The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 01


__ADS_3

Ruang kuliah pagi ini terlihat masih sepi. Bahkan baru beberapa mahasiswa yang datang, sedangkan mata kuliah akan dimulai 10 menit lagi.


"Ckck .. Kebiasaan banget si mereka, dateng ngampus pas di jam mepet. Untung dosennya baik" gumam ku yang sedari tadi celingak celinguk menunggu teman-temanku.


Namaku Diana Faradiswary, seorang mahasiswa semester lima yang rajin dateng pagi. Hingga tak lama kemudian muncul rombongan teman-temanku masuk kelas. Eh jangan fikirkan yang datang adalah rombongan qosidah atau orkes dangdut ya. Mereka adalah manusia-manusia yang sudah kutunggu sedari tadi.


"Kemana aja si kalian, jam segini baru dateng" gerutu ku dengan sebal kepada mereka. "Kita ke kantin dulu Di, laper tauk. Belum sarapan" jawab salah satu dari mereka, Visa. Visa adalah sahabatku dari semester satu. Dan dia orangnya baik banget sumpah.


"Kenapa si muka di tekuk gitu Di? Gak dapet uang jajan lo?" ledek Visa yang melihat waja murungku. "Mana ada, gue tuh nungguin lo dari tadi tau gak!" seruku gemas sambil memanyunkan bibirnya.


Visa memicingkan matanya "Pasti ada maunya? Iyakan lo?"


Aku tersenyum, memang pengertian sekali sahabatku satu ini. "Liat tugas laporan lo dong, gue lupa ngerjain". Jawabku sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Sejak kapan lo inget kalo ada tugas Di. Perasaan dari dulu juga lo gak pernah ngerjain tugas". Jawab Visa dengan kesal namun tetap saja menyerahkan tugasnya kepadaku.


Saat sedang asik menyalin, tiba-tiba muncul laki-laki tampan di depan kelas. "Selamat Pagi, saya Rendi Bagaskara. Mulai hari ini saya yang akan menggantikan mata kuliahnya Bu Anggi. Mohon kerja samanya" ucap laki-laki tampan tersebut.

__ADS_1


"Kaya gak asing sama suaranya" kataku dalam hati, namun tak sedikitpun penasaran ingin melihatnya.


Seketika kelas menjadi hening. Kemudian salah satu mahasiswa ada yang mengangkat tangan "Kenapa Bu Anggi tidak mengajar Pak?". Rendi menatapnya sekilas lalu tersenyum simpul "Kalian bisa tanyakan sendiri kepada beliau".


Jawaban tersebut cukup membuat mahasiswa di dalam kelas itu tercengang. Bisa-bisanya ada dosen semenyebalkan itu. Padahal kan tinggal jawab aja gampang.


Sedangkan aku masih tidak peduli. Karena aku lebih masih asik mengerjakan tugasku. Hingga Visa menyenggolku. "Apasih" sungutku dengan kesal karena merasa terganggu.


"Itu .. Lo di liatin dosen baru" bisik Visa.


"Biarin, mungkin dia naksir gue" jawab ku santai. Namun tiba-tiba ada yang melemparku dengan spidol, enggak keras si tapi kan sakit T**joi, teraniaya pala dedeq yang imut ini.


Aku malu sekaligus terkejut karena semua mahasiswa melihat ke arah ku dan ternyata sepertinya dosen baru itu juga sedang menatapku. Dan yang membuatku kaget lagi dia adalah Mas Rendi, tetangga rumahku yang baru pindah sebulan yang lalu.


"Mas ngapain disini?" ucapku reflek begitu saja. sedangkan orang tersebut melotot kesal menatapku.


Seketika semula kelas yang hening kini menjadi riuh karena kekonyolan yang baru saja kulakukan. Aku segera menepuk-nepuk mulutku karena merasa telah salah bicara. Mereka tertawa dengan santainya, sedangkan aku sudah ketar-ketir melihat tatapan Pak Rendi yang tajam banget, setajam pisau emak di rumah.

__ADS_1


"Yang ingin tertawa silahkan keluar!", ucap Pak Rendi tegas dengan tatapan tajam nan menusuk ke arah para mahasiswa. Seketika kelas menjadi hening.


"Dan untuk kamu" tunjuknya padaku, "Berdiri di depan sampai kelas saya selesai, dengan satu kaki".


Kan sial banget aku. Padahal hayati ingin duduk santai bang. Namun aku tam berani melawan. Kemudian aku perlahan melangkah ke depan sambil terus menunduk. Malu guys, Diana yang cantik dan rajin ini masa tiba-tiba dihukum kejam begini.


"Serem sekali bapak ini, inginku melawanmu. Namun apa daya, kutak kuasa~" gumam ku dengan pelan.


"Cepat! Kenapa kamu lambat sekali" seru Pak Rendi dari depan.


Visa mencolek lengan ku sambil memberiku semangat, "Sabar ya sayang. Doaku menyertaimu" katanya kemudian.


Kelas berlangsung dengan damai sentosa tanpa berita dan suara. Karena tidak ada satupun mahasiswa yang berani berbicara. Jangankan berbicara, bernapas saja sebenarnya mereka takut. Sungguh keren sekali Mas Rendi mengondisikan suasana kelas ini menjadi suram.


********


__ADS_1


Lee So Hyuk as Rendi Bagaskara


__ADS_2