The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Gadis Bermata Biru


__ADS_3

Tanpa ragu Archie terus menyusuri jalan hutan, tanpa beristirahat. Saat bulan berada tepat di puncak kejayaannya, Archie samar-samar mendengar kicauan burung hantu yang membuatnya penasaran dan mendekatinya. Semakin lama kicauan tersebut semakin keras dan semakin dekat. Entah mengapa rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Dalam benaknya dia tidak yakin apa yang akan ditemuinya, apakah hal buruk atau harapan, ataukah tidak ada apa-apa. Pikirannya menjadi kemana-mana, namun langkahnya hanya tertuju satu arah. Dan saat itulah Archie menghentikan langkahnya, dia melihat sosok gadis cantik bermata biru yang pernah menghabiskan waktu bersama dengannya, duduk di dahan pohon memandangi bulan. Archie mematung, terpesona dengan wajahnya, pikirannya pun menjadi kacau.


“Anna? Kaukah itu? Syukurlah kau masih hidup. Aku mendengar hal yang buruk menimpamu. Apa kau dan orang tuamu baik-baik saja?” Wajahnya menggambarkan kebahagiaan dan rasa rindu yang tak tertahankan.


Gadis itu terdiam ketika melihat Archie dan mendengar ucapannya, lalu dia berkata, “Mungkin aku terlihat mirip di matamu, namun aku bukanlah sosok yang selama ini kau kenal.”


“Oh, maafkan aku.” Wajah bahagia Archie perlahan hilang dan kembali seperti sebelumnya yang penuh akan kesedihan. “Sepertinya kau sosok yang sering diceritakan ketika aku masih kecil. Ada satu yang ingin aku tanyakan. Kumohon, apakah kau bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal dengan kekuatanmu? Kudengar kau bisa mengabulkan apapun.”


“Tidak ada sihir yang bisa meghidupkan orang yang sudah meninggal dan lagipula aku tidak memiliki hak atas kehidupan dan kematian.”


“Aku tahu,” Dia merosotkan pundaknya karena kecewa, “Aku memang sulit merelakan dirinya. Aku selalu menolak kenyataan. Dan benar, kau bukan sosok yang aku kenal. Namun kau memiliki mata biru indah yang sama sepertinya. Jadi, kumohon izinkan aku membuatnya seperti itu. Izinkan aku mengingatmu sebagai gadis yang kucintai,” pinta Archie dengan memaksakan dirinya tersenyum.


Gadis tersebut menyadari senyuman palsu Archie, lalu dia melihat seekor Burung Hantu Putih yang hinggap di dahan pohon mengisi kegelapan malam dengan cahaya putih yang terpancar di bulu-bulu halusnya. “Tak bisa.”


“Kenapa?”


“Kelak kau akan menyakiti dirimu sendiri dan orang disekitarmu.”


“Tak apa. Lagipula mereka yang mencintaiku hanyalah demi keuntungan diri mereka sendiri. Memanfaatkan statusku demi kebanggan dan kehormatan palsu.”


“Baiklah,” jawab gadis itu.


“Kau yakin?”


Sang gadis tak menjawab, kembali melihat bulan, ia menganggap urusannya dengan Archie sudah selesai. Keheningan dan kecanggungan pun dirasakan oleh Archie selama beberapa menit, dia bingung juga penasaran apa yang dipikirkan gadis tersebut.


“Bolehkah aku bertanya? Apa yang sedang kau lakukan?” ucap Archie memulai pembicaraan baru.


“Memandangi bulan,” jawab gadis tersebut singkat bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke Archie.


Archie pun semakin kebingungan, jawaban singkatnya langsung memutus pembicaraan. Menutup segala variabel untuk dibacarakan. Rasa canggung ini benar-benar membuatnya mati. Lagipula, Archie melihat gadis tersebut dingin dan tidak tertarik untuk melakukan pembicaraan. Saat berpikir keras, Archie melirik jubah yang dikenakan gadis tersebut, dia melihat kesempatan untuk membuka pembicaraan baru, “Kenapa kau memakai jubah tersebut?”

__ADS_1


“Aku menyukainya.”


Lagi-lagi jawaban pendek. Keahlian berbicaranya sebagai bangsawan kini sia-sia. Archie pun tidak tahan terhadap orang yang kaku dan dingin terhadapnya. Jika selalu bersikap seperti itu, maka hubungan antar seseorang tidak akan berlangsung lama.


Suara gemerisik dari balik kegelapan mengagetkan Archie yang sedang kesal. Sosok gadis desa muncul sambil mengelap rambutnya yang basah dengan kain, “Tenang saja, sifatnya memang seperti itu,” ucap gadis tersebut yang membuat Archie keheranan.


“Siapa kau?”


“Salam kenal, namaku Rynn dan gadis yang sedang duduk disana, Faye,” ucap gadis bernama Rynn dengan senyuman yang menghiasi malam saat itu.


Rynn pun mengajak Archie yang masih memproses semuanya ke sebuah rumah di tengah hutan yang diterangi sejumlah lentera lilin di sudut rumah tersebut. Archie semakin bingung dan heran dibuatnya. Saat mengamati rumah tersebut mata Archie tertuju ke tanaman rambat dengan bunga putih yang cantik menghiasi pagar rumah itu.


“Ohh, ini Bunga Bulan. Cukup jarang aku melihat seseorang menghiasi rumahnya dengan tanaman ini,” ucap Archie.


“Kau tahu?” Faye muncul secara tiba-tiba di sebelah Archie yang membuat jantung lelaki itu melompat.


Archie berusaha menarik nafas. “Tentu saja, herbologi adalah salah satu pelajaran yang wajib dikuasai bagi setiap keluarga bangsawan. Walaupun cantik, Bunga Bulan ini salah satu jenis bunga yang hanya mekar saat malam hari, karena itu bunga ini tidak cocok untuk dijadikan hiasan rumah. Apalagi bunga ini memiliki kandungan racun yang cukup kuat, berbahaya bagi manusia dan juga hewan,” ungkapnya.


“Hei, apa yang kalian lakukan? Ayo masuk,” teriak Rynn dari dalam rumah yang mengajak Archie dan Faye masuk ke dalam.


Archie meletakkan lenteranya di halaman rumah. Ia lalu mengikuti Rynn masuk ke dalam rumah dan sampai di sebuah ruangan dengan 5 pintu yang memiliki ukiran simbol berbeda-beda sementara gadis berjubah berbalik dan berjalan menuju pepohonan. “Karena kau sudah memutuskan untuk tinggal disini dan dia mengijinkanmu, maka kau bebas memilih kamarmu sendiri. Lagipula kamar-kamar ini kosong,” ucap Rynn bersemangat.


“Tunggu sebentar, bolehkah aku meminta penjelasan terlebih dahulu.”


“Apa kau lihat Rue, si Burung Hantu Putih?”


“Aku rasa aku lihat satu di tempat tadi.” Ucapannya tidak terlalu yakin.


“Burung Hantu Putih itu memilihmu. Seseorang yang terpilih berarti sudah diakui dan bebas melakukan apapun di hutan ini, termasuk tinggal disini. Kau ingat kan cerita-cerita seram dimana banyak orang hilang dan lupa ingatan. Mereka adalah orang-orang yang tidak diizinkan oleh Burung Hantu Putih sehingga dia menolak mereka dengan memberikan hukuman yang bermacam-macam.”


“Pantas saja dia terlihat dingin.” Archie melipat tangannya. “Ternyata gadis tersebut cukup kejam.”

__ADS_1


“Jangan mengatakan seperti itu! Dia melakukannya demi melindungi hal yang berharga baginya. Saat aku pertama kali bertemu dengannya, meskipun dia tidak menunjukkan ekpresi apapun, aku bisa merasakan dia hanyalah gadis yang kesepian.”


“Dan kapan kau pertama kali bertemu dengannya?”


“Aku sudah lupa berapa lama.” Gadis itu menggaruk kepalanya. “Kurasa saat desa mengalami kekeringan karena perang.”


Mata Archie membelalak. “Kekeringan? Maksudmu Perang Sintila? Bukankah itu 28 tahun yang lalu? Hei, berapa umurmu sekarang?”


“Kalau sudah selama itu, berarti umurku sekarang 47 tahun, hehe.”


“47 tahun? Tapi kau terlihat seperti gadis 19 tahun pada umumnya. Jika umurmu sudah sangat panjang, berarti gadis itu mungkin jauh lebih tua lagi dan dia selalu sendirian disini selama itu, menanggung bebannya sendiri.” Archie sedikit merendahkan suaranya. Dia mengingat dirinya beberapa saat lalu saat seseorang mengulurkan tangan untuknya namun dia malah menolaknya dan bersikap sok kuat. “Lalu apa lagi?”


Gadis itu menjawab, “Tidak ada. Hanya itu yang dia ceritakan padaku.”


Rynn pun mengajak Archie untuk duduk di ruang depan yang terdapat sebuah meja dan kursi serta perapian. Lelaki itu menyandarkan pedangnya pada pinggir meja. Rynn kembali dari dapur, menyediakan sebuah teh kamomil untuk menjamu Archie. Selagi mereka berbincang dan mengakrabkan diri, Archie pun menyeruput teh. Kehangatan teh dan aroma wangi dari kandungan kamomil membuat hatinya yang gelisah dan bertanya-tanya menjadi tenang, seakan-akan dirinya sedang bermeditasi.


Banyak pertanyaan muncul di benaknya, namun, Archie penasaran terhadap satu hal yang menganggu pikirannya saat itu. Hal apa yang berharga bagi gadis itu hingga melakukan semua ini? Archie sesungguhnya tahu bahwa dia tidak boleh mencampuri urusan orang lain, tapi hatinya terus melawannya yang membuatnya tidak tenang. Mungkin seperti ini yang dirasakan Meredith ketika dengan tulus menawarkan bantuan untuknya.


Archie lalu mendorong kursinya dan berdiri, dia melangkahkan kakinya ke arah pintu, namun saat di ambang pintu, dia berpesan kepada Rynn, “Katamu aku boleh memilih salah satu kamar? Kalau begitu, kamar dengan ukiran sayap, tolong dipersiapkan.” Archie pun berjalan menyusuri hutan. Sambil melihat sekitar dia masih tak menyangka berada di dalam hutan yang ditakutkan oleh orang-orang. Masih ditempatnya, Faye memandangi bulan sambil mengelus kepala Burung Hantu Putih yang dirinya lihat beberapa waktu lalu.


Archie memanjat pohon dengan menggapai ranting sebagai pegangannya, lalu dia mengangkat tubuhnya dan duduk di samping gadis di dahan yang yang tebal dan cukup kuat untuk menopang mereka berdua. Sementara sang gadis tak menoleh ataupun terganggu dengan kehadiran Archie.


“Maaf, sebelumnya aku memanggilmu Anna, kurasa itu sedikit jahat, menganggapmu sebagai gadis lain. Lain kali aku tidak akan melakukannya,” ucapnya menyeselai perbuatannya.


“Tak apa,” balas Faye. Keheningan berlangsung sejenak, sebelum gadis itu memecahnya. “Kenapa kau masih disini? Aku sudah bilang kalau aku tak bisa membangkitkan orang mati, bukan?”


“Ah, tidak. Saat disini, saat aku melihatmu, entah mengapa aku perlahan mulai bisa merelakan Anna,” ungkap lelaki itu. “Aku sudah dengar dari Rynn walaupun tidak banyak. Jadi kau sudah melalui banyak hal sendirian selama ini. Mungkin, aku bisa membantumu dan meringankan sedikit bebanmu. Tak apa kan menambah satu teman lagi?”


Saat mengatakannya, Archie terlihat lebih lega dan bebas, terbebas dari rasa sakit dan beban yang menyiksanya. Pertemuannya dengan Faye dan cerita dibaliknya membuat Archie sedikit demi sedikit mulai merelakan kepergian Anna dan kini dia telah memilih kehidupan barunya.


“Kau tak ingin kembali?”

__ADS_1


Archie menggeleng. “Kurasa aku sudah lelah dengan kehidupan bangsawan. Lagipula tak ada hal disana yang membuatku merasa ingin kembali.”


Bulan perlahan meninggalkan posisinya, tangan yang mengelus kepala Burung Hantu Putih pun perlahan berhenti. Walaupun gadis itu tidak sedikitpun menoleh, dia masih mendengarnya dan itu membuatnya sedikit terkejut. Lalu gadis itu berkata dengan suara yang lembut dan pelan namun jelas, “Baiklah.” Gadis itu menjawab. “Aku tak akan memaksamu.”


__ADS_2