
Saat ini Diana sedang menonton tv di ruang tengah sendirian, sedangkan kedua orangtuanya itu sedang pergi kondangan ke tempat tetangganya. Film yang dia tonton dia abaikan. Dia masih kepikiran dengan rencana pernikahannya dengan Rendi.
“Aku tidak menyangka kalau kita bakalan ketemu lagi, bertemu dengan cara yang unik yaitu sebagai mahasiswa dan dosen. Aku masih tidak percaya akan hal ini” Diana mulai mengingat-ingat kisahnya dengan Rendi.
Rendi dan Diana dahulu memang sangat dekat, bahkan bisa dikatakan mereka dulu bersahabat. Saat itu usia mereka masih belasan tahun. Mereka sudah seperti kakak adik yang bahagia. Namun siapa sangka, kedekatan mereka membawa perasaan lain pada Diana. Diana menyukai Rendi. Namun sampai saat ini, dia tidak pernah mengatakan apa yang dia rasakan. Alasannya hanya satu, Diana takut bertepuk sebelah tangan, sebab meskipun mereka dekat namun sebenarnya Rendi adalh laki-laki yang cuek terhadap perempuan. Hal ini lah yang membuat Diana dilema, atara mau jujur atau menyimpannya saja secara diam-diam.
Hingga tiba pada saat Rendi harus melanjutkan sekolahnya keluar negeri dan itu mengharuskan mereka terpisah jarak. Sejak awal kepergian Rendi, mereka sudah jarang sekali berkomunikasi dan itu membuat Diana semakin yakin bahwa Rendi tidak pernah memiliki perasaan yang sama dengannya.
Namun Diana masih tetap mencari tau tentang kabar Rendi dengan bertanya kepada ayah dan ibunya. Namun beberapa tahun kemudian, orangtua Diana lose kontak dengan keluarga Rendi. Entah karena apa Diana tidak tahu.
Setiap harinya Diana menjalani hidup dengan menyimpan kerinduan pada sang sahabat yang sudah dia anggap seperti kakak itu. Hari demi hari dia lalui dengan menunggu, berharap Rendi akan datang dan menemuinya lagi. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun Rendi tak kunjung datang atau bahkan sekedar memberi kabar. Hak itu membuat Diana frustasi dan berniat untuk melupakan Rendi.
“Apa mencintaiku sesulit itu? Mengapa merindukanmu sesedih ini?” ucap Diana saat itu.
__ADS_1
Beberapa tahun kemudian Diana masuk ke sekolah menengah akhir dan saat itu juga Diana sudah bertekad untuk melupakan masalalunya. “Aku harus move on dari dia. Aku pasti bisa” ucapnya dengan mantap.
Bisa dikatakan proses move on Diana berhasil. Dia dapat lebih membuka diri untuk berteman dengan orang lain, maksudnya dia mulai membuka hati untuk laki-laki lain. Bahkan dia sempat memiliki kekasih saat itu. Namun hubungan mereka tidak bertahan lama, karena sang kekasih hati bermain dibelakang Diana. Hal itu tentu tak di biarkan olehnya, dia segera memutuskan hubungannya dan mulai menjalani hidupnya kembali dengan status jomlo.
Setelah kejadian Diana diselingkuhi oleh mantan kekasihnya, dia seperti trauma jika harus menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Menurutnya sendiri tidaklah menyedihkan, dia mempunyai banyak teman dan juga keluarga yang sangat sayang padanya. Jadi dia tidak berminat untuk cari pacar lagi. Jika memang jodoh dia ingin langsung menikah saja, tidak mau berpacar-pacaran yang menurutnya hanya membuang waktu saja.
“Jika kamu serius denganku, maka segera temui orangtuaku dan kita menikah” ucap Diana saat itu pada seorang pemuda yang mencoba mendekatinya. Dan beberapa hari kemudian pemuda itu menghilng entah kemana. Seperti ditelan bumi, pemuda itu tidak pernah muncul lagi di depan Diana dan itu menunjukkan bahwa dia tidak serius dengan Diana.
Mulut berkata tidak tapi hati orang tiada yang tau. Itu lah yang terjadi pada Diana. Dia sering berkata bahwa dia sudah melupakan Rendi, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia berharap bahwa orang yang akan serius dan menjadi jodohnya adalah Rendi, karena bagaimanapun Rendi adalah cinta pertama seorang Diana. Diana juga sering kali menyebut Rendi dalam setiap solatnya, dia adukan semua rasa cinta dan rindunya itu kepada Tuhannya.
***
“Didi” sang ayah menyebut namanya berulang kali, namun tak juga mengganggu seorang gadis yang sedang menatap layar televisi dengan fokus itu, padahal pikirannya tidak pada acara di dalam televisi tersebut. Kemudian sang ayah menepuk bahu gadis itu yang tak lain adalah Diana.
__ADS_1
“Aih !” seru Diana terkejut akibat tepukan sang ayah, “Ngagetin sih ayah” sambungnya kesal.
“Melamun saja ayah perhatikan dari tadi nak. Mikirin apa?” tanya sang ayah yang sudah duduk di sebelah Diana di susul sang ibu yang juga duduk di sampingnya.
“Bukan apa-apa kok Yah, lagi banyak tugas tapi males mau ngerjainnya” jawab Diana bohong.
Gak mungkin kah ku jawab lagi mikirin Rendi, bisa-bisa aku makin di goda oleh ayah dan ibu nanti. Diana
“Jangan malas-malasan dong, katanya sebentar lagi mau nikah” goda Bonar kepada anaknya.
“Apaan sih Yah, siap juga yang mau nikah” jawab Diana malu-malu. “Udah ah, Didi mau ke kamar ya. Udah ngantuk” sambungnya beralasan supaya bisa segera kabur.
“Ga nyangka ya Yah anak kita sudah besar. Sudah ada yang mau menikahinya” ucap Yuni kepada suaminya.
__ADS_1
“Iya bu. Ayah juga berpikir seperti itu. Semoga Rendi dapat menjada Diana dengan baik ya Bu” balas kepada istrinya.
“Amiin”