
Pagi-pagi sekali Rendi sudah datang ke rumah orangtua Diana. Dia mengetuk pintu rumah itu dengan tenang. beberapa menit kemudian terlihat dua orang paruh baya yang membukakan pintu. Kedua orang itu tersenyum padanya. "Wah ada tamu jauh" sapa orang itu sambil tersenyum.
“Pagi om, tante” sapanya kepada calon mertuanya itu.
“Pagi calon mantu” sahut Yuni, Ibu Diana dengan tersenyum. “Ayo masuk nak” sambungnya.
“Silahkan duduk. Tumben nih pagi-pagi udah kesini” kata calon ayah mertuanya.
“Kangen sama calon istri Yah” Ibunya Diana yang menjawab. Sedangkan Rendi hanya tersenyum sendiri melihat calon mertuanya itu. Dia sudah biasa di goda dan di ajak bercanda oleh mereka, bahkan orangtuanya sendiri pun tidak jauh berbeda, sama-sama suka bercanda dan meledek anaknya.
“Diananya ada Om?” tanyanya kemudian.
“Panggil ayah saja Rendi” ucap Bonar, Ayah Diana.
“Dan juga panggil Ibu nak” sahut Yuni.
“Baik Ayah, Ibu” ucap Rendi menatap mereka bergantian dan tersenyum malu. Dia sudah seperti anak gadis yang sedang malu-malu saja dari tadi. Untung saja Diana tdak melihat, kalo dia melihat pasti Rendi sudah di ledek hadis-habisan.
“Diana ada di kamarnya. Palingan belum bangun nak. Emang dasar anak itu, kalo libur pasti kerjanya males-males begitu” ucap Yuni kepada calon mantunya itu. “Sebentar biar ibu panggilkan nak” saat Yuni akan beranjak Rendi menyahut, “Kalo boleh, biarkan saya saja yang memanggilnya Bu”. Kedua orangtua itu saling pandang dan saling tersenyum, kemudian ayah mengangguk.
“Boleh Ren, kamarnya ada di atas” ucap Bonar sambil menunjuk kamar Diana.
__ADS_1
“Kalau dia susah bangun, siram aja pake air nak” Yuni malah mengompor-ngompori Rendi.
“Siap” ucap Rendi dengan memberikan hormat kepada ayah dan ibunya Diana. “Saya keatas dulu Yah, Bu.”
Kedua orangtua Diana mengangguk, “Seperti kita dulu ya Bu” ucap Bonar kepada istrinya.
“Beda dong Yah, dulu Ibu rajin dan tidak suka bangun siang seperti Diana” Yuni membela diri, tidak mau disamakan dengan anaknya yang kebo itu.
Bonar terkekeh, “Iya Bu, Ibu beda dengan Diana. Ibu yang terbaik. Love you pokoknya” ucap Bonar karena tidak mau membuat Yuni kesal. Yuni tersenyum mendengarnya, suaminya itu memang dewasa sekali dan selalu mengerti dengan apa maunya.
Di kamar atas, Rendi sedang mencoba membagunkan Diana yang kebonya luar biasa. Sudah berkali-kali dia menarik-narik selimut Diana dan menyuruhnya segera bangun, namun hasilnya nihil.
“Hmm” hanya terdengar sahutan kecil dari Diana.
Saat Rendi akan kembali menarik selimut yang menutupi Diana, ada pergerakan dari Diana yang membuat Rendi hilang keseimbangan dan limbung jatuh ke sebelah kasur Diana. Saat Rendi akan bangun, Diana malah memeluknya seperti batal guling dengan kaki mengapt tubuh Rendi dan mendusel ke dada Rendi mencari kenyamanan. Rendi yang menerima perlakuan seperti itu dari Diana berusaha untuk tidak megap-megap karena terkejut. Sebab dia ini laki-laki normal dan jika harus di hadapkan dengan keadaan seperti ini tentu saja sisi lain dari dirinya bergejolak.
“Sial. Tidak baik jika ini terus berlanjut” Rendi bergumam kemudian dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Diana. Berusaha menyingkirkan kaki dan tangan Diana namun Diana tetap kembali pada posisi semula memeluk bantal guling berbentuk manusia itu. Akhirnya Rendi menyerah dan malah menatap wajah Diana lama, sepertinya Diana mulai terusik terlihat sekali dia mulai menggerak-gerakkan matanya yang sedang tertutup itu.
“Apaan nih, kok guling ku jadi keras gini, wangi lagi” pikir Diana sambil mengeratkan pelukannya dan mengendus-endus tubuh Rendi. Rendi pun jadi geli sendiri. Beberapa detik kemudian Diana membuka matanya, dan .......
“Aaaaaaa .. ngapain bapak di sini?” teriak Diana terkejut melepas pelukannya dan segera bangkit dari kasur, sedangkan Rendi santai tiduran di tempat tidur Diana.
__ADS_1
“Ibu kamu menyuruh saya membangunkanmu, tapi kamu malah peluk-peluk saya.” Jawab Rendi.
“Bapak pasti bohong, mana mungkin Ibu nyuruh laki-laki asing masuk ke kamar saya dan apa tadi bapak bilang saya peluk-peluk bapak, jangan sembarangan deh pak. Itu cuma modus bapak saja kan” tuduh Diana. Rendi kemudian bangkit dari kasur.
“Kamu yang memeluk duluan kenapa saya yang di bilang modus” protesnya.
“Saya kan tidak tahu, saya kira itu guling.” bela Diana.
“Mana ada guling seganteng saya” jawab Rendi percaya diri.
Diana menaggapinya dengan ekspresi mau muntah. “Saya sudah bangun, sekarang keluar deh pak” usirnya.
Rendi menurutinya, namun sebelum keluar Rendi kembali melihat Diana. “Diana” panggilnya. Yang empunya nama menatap seolah berkata kenapa.
“Iler kamu bau, lain kali sikat gigi dulu sebelum tidur” ucapnya. Diana reflek mengelap bibirnya namun sedetik kemudian Rendi tertawa kencang yang artinya tadi itu hanya mengerjai Diana saja.
“Bodo amat!!!!” Diana mengelap mulutnya dengan kasar dan siap lari menerjang Rendi namun yang ingin dikejar sudah lari jauh.
BLAM !!
Terdengar suara pintu kamar tertutup dengan keras, Diana sudah mencak-mencak sendiri di kamarnya. Sedangkan Rendi semakin tertawa mendengar Diana menutup pintu dengan keras.
__ADS_1