The War Of Gemstone : Owl & Flower

The War Of Gemstone : Owl & Flower
Kisah Gadis Desa dan Kolam Mata Air


__ADS_3

Kerajaan Aruindale dan Kerajaan Nortur di barat selalu mengalami perselisihan selama ratusan tahun. Nortur berambisi untuk merebut wilayah Aruindale yang sangat luas, langkah pertamanya untuk menguasai seluruh Livadia. Perang pun terjadi sebanyak 3 kali, dan Nortur selalu mengalami kegagalan. Namun, ketika perang keempat terjadi, wilayah Aruindale hampir terebut oleh Nortur. Perang ini terjadi di Dataran Sintila di sekitar Gunung Rohara, dimana percikan dari Bunga Api Sintila membara di dataran ini. Dari sanalah nama perang ini berasal, Perang Sintila.


Bunga tersebut membuat kedua pasukan garis depan mengalami kesulitan. Api yang berasal dari bunga tersebut, membuat persenjataan dan persediaan pasukan terbakar. Oleh karena itu, semua persediaan air di kota difokuskan untuk pasukan di garis depan. Nortur memanfaatkan kesempatan ini. Perang di Sintila hanyalah umpan untuk pasukan Aruindale, Nortur mengutus pasukan lainnya melewati Hutan Berbisik, menyerang Fengarium-ibukota Aruindale dan memutus seluruh aliran air yang mengarah ke sumur-sumur di desa dan kota.


Berkat semangat juang pasukan Aruindale dan kekuatan Penyihir Aruindale kala itu, Saulmandria, kekalahan bisa dihindarkan. Nortur dipukul mundur dan mengalami kerugian. Setelah kekalahannya, banyak berita yang beredar bahwa Nortur bergabung dengan Tenebrum. Tak ada yang tahu alasan penggabungan Nortur tersebut.


Perang tak hanya berdampak pada kota besar tapi merambat ke desa sekitar meskipun letaknya cukup jauh. Desa mengalami kekeringan hebat akibat rencana Nortur yang memutus sumber air. Sumur di desa sudah mengering yang membuat desa kekurangan pasokan air bersih, ibukota yang selalu mengirimkan air jernih pun tiba-tiba menghentikan pengirimannya.


Kepala desa mengadakan rapat untuk mengatasi masalah air di balai desa. Mereka memutuskan untuk membuat sumur baru, namun ketika mereka mulai menggali, tak ada air yang mengalir. Tanda-tanda tanah basah karena air pun tak terlihat.


Ketika desa di ujung tanduk, putri kepala desa yang berumur 19 tahun, Rynn, mengajukan saran untuk mencari kolam ajaib di Hutan Burung Hantu. Perkataan Rynn membuat warga desa marah. Hutan itu terlalu jauh dan terlalu berbahaya untuk pergi kesana. Kolam tersebut juga belum pernah ada yang berhasil menemukannya. Tetapi, Rynn tetap kukuh terhadap pendiriannya dan dia memohon kepada ayahnya untuk mencari kolam mata air.


“Meskipun kita bisa memasuki hutan tersebut, tapi belum tentu kolam tersebut benar-benar ada. Kolam tersebut hanyalah dongeng biasa yang diturunkan turun temurun. Kita juga tidak tahu makhluk berbahaya macam apa yang tinggal disana. Ini terlalu beresiko, Rynn,” ungkap Kepala Desa meyakinkan putrinya.

__ADS_1


Rynn kesal terhadap ayahnya yang bahkan tidak ingin mencoba terlebih dahulu. Dia pun pulang menuju rumahnya. Dia menendang sebuah kerikil kecil di depannya yang mendarat di dekat seorang anak lelaki. Wajah cemberutnya pudar saat melihat anak lelaki itu terduduk kesakitan di bawah sebuah pohon. “Huren!” Gadis itu berlari menghampirinya. “Apa kau terluka?” Gadis itu berlutut sambil memegang pundak anak itu.


Anak lelaki itu meringis. Keringat mengalir deras di kulit coklatnya. “Rynn?”


“Sebaiknya kuantar kau pulang,” ucap Rynn. Ia lalu menggendong anak laki-laki itu di punggungnya. “Dimana orang tuamu?”


“Ibu dan kakakku juga sakit. Mereka ada di rumah, dan Ayahku sedang bekerja.” Suara Huren semakin melemah.


“Bekerja? Di situasi seperti ini?”


Rynn akhirnya sampai di rumahnya saat sore hari. Dia menuju sebuah kamar dimana seorang wanita terbaring di kasur, dengan wajah merah dan menggigil, adalah ibunya. Karena kekurangan air, sejumlah warga terserang penyakit, termasuk Ibu Rynn. Gadis itu memegang kening ibunya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Rynn menghela nafas. “Masih panas.”


Gadis itu berjalan ke belakang rumah. Dia mengambil air cadangan yang sudah disimpan sebelumnya karena sumur-sumur telah mengering. Kemudian menuangkannya dalam ember kayu. Rynn lalu membawa ember tersebut ke kamar ibunya. Dia mencelupkan sebuah kain putih dalam air itu, dan meremas air dari kain tersebut, lalu meletakkannya di kening ibunya.

__ADS_1


Ibunya terbangun dengan suara yang lemah. “Sudah pulang?” Wanita itu menyandarkan punggungnya pada dinding tembok.


Rynn mengambil kursi, dan duduk di sebelah ibunya. “Jangan banyak bergerak. Ibu masih sakit.”


Wanita itu tersenyum saat melihat muka masam putrinya, “Apa keinginan Rynn tak terwujud lagi?”


Rynn menyilangkan tangannya. “Dasar. Kenapa Ayah tak ingin mencari kolam ajaib? Itu satu-satunya cara. Kalau tidak-” kata Rynn yang terpotong akibat ibunya yang terbatuk-batuk. Rynn segera membaringkan ibunya di kasur.


“Kalau Rynn yakin bisa melakukannya, lakukan saja. Lagipula, Rynn melakukannya demi warga desa, bukan?” ucap ibunya sebelum dia kembali memejamkan mata dan tertidur.


Rynn yang selalu merawat ibunya, tak kuat lagi melihat wajah ibunya yang selalu kesakitan. Jika dia tidak mencoba membawakan air kolam ajaib tersebut, penyakit warga dan ibunya akan semakin parah. Sebagai putri kepala desa, Rynn tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Rynn memutuskan untuk pergi ke hutan seorang diri apapun yang ayahnya katakan nantinya. Dia tak peduli.


Rynn mengambil dua ember kayu yang cukup untuk ibunya dan meyakinkan warga desa agar percaya keberadaan kolam air ajaib. Dia menyiapkan beberapa makanan dan pisau dapur untuk jaga-jaga yang dia bungkus dengan kulit binatang. Tak lupa, dia membawa lentera kecil yang digantungkan di ikat pinggangnya. Lentera tersebut menggunakan batu bercahaya sebagai sumber cahayanya. Selain awet, batu tersebut tidak membuat lentera panas tidak seperti lilin.

__ADS_1


Sebelum berangkat, gadis itu mengintip dari ambang pintu kamar ibunya. “Aku pergi dulu.”


__ADS_2