keset berwarna cokelat. Saat pintu terbuka, pria itu mendapati tumpukan buku yang tersusun di meja tengah. Di baliknya, Rynn sedang membaca buku dengan kepalanya yang tertahan di meja. Wajahnya muram seperti kedinginan. “Selamat datang kembali, Blackie.” Suara gadis itu kesah bersamaan dengan suara gemuruh di perutnya.


“Dimana yang lainnya?”


“Di kamar.” Perutnya kembali bersuara. Gadis itu mengerang seperti makhluk buas yang kelaparan. “Blackie, bisakah kau membuatkanku sarapan?”


“Kenapa tak buat sendiri?”


“Aku malas,” jawab gadis itu singkat. Kertas berderak saat Rynn membalikkan halaman berikutnya. “Cepatlah, sebelum aku mati kelaparan,” desaknya.


Dari balik pelindung kepalanya, terdengar helaan nafas yang berat. Ksatria Hitam menuju ke dapur. Medan perang adalah wilayahnya, tapi dapur itu lain cerita. Pedang dan perisai adalah senjatanya, bukan spatula dan talenan.


Tangan sang ksatria tercipta untuk mengayunkan pedang bukan untuk mengaduk adonan. Tapi menyerah bukanlah jalannya sebagai seorang ksatria. Dengan bahan-bahan yang ada di depan matanya, pria gigih itu menggunakan pemahamannya dan mulai memasak.


Di ruangan kamarnya yang nyaman, Faye berdiri di depan jendelanya. Pembatas dari kayu memisah jendela kacanya menjadi dua. Gadis itu memutar kuncian jendela ke bawah dan membuka salah satu jendelanya. Udara pagi menerobos masuk, menggoyangkan jubah burung hantunya yang tergantung pada dinding.


Gadis itu memandang di bawah pohon yang rindang, sepasang batu nisan tertanam di antara kesendirian. Daun-daun dan kelopak bunga berguguran tertiup angin, keindahannya akan membawakan pesan hangat dari sang gadis pada sang pemilik nisan, ayah dan ibu gadis itu.


Faye mengeluarkan kalung bertatahkan permata cantik berwarna biru gelap yang tergantung di lehernya. Permata itu terikat dengan tali dari serat daun Amoria. Ia menggenggam erat permata itu dan merasakan energi sihir ibunya terkumpul dalam sebuah batu permata kecil. Dalam benaknya, gadis itu tahu betul betapa rindunya pada ibu dan keluarganya.


Gadis itu memakai jubahnya dan menutup pintu kamarnya dengan ukiran sebuah figur burung hantu. Di ukir dengan begitu detail dan halus. Mengukir pintu dengan simbol dan bentuk-bentuk adalah salah satu ide kakak ketiganya, Velan. Tujuannya adalah untuk mengabadikan serta menghormati ambisi, mimpi, dan harapan sang pemilik ruangan. Faye bukannya berambisi untuk menjadi burung hantu atau semacamnya, gadis itu hanya menyukai burung hantu. Tak seperti ukiran pintu kakak tertuanya yang berbentuk pedang. Menciptakan pedang maha dahsyat yang menjadi impian terbesar Nina.


Faye berhenti disebuah pintu dengan ukiran sayap. Pintu itu sebelumnya milik Velan, sekarang seorang putra bangsawan yang kabur menempatinya, dan pintu itu terbuka cukup lebar untuk Faye mengintip ke dalam. Di sana, Archie sedang duduk membelakangi pintu. Ia seperti sibuk akan suatu hal. “Apa yang kau lakukan?” Suara Faye membuat lelaki itu terlonjak dari kursinya.

__ADS_1


“Oh, Ann …  Faye … a-aku sedang menulis surat untuk Meredith.” Archie memutar badannya untuk melihat Faye sambil menunjukkan selembar kertas dengan tulisan dari tinta hitam. “Aku akan menitipkan surat ini saat bertemu dengan Nona Terenna nanti.”


“Kau rindu dengan Meredith dan keluargamu?”


Archie meletakkan pena bulunya dalam botol tinta dan mengangguk. “Meskipun ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hanya berpapasan dengan Ayahku di rumah saja sudah sangat sulit,” kata lelaki itu. “Tapi Meredith sudah menjadi temanku sejak kecil, dia gadis yang baik dan selalu membantu siapapun. Dia selalu mengkhawatirkanku sejak dulu, karena itulah aku membuatkannya surat agar dia tak perlu khawatir lagi. Tentu saja aku menuliskan untuk Ayah dan Ibuku juga.”


Faye melihat Archie seperti dirinya, merindukan masa lalunya yang penuh warna, hanya saja Archie bisa kembali kapanpun dia mau, sementara Faye tidak. Tentu saja Faye tidak akan memaksanya untuk tinggal disini. “Apa kau akan kembali? Seharusnya kau sudah tak ada urusan lagi disini sejak awal. Dan juga kau seorang keluarga bangsawan.”


“Aku akan kembali,” jawab Archie tegas. “Tapi bukan sekarang. Justru karena aku seorang bangsawan, aku tak bisa membiarkan kejahatan meracuni tanah kelahiranku. Aku akan membantumu hingga kau tak perlu bersembunyi di dalam hutan lagi.”


Faye duduk di sebuah ranjang putih yang empuk, di sebelah meja Archie. Rapi seperti baru dan wangi semerbak lavender mengisi seluruh ruangan. Gadis itu meraba seprai putih yang halus dan dingin meskipun sinar matahari sudah menyusup ke dalam melalui jendela.


Ingatan tentang kamar ini sebelum ditempati Archie membayangi gadis itu. Kamar berantakan penuh dengan jubah dan pakaian di lantai, aroma kulit kayu yang tercampur dengan angin kering, dan lelaki yang selalu bersantai di ranjangnya.


“Dia dikenal dengan banyak nama, melayani banyak raja, datang untuk membawa berita dari jauh dan memperingati akan ancaman. Kakakku memiliki banyak nama. Salah satunya, Pembawa Kabar, kau pasti pernah mendengarnya.”


“Ya, Penyihir Yang Mengembara, Utusan Angin Vindur. Aku pernah membacanya di buku.”


“Dia adalah orang yang bebas, bebas kemanapun dia mau seperti angin. Dia juga orang yang hebat, dia selalu tahu apa yang aku pikirkan bahkan sebelum aku membuka mulutku, seolah-olah dia membaca melalui pikiranku,” kata Faye.


“Apa karena kebebasannya, dia bebas memberikan permata sihir ke Raja Aramor?”


Mata Faye mengamati barisan lilin padam pada chandelier yang tergantung di langit-langit. Tersusun dari tanduk-tanduk rusa yang saling menyangga dan diukir dengan sangat detail. Gadis itu mengingat saat-saat kakak ketiganya yang terampil duduk di halaman mengukir kayu dengan begitu cermat menggunakan pisau putih pemberian ayahnya.

__ADS_1


“Aku rasa tidak,” Faye menggeleng.


“Tindakannya memang berbahaya, memberikan permata sihir ke orang lain tapi kurasa dia punya pemikirannya sendiri.”


“Aku malah ingin sekali bertemu dengannya. Kau tahu, seperti bertemu dengan seseorang yang terkenal.” Archie menarik sikunya ke belakang lalu meregangkan lengannya ke atas.


Faye menghela nafasnya pendek. “Jangan berharap apapun darinya, ia datang dan pergi secara tiba-tiba seperti angin.”


“Apa kau tau dimana kakakmu sekarang?”


Gadis itu menggeleng. Sejak dia menjauhkan diri dari keramaian tidak mungkin dia tahu kemana Velan pergi, bahkan Faye tak tahu dimana semua kakaknya berada. Apakah kakak-kakaknya mengunci diri jauh dari pemukiman sama sepertinya atau mungkin sudah tak ada di dunia lagi?


Archie mengangguk, dia terlihat seperti paham akan suatu hal. “Dulu saat aku kecil, aku selalu menganggap kalau penyihir adalah seseorang yang bijak dengan topi runcing, jubah dan sapu terbang seperti Nona Terenna,” ucap lelaki itu.


“Tapi semenjak bertemu denganmu, semuanya justru bertambah aneh.”


“Topi runcing dan jubah bukanlah hal yang wajib bagi penyihir, hanya saja Ibuku punya selera yang aneh dan orang-orang malah mengikutinya. Berkata kalau itu semua adalah kehormatan bagi seorang penyihir.”


“Aku berandai-andai bagaimana perasaan Nona Terenna saat mengetahui sejarah dibalik topi runcing dan jubah penyihir,” kata lelaki itu dengan memasang wajah jahilnya.


Faye bangkit setelah melihat Archie mengambil kembali pena bulunya di botol tinta. “Baiklah, aku memberikanmu privasi, silahkan lanjutkan saja pekerjaanmu.”


Faye berjalan melalui lorong yang dipenuhi pintu-pintu kamar dengan lukisan abstrak karya kakak keduanya di antara pintu-pintu. Sebuah representasi visual mengenai kehidupan dan semesta menurut sudut pandang pelukis yang memiliki ribuan makna hanya dengan melihatnya saja. Dilukis dengan cat alami dan terlihat seolah-oleh pelukisnya hanya mencipratkan cat dengan acak. Aena memiliki cita rasanya sendiri. Gadis itu melanjutkan langkahnya setelah dia mengamati lukisan yang sulit dirasakan baginya.

__ADS_1


__ADS_2