
Beberapa hari setelahnya, Nael berpamitan dengan putrinya. Dia memakai jubah hitam dan topi hitam runcing. Sebuah tas selempang berisi banyak peralatan sihir tergantung di bahu kanannya. “Ibu pergi dulu.” Nael lalu melangkah keluar melewati pagar rumah. Sebuah sapu ijuk muncul dari udara begitu saja di tangannya.
“Baik, hati-hati di jalan,” ucap Faye seraya melambaikan tangannya ke Ibu.
Nael memiringkan sapunya lalu duduk menyamping di atas gagang sapu yang terbuat dari kayu ek hitam. Dengan sihirnya, sapu itu terbang membawa Nael di udara. Dia menarik tasnya ke pangkuannya agar tak jatuh. Tangannya mencengkeram topi runcingnya yang menutupi sebagian rambut panjangnya yang berkibar.
Wanita itu terbang semakin tinggi hingga dia dapat menyentuh langsung gumpalan kapas putih di langit. Angin menerpa wajahnya yang muda meskipun sudah berumur tua. Dia menarik nafas panjang sambil memejamkan mata. Merasakan kesejukan langit pagi yang cerah. Nael membelokkan sapunya saat sekawanan burung terbang dari arah yang berlawanan.
Nael sampai di gerbang kerajaan keesokan harinya. Dinding seputih susu dengan ukiran yang rumit dan indah mengelilingi kota dan kastil di dalamnya. Bendera merah bergambar naga berkepala lima berkibar di puncak dinding dan menara. Bendera tersebut terpasang pada tiang logam dengan lapisan emas di ujungnya.
Wanita itu turun dari sapunya lalu memutar pinggangnya yang sakit ke kiri dan ke kanan. “Melelahkan sekali. Aku ingin segara menyelesaikan ini dan pulang.” Dengan sihirnya, sapu itu lenyap kembali di udara.
Dua penjaga gerbang berzirah lengkap menyambut Nael di gerbang. “Selamat datang di Tenebrum, Nyonya Venefika. Yang Mulia sudah menunggu kehadiran Nyonya.”
Salah satu prajurit dengan sehelai bulu terpasang di pelindung kepalanya mendekati Nael dan membungkuk. “Biarkan diri hamba mengantar anda, Nyonya Venefika.”
Prajurit itu mengantar Nael hingga sampai di ruangan besar yang mewah dengan segala emas dan perak menghiasi ruangan tersebut. Bahkan dudukan lilin dan vas bunga terbuat dari lapisan permata yang berkilau. Sebuah meja panjang dengan kedua kursi berada di ujung meja tersebut mengisi bagian tengah ruangan. Seorang pria tua dengan rambut putih dan mahkota emas bangkit dari kursi dan menyambut Nael. “Selamat datang, wahai Penyihir Agung, Nyonya Venefika yang hebat. Silahkan duduk.”
Nael membungkukkan badannya, “Salam Raja Erlobad, Penguasa Tenebrum. Terima kasih atas sambutannya yang mewah ini.” Dia lalu melangkah ke kursi di salah satu ujung meja. Pelayan pria datang menarik kursi untuk Nael, lalu dia menempatkan kain serbet berlapis emas di pangkuan Nael. Nael menyerahkan topi runcingnya pada pelayan wanita di sampingnya. Satu pelayan pria lainnya datang membawa segelas anggur. Dia lalu menuangkannya di gelas di depan Nael. Tiga pelayan terakhir datang membawa sejumlah masakan mewah bahkan terlalu mewah bagi wanita itu.
__ADS_1
Raja Erlobad yang duduk di ujung meja satunya tersenyum. “Silahkan menikmati. Aku akan menjelaskannya setelah makan siang.”
Mereka berdua pun makan dengan lahap. Berkat pengalamannya berkunjung dari satu tempat ke tempat lainnya, Nael memahami betul etika saat makan dalam kerajaan. Setelah selesai, pelayan datang mengambil piring-piring dan sendok.
“Terima kasih atas jamuannya,” ucap Nael. “Makanan tadi memang dibuat begitu sempurna hingga rasanya sangat enak, hanya saja aroma lilin yang menyengat itu menganggu nafsu makanku, Yang Mulia.”
“Sebuah lilin beraroma seharusnya bukan masalah besar bagi Sang Penyihir Agung, bukan?” Sang Raja tersenyum. “Lagipula, lilin ini barang mahal. Aku mendapatkannya saat berkunjung ke negeri di utara.”
“Itu mengesankan.” Nael meneguk anggur yang berwarna merah dalam gelas kaca yang dibentuk dengan sangat cantik. “Negeri seperti apa yang Yang Mulia kunjungi? Aku penasaran.”
“Negeri dengan benteng dan kastil seputih salju. Tidak mungkin, penyihir sepertimu tidak tahu negeri itu.”
Pria itu terkekeh-kekeh. “Tentu saja. Aku sudah berjanji akan mengatakannya setelah selesai perjamuannya.”
“Katakan.”
“Aku terpesona dengan Permata Sihir yang kau ciptakan. Permata dengan kekuatan untuk merubah dunia. Aku menginginkan salah satunya, permata mendiang suamimu.” Erlobad menyeringai. “Sekarang tak ada yang memilikinya, bukan?”
Mata Nael menyipit. Dia paham maksud Erlobad menanyakan hal itu. “Aku tak kan memberikan Permata Sihir Murtal, lagipula permata itu sudah hilang. Tak ditemukan dimanapun.”
__ADS_1
“Kalau tak boleh, bagaimana dengan membuatkan satu permata untukku.”
“Aku menolak, Yang Mulia,” jawab Nael tegas.
Erlobad mengernyit terheran. “Kenapa? Apa raja yang agung ini tak pantas mendapatkan berkah kesaktian dari Dewi Penyihir? Uang, prajurit, tanah, tak ada yang tak bisa kudapatkan.”
Nael menghela nafasnya. Dia mendorong kursinya dan bangkit. “Tak baik untuk menguasai kekuatan yang besar untuk diri sendiri. Jika sembarang orang memilikinya, itu bisa merusak pikiran dan meracuni jiwa. Menguasaimu dan menarik tubuhmu ke dalam kegelapan.”
Raja Erlobad tersenyum kecut. “Aku tak paham apa maksudmu.” Dia berkilah.
“Maaf, aku bicara sembarangan, Rajaku.” Wanita itu berbalik mengambil topi kerucutnya dan melangkah ke pintu. Dia berhenti lalu menatap sang raja melalui bahunya, “Sekali lagi maaf Rajaku. Aku masih memiliki kebaikan dalam hatiku, aku tak akan dengan mudahnya membuatkan Permata Sihir untuk orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri.” Nael tersenyum lalu pergi.
Sang raja tertawa kecil, “Ah begitu ya. Baiklah, sangat mengecewakan.”
Seorang prajurit datang untuk mengantar Nael keluar.
Setelah wanita itu pergi, sesosok pria berbalut mantel merah muncul tanpa suara di belakang sang raja. Matanya sama hausnya dengan sang raja, haus akan kekuatan. “Sang penyihir telah menolak. Apa langkah selanjutnya, Rajaku?”
“Panggil para ksatria merah. Kita akan mengotori tangan kita sendiri.”
__ADS_1