The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 18


__ADS_3

Sekitar lima belas menit Diana keluar dari kamarnya menuju ke dapur, dia merasa lapar karena semalaman dia begadang menonton drama korea Romantic Doctor season 2 yang ceritanya sangat seru dan menarik, hingga dia tertidur pukul 02.30 dinihari. Dia mengira bahwa hari ini dia bisa bangun siang karena tidak ada kegiatan, namun malah pagi-pagi sudah di ganggu oleh tamu tak diundang, siapa lagi kalau bukan pak dosennya itu, Rendi. Seorang laki-laki menyebalkan yang selalu menggoyahkan hati Diana.


Saat akan sampai di dapur, Diana mendengar gelak tawa yag keras dari arah dapur. Hal itu membuat Diana penasaran dan segera melangkahkan kakinya lebih cepat. “Tumben rame, berulah apalagi Pak Dosen satu itu. Sepertinya ayah dan ibu senang sekali sekarang” pikirnya sambil berjalan.


“Ekhem” Rendi menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah Diana dengan tersenyum.


“Eh Didi sudah bangun, sini duduk nak” sapa Yuni kepada anaknya.


“Iya Bu” jawab Diana sambil menarik kursi di depannya. “Lagi ngomongin apa sih Bu, seru banget kayaknya” tanyanya penasaran.


“Bukan apa-apa, calon mantu Ayah hanya sedikit melawak saja tadi. Senang sekali Ayah pagi ini” jawab Bonar kepada anaknya.


“Hah calon mantu? Siapa?” tanya Diana bingung sambil melihat kearah Rendi meminta penjelasan, sedangkan Rendi hanya senyum dan terkekeh membalasnya.


“Siapa lagi, memang ada orag lain di sini selain nak Rendi Di?” jawab sang ibu meledek.


“Sejak kapan?” tanya Diana lagi.


“Sudahlah nak kamu janga berpura-pura tidak tau seperti itu. Kasian calon suamimu itu tidak kamu akui” sedangkan yang dimaksud hanya senyum-senyum sedari tadi tanpa berniat menjawab atau membalas Diana. Diana pun menunduk malu-malu mendengar ucapan dari orangtuanya itu.


Sial kenapa dia hanya diam saja sih. Harusnya kan mengelak atau apalah biar aku tidak malu begini. Diana


Rasakan kamu, kalau begini kan kamu tidak bisa mengelak lagi. Rendi

__ADS_1


Acara sarapan pagi ini terasa lebih rame dari biasanya karena dengan kehadiran Rendi di rumah itu. Sedikit diselingi dengan candaan dan obrolan kecil semakin menambah hangat suasana.


“Senangnya melihar mereka berdua, rumah ini semakin ramai. Biasanya hanya ada kami berdua saja dirumah ini. Jadi tidak sabar menunggu cucu dari mereka” ucap Yuni dalam hati. Membayangkan Diana dan Rendi menikah membuatnya bahagia dan tanpa sadar membuat ujung bibirnya terangkat.


“Ibu kenapa senyum-senyum begitu. Apakah karena ketampana ayah?” Bonar menggoda istrinya.


“Apaan sih ayah, narsis banget” sahut Diana.


“Aduh, apaan sih pak” sewotnya kepada Rendi karena sentilan di dahinya.


“Yang sopan sama orang tua” ucap Rendi mengingatkan, sedangkan yang diingatkan haya mendengus.


“Tidak papa nak, Didi dan ayah memang sering bercanda begitu, asalkan tidak kelewatan.” ucap Bonar kepada calon mantunya itu.


“Tuh pak dengerin, jangan main jitak sembarangan makanya” protes Diana.


Rasain lu, emang enak. Pasti dia sedang malu. Diana


“Jadi ibu kenapa senyum-senyum sendiri begitu” sekarang Diana yang bertanya.


Ibu tersenyum lagi, “Ibu sedang membayangkan jika kalian menikah dan punya anak. Pasti rumah ini akan semakin ramai” ucapnya.


“Jangan dibayangkan bu, sebentar lagi ibu akan merasakannya dengan nyata” jawab Rendi sambil melirik calon istrinya. Diana reflek menendang kakinya, “Aduh, kenapa sih di cucit-cubit saya” ucapnya pura-pura tersakiti.

__ADS_1


“Siapa yang nyubit bapak sih.” ucapnya membela diri.


“Sepertinya Diana sudah tidak sabar untuk menikah dengan Rendi. Sabar dong sayang jangan agresif begitu.” ucap ibu sambil terkekeh juga dengan suaminya.


“Bagaimana kalau kita percepat saja pernikahannya Bu.” balas Bonar pada istrinya.


“Ibu setuju yah, bagaimana dengan kalian” tanya Ibu dengan tersenyum.


“Saya setuju Bu” balas Rendi cepat. Sedangkan Diana haya mendengus kesal karena ulah Rendi yang membuat dirinya malu.


“Wah nak Rendi semangat sekali Yah.” Ibu terkekeh mengucapkannya.


“Sepertinya mereka berdua memang tidak sabar Bu”. Pak Bonar semakin menggoda anaknya yang sudah terlihat masam itu.


Harusnya ku patahkan saja tadi kakinya biar dia tau rasa. Diana


Senang sekali rasanya bisa mngerjainya seperti tadi. Lihatlah, mukaya malah terlihat semakin lucu. Rendi


“Didi udah slesai, Didi cuci piring dulu” ucapnya meninggalkan ruang makan.


“Anak itu sepertinya kesal” ucap Pak Bonar terkekeh.


“Biar saya susul Bu, sepertinya dia kesal dengan saya” balas Rendi bagkit dari kursinya dan berjalan mengikuti Diana.

__ADS_1


“Lucu sekali mereka berdua ini ya Yah.” Ucap Bu Yuni.


“Iya Bu.” balas Pak Bonar pada istrinya. Mereka berdua hanya geleng-geleng melihat anak dan calon menatunya itu.


__ADS_2