
Sebuah garis takdir memanjang jauh ke depan, tipis seperti benang. Garis takdir yang tak bisa dihindari oleh siapapun. Apakah ini akhirnya? Dia terbaring selagi menunggu ujung garis itu terlihat. Sebuah senandung indah terdengar dari dalam hutan yang gelap di depan, membangunkannya. Ujung garis takdir tak kunjung terlihat. Ini bukan akhir bagi sang ksatria. Harapan kembali mendatanginya. Pria itu terbangun dengan nafas yang berat. Dia melihat sekeliling, tapi tak menemukan pria bermantel merah tersebut. Sepertinya dampak pendaratannya masih terasa. Dia berusaha bangun dengan kaki yang gemetaran. Mengambil pedangnya yang tergeletak tak jauh darinya. Tubuhnya seakan bergerak dengan sendirinya ke sumber suara.
Hujan deras yang menerpanya masih tak kunjung berhenti. Dia berjalan tertatih-tatih dengan luka disekujur tubuhnya. Jatuh berulang kali di lumpur dan bangun berulang kali. “Aku tidak akan kalah oleh hujan, aku tidak akan kalah oleh badai.” Ia terus mengucapkan kalimat itu di setiap langkahnya tanpa henti.
Noda darah dan lumpur saling tercampur dan melekat hingga membuat warna perak mengkilatnya pudar menjadi hitam legam. Ksatria itu mencoba mengusapnya, namun tak berhasil, seakan-akan menyatu dengan baju pelindungnya. Julukan Ksatria Perak tak berlaku lagi baginya, dia kini menyandang nama Ksatria Hitam, ksatria yang seluruh baju zirah dan pedang miliknya berwarna hitam.
Sang ksatria berjalan perlahan ke hutan tersebut. Seekor Burung Hantu Putih terbang di depannya. Pria itu mengikuti burung tersebut sambil berpegangan pada pohon-pohon. Ketika, semakin dalam dia memasuki hutan, segala luka di sekujur tubuhnya perlahan hilang. Dia dapat menggerakan tubuhnya dengan bebas tanpa merasa kesakitan seperti baru dilahirkan.
Meskipun luka di tubuhnya hilang, sang ksatria terus berjalan seperti roh-roh yang berkelana di dunia tanpa tujuan. Burung Hantu Putih yang dia ikuti hinggap di sebuah cabang pohon, dia lalu menyarungkan pedangnya. Saat itulah, sang ksatria melihat seorang gadis berdiri di depannya di mana langit-langit hutan terbuka, hujan membasahi jubahnya yang berwarna hitam. Gadis itu terus menatap ke langit, meski air mengalir di wajah cantiknya dengan mata sebiru langit malam. Gadis itu menoleh ke arahnya. Senyuman manis terukir di wajah gadis tersebut yang melepaskan amarah dan kesedihan sang ksatria.
Ksatria itu terdiam, pandangannya terpaku ke sosok tersebut. Dia yang sering berada dalam medan pertempuran sepanjang perjalanannya tahu bahwa sosok tersebut memiliki aura yang kuat namun indah dan menenangkan. Jiwanya mengatakan kalau dirinya telah mencapai akhir tujuan hidupnya, sebuah keberadaan yang melampaui siapapun bahkan kerajaan-kerajaan sombong yang telah mengusirnya dan meninggalkannya di hamparan padang ketidakberdayaan hanya ditemani dengan sebilah Pedang Hitam penuh amarah dan darah. Dia percaya sosok tersebut akan mampu membimbingnya ke masa depan yang baru. Meninggalkan jejak masa lalunya pada mayat-mayat yang berjatuhan di sepanjang jalan. Ksatria tersebut pun membulatkan tekadnya. Dia memutuskan untuk menyerahkan seluruh dirinya, jiwanya, pedangnya bahkan kesetiannya yang dulunya milik rajanya untuk terus melayani sosok tersebut. Dia pun mencoba melawan aura yang memenuhi hutan dan menyelimutinya itu, memecah keheningan tengah malam, sepatah kalimat keluar dari bibirnya. “B-bolehkah aku mengetahui namamu?”
Sosok tersebut terdiam, matanya melirik ke sebuah energi yang kuat dan familiar di pedang ksatria, lalu dia tersenyum tipis. “Faye.”
Tiba-tiba segerombolan Serigala Hutan yang mencium bau darah dari sang ksatria menyergap dari semak-semak. Gadis yang bernama Faye itu melambaikan tangannya di udara dan dalam sekejap para Serigala Hutan terlempar jauh dengan energi sihirnya hingga membuat serigala-serigala tersebut lari ketakutan kembali ke sarangnya.
Ksatria terlalu fokus menatap gadis tersebut, dia tak berkutik sama sekali saat para serigala muncul, jika gadis itu tak melindunginya, mungkin saja dia sudah menjadi santapan serigala lapar tersebut. Tapi, satu hal yang sang ksatria sadari saat gadis itu menggunakan sihirnya. “Kau bisa menggunakan sihir dengan tanganmu?”
Gadis itu mengangkat tangannya dan memandangi jari-jari kecilnya. “Tentu saja aku bisa. Ini mudah.”
Ksatria Hitam sebelumnya tidak pernah melihat penyihir yang mengeluarkan sihir tanpa bantuan alat. Namun, di usia semuda itu bisa mencapai tahap seperti itu adalah hal yang luar biasa. Sosok gadis itu adalah keberadaan yang spesial dan langka. Ksatria Hitam tidak menyadari eksistensi dirinya di dunia ini adalah debu kecil yang hanya bisa tersapu angin. Dunia ini begitu luas dan masih belum terjamah, banyak hal luar biasa lainnya diluar kemampuan manusia yang menunggu ditemukan.
“Rupanya kau disini?” Seorang gadis lain muncul dari balik pepohonan. Dia mendekati Faye yang terguyur hujan. “Ada apa Faye?” Gadis itu tertegun saat melihat seorang ksatria berlumuran darah dan lumpur di depannya.
“Aku sudah tersenyum seperti yang kau katakan, Rynn.”
__ADS_1
Rynn melompat dan memeluk Faye dengan bahagia. Meskipun hujan membasahi kedua gadis itu, wajah cerah Rynn tampak sangat jelas. “Baiklah, ayo kita hangatkan badan dulu.” Gadis itu menarik lengan Faye. “Kau juga, ehh... Tuan Ksatria.”
Mereka berdua pun berjalan ke rumah. Sang ksatria menyarungkan pedangnya dan mengikuti mereka dengan jarak cukup lebar dengan mereka di belakang. Saat Rynn membuka pintu, sosok lelaki muda dengan jas biru mewah menyambut mereka di dalam. Sebuah ruangan dengan meja, kursi dan perapian memberikan kehangatan di hari yang dingin.
“Kenapa kalian malah hujan-hujanan?” Lelaki itu memberikan sebuah handuk untuk para gadis.
Rynn mengelap rambutnya yang basah dengan handuk. Dia lalu menarik kursi di sebelah kanan meja dekat perapian dan duduk. Sementara Faye menggunakan sihirnya untuk mengeringkan tubuh dan pakaiannya yang basah dan pakaian Rynn juga. Dia lalu duduk di sebelah Rynn. Di dekat pintu, sang ksatria yang bergabung dengan mereka, berdiri menatap Faye yang menggunakan sihirnya dengan kagum.
Rynn mendekatkan tangannya ke perapian untuk menghangatkan diri. “Archie kita kedatangan tamu.” Gadis itu berteriak.
Archie kembali dari dapur dengan membawa sebuah nampan dengan 4 cangkir teh kamomil yang panas di atasnya. Dia lalu meletakkannya cangkirnya di meja. Archie menarik kursi yang kosong, “Silahkan tuan…”
Dari aroma parfum lelaki itu, sang ksatria tahu kalau lelaki itu bangsawan Aruindale. Ia pun meletakkan tangan kanannya di dada kirinya dan membungkuk. “Aku tidak punya nama, jadi kalian bisa memanggilku Ksatria Hitam.”
Archie mengangguk dan tersenyum. “Baiklah Tuan Ksatria Hitam, silahkan duduk-”
Faye tanpa basa-basi mengangguk sambil menyeruput teh.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Archie mengitari meja, mendekatkan dirinya ke Faye dan berbisik, “Kau yakin, Faye?”
Faye melirik ke pedang sang ksatria yang tergantung di pinggangnya, lalu tanpa basa-basi mengangguk lagi dan masih menyeruput teh. Rynn melihat tingkah Faye yang terus melirik aneh sambil mengangkat sisi cangkir dengan kedua tangannya ke dekatnya, lalu meniupnya agar lebih dingin untuk diminum.
“Baiklah, bagaimana kau bisa berakhir disini?” Archie duduk di kursi lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran.
__ADS_1
Ksatria itu berdiri. “Sebelumnya aku adalah ksatria Kerajaan Aramor. Namun, kerajaan yang aku layani… dikalahkan oleh musuh, dan rajaku sudah tiada.” Dia memegang ujung gagang pedangnya. “Pedang ini adalah satu-satunya peninggalan sang raja. Dan aku akan menjaganya sampai tanganku tak bisa mengangkat pedang lagi.”
“Aramor?” Archie menutup mulutnya dengan tangannya, dia memutar tubuhnya menghadap ksatria yang berdiri tegak di sebelahnya. “Bukankah ini masalah yang serius? Lalu siapa yang menyerang?”
“Dari panji-panji mereka, Kerajaan Tenebrum lah yang menyerang kami. Saat perjalanan kesini, aku berhadapan dengan salah satu anggota mereka yang memakai mantel merah mengaku sebagai Ksatria Merah. Dia juga yang mengatakan telah membunuh rajaku.”
Rynn yang terus menerusk menyipitkan matanya ke Faye sambil meminum teh, terkejut ketika melihat Faye terkejut.
“Tapi kenapa Tenebrum menyerang Aramor?” tanya Archie ke Ksatria Hitam.
“Mereka sepertinya mengincar pusaka kerajaan yang merupakan pedang ini.”
Faye menoleh ke ksatria, dia tercekat. “Mantel merah?”
Archie langsung bertanya ketika melihat wajah Faye, “Ada apa Faye? Kau mengetahui sesuatu?”
Faye menunduk, meletakkan cangkir di meja. “Mereka yang membunuh ibuku.”
“Ibumu?”
Semua orang kecuali Faye di ruangan itu memiliki kebingungan yang sama. Segala rasa penasaran dan pertanyaan seakan-akan memenuhi ruangan itu. Archie, Rynn menanti jawaban yang sama, bahkan sang Ksatria Hitam sendiri penasaran akan asal usul gadis itu.
Archie mencoba menjernihkan pikirannya dengan menyeruput sedikit teh kamomilnya. Dia lalu meletakkan cangkirnya di meja dan menatap Faye dengan serius. “Aku tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat. Meskipun aku baru 3 hari disini, tapi sudah saatnya untuk menceritakan kisahmu, Faye. Aku merasakan kalau kau itu bukan sekedar orang biasa. Kau itu orang yang misterius. Kau tidak pernah menceritakan semuanya.”
Faye memandang Archie lalu ke Rynn. “Baiklah, jika itu mau kalian.”
__ADS_1
“Tunggu.” Rynn berdiri dari kursinya. “Bagaimana dengan Tuan Ksatria, jika Kerajaan Tenebrum tahu kita menyembunyikannya disini, pasukan mereka akan datang kesini bukan? Aku tak mau tempat ini jadi medan perang,” kata Rynn.
Faye berdiri menghadap sang ksatria. “Ksatria Hitam, sekarang kau boleh tinggal disini, istirahatlah dengan tenang dan lepaskan bebanmu, karena…” Faye memasang wajah serius. “Selama ada aku. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu disini.”