
Desa Beren di sebelah utara Fengarium terkenal akan kekayaan hutannya. Mayoritas warganya bekerja sebagai penebang kayu desa. Mereka mengeruk hutan itu untuk sumber bisnis mereka.
Bagi pedagang, sudah hal yang wajib untuk memperluas jaringan ke berbagai tempat. Dan sudah hal yang wajar jika pedagang berpindah-pindah ke desa selain ke pasar pusat di kota untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Tapi, bagi pedagang yang baru mulai menjalankan usahanya dan belum memiliki koneksi akan sulit untuk menjual barang dagangannya.
Darin, seorang pedagang kecil di Desa Beren dibekali dengan sebuah gerobak kecil, dia sudah berkeliling ke berbagai desa di Aruindale untuk menjual barangnya, namun barang yang terjual selalu tidak sampai setengahnya. Dia lahir dan tumbuh di Desa Beren, desa yang memiliki hutan kaya dan buah-buahan segar yang melimpah.
Saat pagi hari, Darin pergi ke hutan untuk mengumpulkan buah segar yang akan dia jual nantinya. Meskipun tidak beda jauh barang yang dijualnya dengan pedagang lain, warga desa masih ragu untuk membeli barang dagangannya. Mereka ragu karena mereka lebih memilih menghabiskan uang di pedagang yang sudah mereka kenal, daripada pedagang kecil seperti Darin.
Ketika malam, dia pulang ke rumah kecilnya. Dua anak kecil dengan pakaian lusuh dan rambut yang berantakan sudah menunggunya. Dua anak kecil tersebut adalah adik-adiknya. Darin hidup sebatang kara dengan adik-adiknya dan dia selalu memberikan sisa buah dagangannya yang tidak terjual untuk mengisi perut kecil mereka. Meskipun kebutuhan pangan mereka masih bisa terpenuhi, tapi rumah yang mereka tinggali tidak. Setiap minggunya seorang penagih akan datang untuk menagih utang orang tua Darin yang belum lunas hingga kematian mereka. Semakin lama penagih hutang tersebut semakin kasar, dia bahkan mendorong Darin hingga terjatuh dan merusak peralatan rumahnya. Sudah berminggu-minggu dagangan yang dia jual tapi tidak dapat menutupi hutangnya. Dia sudah berkeliling ke berbagai desa, menjualnya ke pasar gelap pun sudah dia lakukan tapi tetap masih belum cukup menutupi hutangnya selama 6 bulan.
__ADS_1
Suatu ketika, ada seorang pedagang pria dengan kumis yang ujungnya melentik ke luar mendatangi tempat Darin berjualan. Pedagang tersebut berkeinginan untuk membeli semua dagangan Darin setiap harinya. Pedagang tersebut menyuruh Darin untuk mengantar barang dagangannya ke kios si pedagang esok harinya jika Darin menyepakatinya. Tergiur akan tawaran tersebut, Darin lalu menjabat tangan si pedagang.
Darin pulang kerumah dengan gembira, dia menyeritakan semuanya kepada adik-adiknya. Sang adik tertua yang berumur 10 tahun tidak menyetujui kakaknya, dia berkata untuk tidak terlalu mempercayai perkataan pedagang tersebut. Sang adik juga mengatakan tidak apa-apa untuk hidup seperti ini, asalkan mereka bisa selalu bersama, bahagia bersama sudah cukup bagi adik-adik Darin.
Mendengar perkataan adiknya, membuat Darin marah besar. Dia membanting karung berisi buah dagangannya, “Tidak! Aku sudah lelah hidup seperti ini! Tidak ada yang membeli daganganku, setiap harinya pulang dengan tangan kosong. Aku ingin merasakan hidup mewah dengan pelayan-pelayan yang selalu menyediakan makanan mewah dan tempat tidur yang megah. Aku sudah tidak peduli kalian mau bilang apa, kalau kalian tidak mau hidup mewah, tinggallah disini, dan carilah uang sendiri! Besok aku tetap akan menemui pedagang tersebut.”
Darin lalu masuk ke kamarnya. Hatinya masih ragu, ucapan adiknya membuatnya bingung dan sulit tidur. Dia lalu berteriak dan mengacak-acak rambutnya. Menghilangkan semua keraguannya dan memaksa dirinya untuk tidur.
“Ini, sesuai kesepakatan,” kata Darin sambil mengangkat karung berisi buah-buahan dan memberikannya ke pedagang itu.
__ADS_1
“Kerja bagus. Ini bayaranmu.” Pedagang tersebut memberikan satu kantung penuh berisi 100 Pengrium perak dan 10 Pengrium emas sebagai bayaran atas dagangan yang Darin bawa untuknya.
Pria itu menyeringai ketika melihat Darin senang. Darin masih tercengang melihat tumpukan Pengrium yang begitu banyak. Dia melompat-lompat dan berlari kegirangangan. Tanpa basa-basi lelaki itu langsung pergi menuju kota. Dia melihat-lihat bangunan tinggi dengan atap merah kecoklatan berjejer rapi di pinggir jalan. Lelaki itu berhenti saat melihat sejumlah jas dengan warna biru, hitam, dan putih terpampang di balik kaca sebuah bangunan toko. Darin menatap dengan keinginan terdalam, lalu masuk ke dalam toko. Matanya tak berhenti untuk menatap jas putih dengan garis emas yang terjahit dari kerah sampai bagian kancingnya. Lelaki itu lalu membeli pakaian itu dengan uang yang dia dapatkan. Sesaat, Darin melihat pakaian kecil untuk anak-anak, sambil membayangkan adik-adiknya, namun lelaki itu langsung pergi begitu saja setelah membayar.
Darin dengan tampilan orang kaya yang memakai jas putih itu, kembali berkeliling ke kota. Berikutnya dia berhenti di sebuah rumah makan. Bukan rumah makan yang dipenuhi bau bir dan pelanggan yang ricuh, tapi sebuah rumah makan berkelas. Dindingnya putih dan perak dengan ornamen-ornamen emas menghiasi dinding. Pelayannya yang sopan dan selalu membungkuk pada pelanggan. Serta makanan mahal yang berkelas, dibuat oleh ahli masak ternama.
Pelayan datang membawa sepiring hidangan yang di letakkan secara perlahan di meja Darin. “Silahkan dinikmati Daging Panggang Saus Bulannya, tuan.”
Aroma harum menyerbak di hidung Darin. Mata lelaki itu menatap terus setiap potongan daging sapi yang dipanggang dalam api sedang, dan dilumuri dengan saus kecoklatan. Darin lalu mengambil garpu, dan menusuk potongan daging itu. Tekstur daging yang lembut dan berair menari-nari di lidahnya. Rasa gurih dan hangat tercampur dengan saus berwarna coklat itu. Setiap gigitannya, terasa menenangkan dan begitu anggun seperti saat menikmati sinar bulan, membuktikan kalau hidangan itu menggunakan saus bulan. Setelah menikmati pengalaman istimewa tersebut, Darin mengunjungi tempat lainnya menghabiskan uangnya dengan bersenang-senang, membeli berbagai pakaian lagi, mencoba minuman terkenal di kota, dan membeli banyak barang.
__ADS_1
Adik-adiknya terkejut saat melihat kakaknya yang pulang dengan pakaian mewah dan membawa banyak barang. “Wah, banyak sekali barang-barangnya, Kak!” seru adik tertuanya yang terkagum sambil menuntun yang paling kecil, masih berusia enam tahun. “Apa kakak juga sudah membayar hutangnya?”
Darin melupakan hal itu. Dia berteriak dan melampiaskan kesalahannya pada adiknya, “Kenapa tidak mengingatkanku dari awal!” Setelah meletakkan barang belanjaannya, dia membawa gerobaknya dan pergi ke luar dengan tergesa-gesa. Darin pergi ke hutan, mencari dan memetik buah-buahan yang masih tersisa.