
"Kamu sudah mau pulang ke kontrakan mu nak? Kok buru-buru sekali." tanya Pak Bonar yang melihat anaknya sudah rapi dan bersiap untuk pergi.
"Iya yah. Aku ada kelas siang ini" jawabnya.
"Bukannya kalian harus feeting baju pengantin ya" sahut sang ibu. Diana mengeritkan kening. "Kamu sama Rendi lah" lamjutnya ibunya.
"Oh itu. Nanti gampanh deh Bu. Nanti biar kami bicarain lagi kapan waktu yang pas."
"Yasudah kalau begitu sarapan dulu" suruh Bu Yuni yang sedang menyiapkan nasi goreng.
Setelah selesai sarapan, Diana bersiap untuk pergi kekampus. Namun sebelum itu dia mau balik ke kontrakannya dulu untuk meletakkan barang bawaannya. Maklum lah, ciri khas mahasiswa sekali jika habis pilang kampung pasti bawaannya banyak. Kalau kata mamaku biar gak ribet beli-beli lagi.
Tin tin tin
"Ayah ada tamu" teriak Diana dari luar karena dia sedang terburu-buru jadi tidak sempat jika harus berbasa-basi dengan tamu itu.
"Eh tapi kayaknya gue kenal tu mobil" gumamnya. Sang pemilik mobil keluar dan berjalan kearahnya. "Kan bener gue kenal. Pak Rendi" lanjutnya.
"Sudah mau berangkat?" tanyanya to the point. Harusnya kan basa-basi kek, ucapin selamat pagi dulu gitu. Ah dasar gak so sweet. Diana menggerutu sendiri.
"Iya" jawabnya jutek.
"Eh nak Rendi sudah datang. Masuk dulu yuk" Pak Bonar berkata sambil mempersilahkan Rendi masuk.
"Ayah ngundang ..." tanya Diana dengan menunjuk Rendi ragu-ragu. Ayahnya mengangguk, "Ada apa emang Yah?" lanjutnya.
__ADS_1
"Biar dia antar kamu" balas ayahnya.
"Kok gak bilang sih Yah. Tau gitu tadi aku kan gak buru-buru tadi. Pikirku takut ketinggalan bis pagi" ujarnya kesal.
"Kejutan buat kamu" sahut Rendi tersenyum genit.
"Yaudah yuk brangkat sekarang Pak" ajaknya.
"Eh biar dia ngopi dulu bareng ayah" cegah Pak Bonar.
"Gak ada Nanti aku kesiangan." tolak Diana dengan menarik tangan Rendi. Mengisyaratkan untuk mengikuti kemauannya.
"Iya. Saya pamit dulu ke orangtua kamu" balasnya.
"Sudah-sudah nak tidak usah. Sudah cepat berangkat sebelum dia berubah jadi singa" sahut Bu Yuni yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Pak Bonar.
Di dalam mobil
"Kita langsung ke kampus saja ya. Biar kamu tidak telat dan sekalian nanti siang kita ke butik."
"Trus barang-barang saya gimana pak?"
"Kamu bawa ke kelas lah"
"Sembarangan. Dikira mau buka lapak nanti"
__ADS_1
"Gak papa. Jawab aja cari duit buat tambahan modal nikah"
"Oh jadi modalnya kurang nih? Minta sokongan?"
Rendi menyentil dahi calon istrinya itu. "Aduh" rintihnya.
"Itu hanya becanda sayang."
Blush
Pipi perempuan itu mendadak sudah berubah menjadi berwarna merah. Dia merona setelah mendengar panggilan sayang dari Rendi. Ini pertama kalinya dia di panggil sayang oleh Rendi setelah hubungan mereka resmi. Rendi terkekeh melihat tingkah Diana yang sedang salting sekarang.
"Loh kok kita ke sini sih pak. Katanya ke kampus" protesnya pada Rendi karena saat ini mereka sudah berhenti di sebuah butik.
"Yakan kita memang mau kesini" jawab Rendi.
"Tapi kan aku harus kuliah dulu." protesnya.
"Enggak papa bolos sehari. Ini untuk kepentingan bersama. Supaya maksimal." bisiknya pada Diana. Membuat Diana diam karena jarak mereka saat ini sangat dekat.
"Jangan lupa bernapas" ejek Rendi yang kemudian keluar dari mobil meninggalkan Diana yang masih mengatur detak jantungnya itu.
Butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan segala keperluannya di butik.
"Padahal gak harus lama-lama bisa. Tapi aku harus mengorbankan satu absenku kosong. Dasar dosen labil" keluh Diana dengan mendesah pelan.
__ADS_1
Diana adalah mahasiswa yang rajin dan tidak pernah absen untuk bolos atau apapun kecuali dispensasi.