The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Hukuman dan Hadiah


__ADS_3

Keesokan harinya, dia kembali ke pedagang tersebut dan menukarkan buah yang sudah dia petik dengan satu kantung Pengrium yang memiliki jumlah yang sama dengan sebelumnya. Darin masih tak percaya, dia mendapatkan uang yang banyak dengan begitu mudahnya.


Di jalan, Darin melihat pakaian baru dan dia langsung membelanjakannya. Saat dia hampir menghabiskan uang terakhirnya, Darin teringat hutang yang harus dilunasinnya. Dengan sisa uang yang sedikit dia membayar hutangnya meskipun tetap masih belum cukup menutupi seluruh hutangnya. Kejadian tersebut terus berulang selama seminggu, dia selalu membeli barang hanya untuk digantikan dengan barang yang lebih bagus dan baru, sisanya untuk membayar hutang yang masih jauh dari kata lunas.


Setelah hari ke 8, Darin kembali membawakan dagangannya tapi dia tidak menemukan sang pedagang di kiosnya. Darin menemukan surat di sebuah keranjang yang berisi alamat untuk Darin mengantar barangnya. Bukan di pasar atau disekitar desa tersebut. Awalnya Darin kebingungan, alamat yang ditujunya terletak di dekat hutan yang cukup jauh, bukan di hutan yang selalu menjadi lahan kebutuhan desa. Darin berpikir mungkin pedagang tersebut orang yang tidak suka tempat yang ramai, karena itu dia memilih tempat yang jauh.


Ketika Darin sudah sampai di lokasi yang dituju, dia tidak menemukan siapapun disana. Tiba-tiba sebuah kayu yang panjang dan keras menghantam kepala bagian belakang Darin dengan keras, membuatnya terjatuh dan langsung pingsan di tempat. Darin sempat melihat siluet orang yang membuatnya seperti ini, dan tak lain adalah pedagang berkumis melengkung yang Darin temui. Dan seseorang yang memegang kayu yang ternyata adalah si penagih hutang. Pedagang tersebut merampas dagangan Darin dan langsung pergi meninggalkan Darin yang tergeletak tak sadarkan diri.


Pedagang itu menyeringai. Jarinya memutar-mutar ujung kumisnya. “Hehe, ini mudah. Yah, walaupun sedikit rugi karena orang ini selalu membelanjakan uangnya, bukannya melunasi hutangnya.” Pria itu lalu memberikan sekarung Pengrium ke si penagih hutang. “Sesuai janji, ini imbalanmu.”


Darin selama ini tak menyadari bahwa si pedagang dan penagih hutang berkomplot untuk menipunya. Karena Darin tidak memiliki pengalaman berdagang, si pedagang memanfaatkan hal tersebut untuk memberikan jumlah Pengrium yang seharusnya lebih banyak 2 kali lipat. Bahkan uang yang Darin berikan kepada penagih hutang di kembalikan ke pedagang. Dan akhirnya Darin terperangkap dalam jebakan si pedagang, barang dagangnya sudah dirampas, buah-buahan di hutan pun dikeruk habis oleh Darin dan entah kemana si pedagang dan si penagih hutang tersebut pergi.


Darin akhirnya terbangun saat malam hari. Sembari memegang kepalanya yang masih nyeri, Darin terkejut saat di sebelahnya terdapat 3 karung besar. Padahal dia masih mengingat kejadian sebelumnya, barang dagangannya sudah diambil oleh pedagang itu. Darin yang kebingungan dan penasaran mencoba melihat isi dari karung tersebut. Karung pertama berisi buah-buahan segar yang banyak, karung kedua berisi pakaian dengan kain yang halus dan lembut, dan karung yang terakhir berisi Pengrium emas yang banyak. Di lubuk hatinya, dia sebagai manusia biasa, ingin mengambilnya.

__ADS_1


Saat Darin melihat ke sekeliling, dia melihat sosok gadis berjubah hitam dengan mata biru yang bersinar di kegelapan muncul di antara bayangan pepohonan. Darin menelan ludahnya, lalu berkata, “Permisi, apakah ini milikmu?”


Gadis berjubah hitam yang memiliki nama Faye itu menatap Darin, lalu berkata, “Kalau kau mau, kau boleh mengambilnya.”


Darin pun senang setelah mendengarnya, namun ada pikiran yang mengganggunya, “Apa yang telah ku lakukan?” Darin menyadari keegoisannya, menghiraukan adik-adiknya dan percaya kepada pedagang asing yang membuatnya terkapar di tanah. Meskipun begitu, Darin adalah sosok yang sangat menyayangi adik-adiknya. Orang tuanya meninggal saat Darin masih kecil dan dia yang harus menjaga adiknya menggantikan orang tuanya. Namun, akibat keserakahannya dia menjadi malu terhadap dirinya sendiri. Darin memeluk lututnya sambil menundukkan kepala hingga menyentuh lututnya, “Tidak usah. Lagian aku sudah melakukan hal yang salah.” Kini semua yang Darin rasakan adalah perasaan menyesal yang memenuhi dirinya.


Faye berbalik dan berjalan ke hutan.


“Tunggu. Apa kau tinggal di hutan ini sendirian? Apa kau bersama orang tuamu, atau adik atau kakakmu?”


Darin mengangkat kepalanya. “Pasti susah rasanya tinggal sendirian tanpa orang-orang yang menyayangimu. Kelaparan. Kedinginan. Tak ada orang tua. Tak ada saudara yang saling membantu.” Lelaki itu memikirkan kembali adik-adiknya yang dia tinggalkan di rumah. Darin tidak bisa membayangkan adik-adiknya hidup sebatang kara tanpanya. Darin memutuskan untuk kembali pulang dan berupaya untuk meminta maaf kepada adik-adiknya. Meskipun dia tidak berani menunjukkan wajahnya kepada adik-adiknya, dia berusaha untuk tetap terlihat tegar. Dia ingin segera bertemu adik-adiknya. “Adik-adikku membutuhkanku.”


Sebelum pergi, Faye memberikan sebuah penawaran kepada Darin, “Aku juga bisa memberimu kemegahan, harta yang melimpah dan makanan yang banyak, seperti yang semua orang impikan. Kalau kau mau, kau bisa meraih tanganku,” ucap sosok tersebut sambil mengulurkan tangannya kedepan.

__ADS_1


“Maaf, aku sudah tidak ingin lagi. Yang aku inginkan saat ini adalah kembali pulang dan bertemu adik-adikku. Mungkin aku akan terus-menerus dimarahi adik-adikku. Aku akan berusaha lagi mulai dari sini.”


“Baiklah. Karung di sebelahmu, ambil saja, itu hadiah untukmu. Aku tidak memerlukannya.”


“Sungguh? Terima kasih banyak,” ucap Darin dengan senyumannya yang tulus.


Sehelai bulu burung berwarna putih jatuh saat Darin pergi membawa karung tersebut, gadis tersebut mengambil bulu putih itu lalu berjalan masuk ke hutan. Di depan Faye, sosok gadis lainnya dengan pakaian desa muncul dari balik pohon. “Rynn?”


“Apa dia tak tertarik untuk masuk ke hutan?” Pandangan Rynn mengarah ke langit-langit pohon, tangannya mengusap kulit pohon yang kasar.


Faye melewati Rynn. “Dia sudah memiliki tempat untuk pulang.”


Rynn mengikuti di belakangnya. “Padahal aku ingin memiliki teman baru.” Kepalanya tergantung dengan muka masam. Gadis itu lalu mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah Faye. “Ngomong-ngomong, ucapanmu tentang harta dan kemegahan, apa kau benar-benar bisa melakukannya?”

__ADS_1


“Kau menguping?” Faye melirik tajam ke Rynn. “Tentu saja tidak, aku hanya mengujinya. Manusia pada dasarnya memiliki sifat rakus. Orang yang rakus akan selalu menginginkan lebih dan lebih. Untuk mendapatkan hal tersebut, orang-orang cenderung akan melakukan apapun, termasuk membunuh,” jelas gadis itu.


“Kukira benar-benar bisa.”


__ADS_2