
Hari pertama musim semi yang cerah, muncul seorang ksatria berbaju besi serba hitam yang duduk santai dan hendak menikmati hidangan manis dan hangat khas kedai. Aroma darah kering bisa tercium dari pedang ksatria tersebut yang berwarna hitam sepenuhnya. Dia menyembunyikan wajah gagahnya dari balik pelindung kepalanya, menambahkan kesan misterius dan berbahaya, hanya menyisakan mulutnya yang sengaja tak terlindungi untuk menyantap makanannya. Merasa terganggu setelah mendengar perdebatan antara warga tentang berapa lama melewati hutan, dia meletakkan minumannya, terdiam sejenak lalu berkata, “Hanya dia yang menentukan berapa waktu yang dibutuhkan untuk menguji kalian.”
Setelah menyantap makanan dan menghabiskan tetesan terakhir anggur miliknya. Dia menyerahkan 20 Pengrium perak kepada pelayan dan langsung meninggalkan kedai. Di luar kedai, dua orang dengan baju lengan panjang berwarna hitam muncul dengan membawa pedang yang di sarungkan di pinggangnya, menahan ksatria hitam tersebut dan menggiringnya ke gang sepi yang gelap. Kedua orang itu adalah intel kerajaan yang berusaha menangkap sang ksatria asing untuk mengeruk informasi darinya.
__ADS_1
Menurut mereka, ksatria tersebut tidak mungkin datang ke kedai dengan baju pelindung hitam, pedang yang memiliki aroma darah dan mengatakan hal seperti itu tanpa alasan. Mereka memaksa sang ksatria untuk mengatakan yang sebenarnya sambil mengikat kedua lengan ksatria dengan tali dan menyingkirkan pedangnya. Salah satu intel mengeluarkan Pedang Hitam milik sang ksatria tersebut dari sarungnya. Warna pedang itu sangat legam, tapi yang membuatnya menarik adalah sebuah permata berwarna hijau terpasang pada batang silangnya. Begitu berkilau dan terkesan mewah.
“Permata apa ini? Zamrud?” tanya pria intel yang mengikat tali.
__ADS_1
“Kurasa bukan, aku belum pernah lihat zamrud sehalus dan seterang ini, tapi permata di sebuah pedang? Ini baru seleraku.” Pria intel itu meraba gagangnya dan mencoba ketajaman pedang ke kotak kayu yang tergeletak di gang tersebut. “Ini lebih mudah daripada harus mencari informasi ke Blinderberry yang pelit itu,” ucapnya. Wajah pria itu merah, dan matanya seakan-akan tak fokus. Pria itu mabuk.
“Jangan sentuh pedangku! Pedang itu bukan milik kalian!” geramnya. Setelah itu, kedua intel yang sudah jelas memiliki pengalaman dan pelatihan tersebut pingsan dihajar habis-habisan oleh sang ksatria dengan tangan kosong.
__ADS_1
Ksatria itu mengambil pedangnya dan meninggalkan mereka berdua di gang. Itulah pertama dan terakhir kalinya ksatria hitam muncul di kota. Ada beberapa warga yang mengklaim melihat sang ksatria tersebut memasuki hutan sendirian. Para warga dibuat kebingungan dengan ucapan ksatria tersebut di kedai dan kehadirannya yang misterius. Apakah yang dikatakannya benar atau dia hanya bersikap gila? Tidak ada yang tahu pasti tentang topik ini.
Kedua intel yang siuman pun tidak bisa mendapatkan informasi yang jelas darinya, apalagi dua intel tersebut terlalu ceroboh. Saking menikmati menguping pembicaraan warga saat di kedai, mereka terbawa suasana dengan membuat diri mereka mabuk. Ingatan mereka menjadi kacau dan informasi-informasi yang sudah didapatkan hilang. Tanpa warga dan anggota intel sadari, kunci untuk membuka rahasia Hutan Burung Hantu itu ada pada ksatria tersebut dan segilintir orang. Jika ksatria hitam tersebut ada di dalam genggaman seseorang, tidak hanya rahasia hutan, kekuatan yang dahsyat pun bukan lagi hal yang mustahil untuk diraih.
__ADS_1