The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 06


__ADS_3

Hampir seharian aku pergi menemani Yogi dan malam ini saatnya aku bersantai melanjutkan ritualku di hari libur yang sempat tertunda siang tadi. Apalagi kalau untuk bermalas-malasan.


Menurutku, kegiatan ini sangat penting ku lakukan karena pada saat inilah aku bisa memberi reward pada diri sendiri atas kerja kerasku seminggu ini. Memberi reward kepada diri sendiri tidak perlu menunggu mendapat prestasi yang besar, melaksanakan kuliah dan mengerjakan semua tugas tanpa mengeluh juga merupakan prestasi.


Setelah hampir seminggu penuh kita disibukkan dengan aktivitas yang melelahkan, maka berilah satu hari bonus dirimu beristirahat. Kalo bukan dirimu, lalu siapa yang akan menyayangi dirimu?


“Ah aku lapar, maka yang pedas-pedas enak nih kayaknya”. Aku beranjak ke dapur untuk mencari sesuatu yag bisa ku makan dan yang penting pedas. “Sepertinya mie instan yang di lemari habis, aku akan keluar sebentar untuk belanja”. Kuraih tas slempangku dan keluar untuk pergi ke minimarket.


Baru saja aku akan memasuki minimarket, aku bertemu seseorang. Siapa lagi kalau bukan Pak dosen. Namun dia diam saja saat melewatiku, padahal diriku sudah menatapnya dengan tersenyum. Kan asem banget, apalagi sekarang mbak-mbak minimarket sedang melihat ke arahku dan jangan lupakan senyum mengejeknya.


“gausah liat-liat mbak” kataku sewot nyelonong masuk ke dalam minimarket.


**


Saat ini tas belanjaan ku sudah hampir penuh, aku masik mengecek apakah masih ada yang kurang atau tidak. “bisa kamu menemani saya belanja” tiba-tiba ada suara mengagetkan dari depan, karena aku sedang fokus jadi tidak menyadari kalau ada orang lain di depanku.


“Astaghfirulloh, kok ngagetin sih pak!” teriakku.


“Tidak perlu berteriak bisa? Lagian lemah sekali kamu, begitu saja kaget”, sialan.


“Temani saya belanja Diana, sepertinya kamu sudah selesai” ucapnya lagi dengan melirik belanjaanku.


Kok aku jadi males gini ya, tadi saja dia mengabaikanku bahkan sampai aku ditertawakan orang. Giliran sekarang seenaknya dia minta ku temani.


“Tidak bisa pak, saya buru-buru.”


“Buru-buru dari mana, saya liat kamu dari tadi nyantai banget, sudah jangan alasan lagi”.

__ADS_1


“Hm”


“Sariawan kamu?” tanyanya kemudian.


“Iya”


Kok gak peka si pak, saya tadi sudah senyum ingin menyapa bapak loh di depan. Tetapi bapak malah pura-pura gak lihat. Ya kan saya malu pak, di kira saya sedag mencari perhatian bapak. Diana


“Soal di depan tadi saya minta maaf. Saya hanya masih kesal dengan kamu”


“Kok kesal dengan saya, salah saya apa?” tanyaku yang tidak mengerti dengan maksudnya.


“Kamu sudah punya kekasih Diana?”. “Sudah pak” jawabku asal. Kan gengsi kalau ngaku jomblo beneran, nanti dia semakin gencar membully ku.


“Jadi itu pacar kamu?”


“Hah, yang mana pak?”


Aku tersenyum samar, dari nadanya saja sudah keliatan kalau Pak dosen satu ini sedang cemburu. Tapi kalau aku bilang dia cemburu, trus dia tidak mengaku kan tensi. Ku ikuti saja, “kok bapak tau?” jawabku.


“Kebetulan saya di Mall yang sama denganmu” jawabnya datar.


“Ooh gitu”. Eh tiba-tiba dia berbalik dan pergi begitu saja.


“Pak katanya mau belanja” kataku sedikit teriak. Dia tidak menoleh sedikitpun. Ada apasih dengannya.


Apa benar dia cemburu, dan sekarang sedang merajuk. ah mungkin saja dia sedang mood buruk. Biarkan saja lah, kemudian ku lanjutkan mencari beberapa barang yang belum ku beli.

__ADS_1


Lima belas menit selesai, aku keluar minimarket dan berjalan cepat supaya cepat sampai juga di rumah. Tapi ada yang melihatku di depan pintu mobilnya. Dia menatapku dengan ekspresi marah dan kesal, aku yang melihat itu bukannya takut malah ingin tertawa.


“Bapak nagapain disini? Katanya tadi mau pulang?” tanyaku sok ramah padanya.


“Kenapa kamu tadi tidak mengejar saya?”


“Mengejar apa?”, aku pura-pura tidak mengerti


“Mengejar dan menarik saya untuk tidak pulang”


“Hahaha .. Childish”


Aneh sekali orang satu ini, jadi tadi dia pikir aku bakalan narik tangan dia terus merayunya supaya tidak pergi begitu? Kekanakan sekali kamu Pak dosen. “Kenapa tertawa?” tanyanya.


“Bapak kenapa si? Aneh banget hari ini. Tadi mengabaikan saya, trus sekarang alay begitu. Seperti abg labil saja pak. Hhaha ..”


“Gapapa, toh cuma kamu ini yang lihat” jawabnya santai banget


“Ayo, pulang bareng saya” ajaknya.


“Tidak usah pak. Saya tidak mau merepotkan, terimakasih” tolakku halus. Tiba-tiba dia merebut belanjaanku dan memasukkannya ke bagasi.


“Loh apa-apaan sih pak, saya kan tidak mau” ngeyelku padanya sambil menarik kembali belanjaanku. Kemudian dia kembali menarik belanjaanku lagi “Saya bilang pulang bareng, ya brarti pulang bareng”.


Hingga terjadilah adegan tarik menarik seperti bocah berebut mainan, hingga ada seorang ibu-ibu datang.


“Mas dan mbak sedang apa ya, kekanakan sekali. Lanjutkan di rumah saja, apa kalian tidak malu membuat keributan dan di liat orang-orang seperti ini” katanya sambil tersenyum. Sepertinya ibu itu gemas melihat kami yang ribut sejak tadi.

__ADS_1


Aku reflek melihat ke sumber suara, dan dengan cepat Pak Rendi memasukkannya ke dalam bagasi mobil lalu menutupnya. Aku hanya tersenyum kikuk pada ibu itu. Aku malu.


“Maafkan kami bu, istri saya memang suka rusuh. Kami permisi, mari bu” ucapnya sopan sambil mengelus puncak kepalaku dan mengintruksikan ku untuk masuk ke mobil. Yaampun apa-apaan sih dia ini, ibu itu kenapa tersenyum lagi cobaa. Pasti mereka sudah salah paham. Aaa dosen nyebelin


__ADS_2