
Dahulu kala, jauh sebelum Kerajaan Aruindale terbentuk, di utara Livadia, di suatu bukit yang dikenal dengan nama Bukit Harapan, seorang wanita yang berambisi untuk menciptakan masa depan yang cerah. Tanpa ambisi wanita ini, dunia tidak akan sama seperti sekarang. Wanita tersebut bernama Nael, yang merupakan salah satu dari Bangsa Ardus-bangsa mulia yang pertama kali mendirikan peradaban di dunia. Tapi, tidak semua Bangsa Ardus membangun peradaban selayaknya tugas mereka di Aima, beberapa dari mereka memutuskan jalan mereka sendiri, bahkan ada yang memilih untuk mengasingkan diri.
Nael berbeda, dia lebih mirip Bangsa Manusia daripada Ardus yang tertanam di darahnya. Tidak seperti saudara-saudarinya yang terkenal di setiap sejarah. Dia menjauhi kejayaan seperti itu dan memutuskan untuk tinggal di Bukit Harapan-wilayah bukit yang terletak di Livadia. Nael tahu kalau dia tak bisa menutup diri dari masalah di depannya.
Sejak Nael meninggalkan tanah kelahirannya, yaitu Tanah Imletar, dia semakin dekat dengan para Bangsa Manusia. Ardus menganggap manusia adalah makhluk rapuh dan merupakan satu-satunya kegagalan yang diciptakan dunia. Tak memiliki keabadian, kekuatan dan tak berdaya di hadapan kejahatan yang sebenarnya. Bagi manusia, mereka tidak berani mengatakan hal yang buruk pada Ardus. Kekuatan dan keberadaan mereka bagaikan langit dan bumi. Manusia hanya bisa diam tak bergeming di hadapan bangsa pertama tersebut.
Beberapa Ardus memang tidak membenci manusia karena sama-sama makhluk tak sempurna di dunia fana ini, termasuk Nael. Ketika kunjungannya di dunia manusia, Nael tak melihat manusia sebagai makhluk yang lemah. Manusia adalah makhluk yang kuat dengan caranya sendiri. Mereka mengatasi kekurangannya dengan menciptakan dan mempelajari hal yang baru. Dengan begitu, manusia bisa terus maju hingga saat ini. Meskipun mereka lebih lemah daripadanya, mereka tetap bisa tersenyum dan menikmati kehidupan fana mereka.
__ADS_1
Pada awal kedatangannya di Livadia, banyak manusia yang menjauhi kontak fisik dengan Nael, bahkan para penguasa tidak berani untuk menyambutnya. Ini adalah sikap yang wajar bagi manusia di hadapan yang lebih kuat. Saat Nael menunjukkan masa depan baru kepada para manusia, mereka tak lagi ketakutan, mereka menganggap Nael sebagai harapan umat manusia. Seorang Dewi Harapan. Saat itu jugalah bukit yang Nael tinggali diberi nama Bukit Harapan, dimana semua harapan manusia berasal dari bukit itu.
Cahaya gemerlapan yang membentuk garis dan berbagai macam wujud muncul di tangan wanita Ardus itu, dan orang-orang yang kagum mengerumuninya. Masa depan yang ia tunjukkan adalah sumber ilmu pengetahuan baru, sumber kekuatan baru yang dapat manusia kuasai, yaitu sihir. Unsur alam imajiner yang dapat dimanipulasi menjadi wujud nyata serta energi eksternal yang multiguna. Kemampuan luar biasa yang jauh melampaui pemikiran umat manusia. Meskipun dunia yang mereka tinggali sendiri sudah di luar akal sehat mereka, dan merupakan eksistensi yang tak masuk akal. Namun, ini pertama kalinya manusia merasa sedekat ini dengan ketidak masuk akalan tersebut. Pertama kalinya manusia dapat merasakan sendiri apa itu berkah secara langsung. Sebagai makhluk yang paling lemah, mereka menganggap kekuatan yang disebut sihir ini dapat mengangkat kejayaan umat manusia yang sudah tenggelam sejak pertama kali. Karena Nael merasakan apa yang dirasakan umat manusia, ia memutuskan untuk mengajari manusia kekuatannya.
Saat Nael pertama kali mengajarkan sihir, para manusia terlihat seperti bayi yang baru pertama kali melihat warna-warni dunia. Manusia saat itu tahu, jika membiarkan diri mereka menerima hidup berdampingan dengan sihir, mereka harus bersiap untuk segala hal yang diluar imajinasi datang ke kehidupan mereka. Entah itu demi tujuan yang baik ataupun buruk, mereka harus bersiap. Ini tanggung jawab yang harus manusia bawa ketika menerima kekuatan dari alam lain.
Banyak saudara-saudari Ardus yang marah dengan keputusan Nael untuk mengajari manusia sihir. Manusia juga makhluk yang serakah, mereka tidak akan pernah puas dengan apa yang didapatnya. Keinginan yang awalnya hanyalah perangkat plot dalam kehidupan, menjadi tak pernah puas ketika berhasil mendapatkan, mereka menjadi tamak, dan buta. Lalu, kebutaan itu akan menular ke yang lainnya menjadi kebencian dan permusuhan. Perang pun akan terpicu seperti api.
__ADS_1
Nael kini dipuja dan dihormati layaknya seorang dewi. Perlahan negeri lain datang untuk meminta Nael memberikannya masa depan yang sama. Nael pun dikenal banyak nama, Ibu dari Segala Sihir, Penyihir Agung atau Dewi Sihir. Namun, nama yang paling umum adalah Venefika yang dalam Bahasa Ardus berarti cahaya ketiga dari tanah mulia.
Penyihir Agung sendiri adalah sosok yang periang dan penuh semangat. Dia selalu baik dan lembut kepada siapapun. Sosoknya memang layak disebut sebagai manifestasi harapan itu sendiri. Kemanapun dia pergi, dia selalu meninggalkan harapan dan cahaya cerah pada siapapun. Tak ada sekalipun kekuatan gelap yang luput darinya. Nael menolong dan terus menolong umat manusia.
Dengan sihir, Nael dapat melakukan apapun, dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Tak ada yang tak bisa dia lakukan. Dia menggunakan sihir untuk melihat, untuk mendengar, untuk memperkuat, atau memanipulasi elemen alam. Dia sering berpergian antar satu kota ke kota yang lain untuk mengajari para penduduk ilmu sihir. Membantu desa yang mengalami krisis pangan, mengalahkan monster mengerikan yang meneror serta menciptakan berbagai peralatan sihir. Kisah kehebatannya sudah tak terhitung jumlahnya.
Mahakaryanya yang terkenal adalah, 9 Permata Sihir yang memiliki konsentrasi aliran sihir kuat. Setiap permata memiliki warna dan karakteristik energi sihir kuat yang berbeda. Siapapun yang menggunakan batu permata akan mendapatkan kemampuan untuk menciptakan atau menghancurkan. Tapi untuk menguasainya sangatlah sulit. Tak sembarang orang dapat menggunakan permata dengan kekuatan yang besar. Jika tidak, orang itu akan termakan oleh kekuatan itu sendiri dan menjadi gila.
__ADS_1
Setelah beberapa tahun berlalu di sekitar bukit harapan menjadi penuh akan pemukiman penduduk. Keterkenalan Nael membuat banyak pengunjung datang untuk belajar langsung ilmu sihir darinya dan mendirikan pemukiman yang dikenal sebagai Desa Harapan. Nael menikah dengan seorang pria bernama Murtal, seorang petualang yang bermimpi untuk menaklukan alam. Nael pertama kali bertemu dengannya di suatu alam liar. Dia melihat seorang lelaki yang terluka, terbaring di bebatuan. Nael menyelamatkannya dan mereka pun bertualang bersama.
Nael memberikan salah satu batu permata berwarna coklat pada Murtal. Permata Verandun. Permata Perlindungan. Dengan kuasa sihir batu tersebut, Murtal dapat menciptakan sihir perlindungan yang tak dapat ditembus sama sekali. Murtal jugalah yang menciptakan Golem-boneka tanah liat yang hanya mematuhi perintah majikannya. Kekuatannya ini membuatnya banyak dilirik oleh kerajaan untuk dijadikan sebagai Penyihir Kerajaan atau sekedar memberikan sihir perlindungan pada rumah-rumah.