
Keluarga bangsawan di Aruindale sangat taat dengan kehormatan dan harga dirinya. Entah itu kehormatan palsu atau bukan. Kehidupan bangsawan sangatlah berat bagi Archie Lanvinder. Archie ingin hidup sesuai keinginannya. Dia benci kalau orang tuanya yang selalu menentukan hidup dan cintanya demi kehormatan tersebut. Sebagai putra sulung keluarga Lanvinder, Archie akan menggantikan posisi ayahnya sebagai Kepala Keluarga Lanvinder. Untuk menjadi seorang Kepala Keluarga harus memiliki pasangan untuk mendampinginya dan melanjutkan keturunan. Kedua orang tua Archie menjodohkannya dengan Meredith, putri keluarga Zania. Keluarga Lanvinder dan Zania sudah memiliki hubungan yang cukup lama, oleh karena itu, pernikahan Archie dan Meredith diharapkan agar dapat mempersatukan dua keluarga terkenal di Aruindale dan membuat hubungan semakin lebih erat ke depannya.
Meredith adalah sosok wanita yang cantik dan anggun, cocok menjadi pasangan Archie yang tampan dan baik hati. Berita pertunangan ini memberikan harapan bagi kedua keluarga. Namun, Archie tidak menyetujui permintaan pertunangannya, dia enggan menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya. Archie meyakini, sama sepertinya, Meredith juga tidak memiliki perasaan terhadapnya. Meredtih tidak akan mau, kalau bukan karena statusnya yang mengharuskannya menikah dengan pilihan orang tuanya. Ayah Archie yang kukuh tidak mempedulikan apakah Archie cinta atau tidak, selama membuat keluarga Lanvinder terus hidup dia akan menyutujui pernikahan anaknya. Tanpa kuasa untuk menolak ayahnya, Archie hanya bisa menunggu tanggal pernikahannya diadakan.
Pada malam hari, pesta perayaan pun di adakan di kediaman keluarga Lanvinder. Dengan memakai jas merah gelap berekor dan celana hitam, Archie berjalan di antara kerumunan, menyapa dengan elegan setiap tamu.
Archie lalu menghampiri ayahnya yang sedang berbincang-bincang dengan pria lain di dekat meja penuh dengan makanan mewah. Abery Lanvinder yang melihatnya, memberikan aba-aba kepada lawan bicaranya untuk memberinya waktu berdua dengan putranya. Pria itu membungkuk dan pergi.
“Bagaimana? Sudah merasa puas? Pandangan dan senyuman, semua ditujukan kepadamu, putraku.” Abery mendentingkan gelasnya ke gelas putranya dengan perasaan bangga.
Archie mengangkat bahunya, wajahnya tampak tak bersemangat. “Tidak juga.”
“Jangan begitu. Setelah kau menikah dengan Meredith, seluruh keluarga Zania ada di tanganmu. Kita bisa mendapatkan kekuatan ekonomi keluarga Zania dan harta berharga mereka. Keluarga lain pasti tidak akan berani bermacam-macam dengan dua keluarga besar. Tak lama lagi, keluarga lain akan tunduk dan melayani kita, Archie. Ini adalah pencapaian terbesarmu.” Abery tersenyum sambil menepuk pundak Archie.
“Itu semua keinginan Ayah, bukan keinginanku. Aku hanya ingin menikah dengan seseorang yang benar-benar kucintai bukan demi kehormatan keluarga.” Tangan kiri Archie mengepal erat, menandakan kekesalannya yang selalu tertahan.
“Itu lagi? Ayolah, Archie. Kau sudah besar. Jika tidak bisa mendapatkan istri, keluarga Lanvinder bisa hancur. Kau tidak mau kan?” Wajah tua Abery berkerut kesal. “Pokoknya ayah tidak ingin mendengar itu lagi. Sudah sana, para tamu yang baru datang menunggu sambutanmu.” Pria itu mendorong punggung Archie.
Archie dengan perasaan kesal ingin sekali memukul wajah ayahnya yang keras kepala, tapi jika dia melakukannya saat ini, pasti situasi akan lebih kacau lagi. Archie pun menenangkan dirinya. Meletakkan gelasnya, lalu menghampiri satu persatu tamu untuk sedikit bercengkrama dan mempererat hubungan.
“Wah, putra Tuan Abery sangat bisa diandalkan ya.”
__ADS_1
“Sudah tampan, pintar juga. Kerja di bawah pimpinan raja secara langsung sudah bukan mimpi lagi baginya.”
“Enaknya, Nona Meredith, bisa mendapatkan suami seperti Tuan Archie yang baik dan benar-benar mencintainya.”
“Kudengar selain teknik berpedangnya yang hebat, Tuan Archie juga bisa menggunakan sihir.”
Sanjungan-sanjungan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari hingga Archie merasa bosan dan muak. Segala salam sambutan dan etiket yang sudah menjadi budaya bangsawan pun membuat Archie kelelahan. Bermaksud untuk mencari udara segar di luar, Archie mendapati Meredith yang juga berada di luar sedang menikmati langit malam. Cahaya bulan menembus sela-sela rambutnya yang tertiup angin. Gaun kuning keemasan tampak menerangi malam, menambahkan pesona anggun yang sudah terpancar dari awal. Archie menghampiri Meredith yang saat itu membawa segelas minuman anggur di tangannya.
“Mencari udara segar, Tuan Pusat Perhatian?” Meredith menggoda saat Archie berdiri di sampingnya saat itu.
“Aku tidak menyangka kau juga disini,” ucap Archie sambil menghela nafas panjang.
Meredith melirik dan melihat wajah Archie yang penuh pikiran, “Kalau ada masalah, kau bisa cerita padaku. Lagipula kita ini tunangan, kan.” Kata-kata yang lembut keluar dari bibir merah cerahnya yang basah setelah dia menyeruput minumannya.
“Sudah kuduga. Aku tahu, kita tidak memiliki rasa cinta satu sama lain selayaknya pasangan. Hubungan yang kita jalani ini hanyalah tradisi dan paksaan kedua orang tua kita, demi menyatukan kedua keluarga. Tapi aku yakin kita akan melalui semua ini bersama.” Meredith memberikan senyuman tulusnya.
“Kau wanita yang baik. Jika saja aku mengenal lebih dulu denganmu, mungkin aku tidak masalah dengan pertunangan. Namun, aku sudah puny-”
“Kekasih? Aku sudah tahu. Waktu di pasar, aku melihatmu menatap seorang gadis sangat lama.” Bahu gadis itu merosot.
4 bulan sebelum pertunangan mereka, pagi itu Archie melewati pasar, dia melihat cahaya biru mengkilap yang terpancar dari mata gadis desa biasa. Archie pun merasakan cinta pada pandangan pertama saat itu. Dia bahkan sengaja melewati pasar setiap hari untuk melihat gadis tersebut. Setelah beberapa hari, Archie tidak lagi menemukan gadis bermata biru tersebut di pasar. Dia pun berjalan pulang dalam kesedihan, di tengah jalan, Archie bertemu dengan sosok yang cantik bagaikan ratu dengan pakaian desa yang ia tunggu kehadirannya. Mata mereka saling bertemu, mematung selama beberapa saat sebelum gadis tersebut membuka pembicaraan terlebih dahulu.
__ADS_1
“Ada yang bisa aku bantu, tuan?” Suara lembut berasal dari gadis yang sedang membenarkan rambutnya.
“Bolehkah aku mengetahui namamu, wahai gadis desa?” sambut Archie sambil meletakkan tangan kanannya di dada kirinya dan sedikit membungkuk.
Gadis itu berkata, “Anna, tuanku.”
Setelah itu, Archie pun sering bertemu dengan gadis bernama Anna secara diam-diam. Anna sering merasa khawatir ketika seorang bangsawan mengajak gadis desa keliling kota dengan penyamaran. Archie juga secara diam-diam sering membelikan pakaian dan perhiasan mewah untuk Anna. Meskipun ini terlalu berlebihan baginya tapi Anna tidak bisa menolaknya karena dia takut jika menolak bangsawan akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Archie dan Anna pun sudah menghabiskan waktu bersama selama sebulan. Dulu Anna mengira para bangsawan adalah mereka yang haus harta dan kekuasaan dan tidak peduli terhadap rakyat desa, namun Archie berbeda, dia melihat sosok Archie adalah seorang lelaki yang bersungguh-sungguh, baik, peduli terhadap orang lain dan rela mengorbankan apapun. Sebagai gadis desa dia tidak pernah merasakan diperlakukan layaknya putri kerajaan. Kebaikan hati Archie membuat gadis itu nyaman berada di dekat sang lelaki, dan seiring waktu benih-benih cinta tidak hanya muncul pada Archie, namun gadis tersebut juga merasakannya.
Pada sore hari, Archie mengajak Anna ke suatu tempat yang jauh dari kota. Di bawah kelopak bunga berwarna merah muda yang tertiup angin dataran Aruindale, Archie akhirnya menyatakan perasaannya di bawah sebuah Pohon Amoria yang tumbuh subur di bukit. Setelah kebersamaan yang mereka lalui, waktu pun ikut menumbuhkan perasaan yang sama pada hati Anna. Namun, hati Anna saat itu masih ragu, dia dilema akan perasaannya. Ketika Anna melihat wajah Archie yang tulus, dia pun mencoba membuka hatinya dan akhirnya menerima cintanya di bawah pohon.
Di kediaman milik Lanvinder, Meredith melihat kekhawatiran di wajah Archie, “Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun,” kata gadis itu. “Pantas saja kau selalu menolak ayahmu soal pertunangan ini,” sambungnya.
“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak menolak pertunangan ini?” Archie sedikit meninggikan suaranya.
“Tentu saja aku menolak. Tapi tidak bisa. Aku tidak seberani kau, aku hanya bisa menuruti orang tuaku.”
Archie mendesah. Keheningan menguasai malam pada saat itu.
“Lalu apa yang akan kau lakukan jika pernikahan ini dibatalkan?” tanya Meredith.
“Aku ingin sekali hidup bebas, berkelana ke berbagai tempat menjauhi tradisi bangsawan yang mengekangku. Aku akan pergi meninggalkan kota ini dan hidup bersama Anna.”
__ADS_1
“Bagaimana jika mereka, jika orang tuamu menemukanmu? Kau tahu kan, hubungan keluarga bangsawan dan warga desa itu dilarang. Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini.
“Aku tahu itu, tapi…” Archie tidak mengakhiri kalimatnya. Dia memilih untuk kembali ke pesta meninggalkan Meredith di bawah sinar bulan.