
“Ayo dong Vis bangun. Udah mau jam satu nih. Nanti kita telat” rengekku kepada Visa yang masih enak tidur-tiduran di mushola. Memang sih di sini tuh enak banget, adem ada AC nya, pokoknya nyaman deh buat santai-santai mahasiswa gini sebelum kuliah. Tapi kali ini Visa keterlaluan, katanya sebentar namun nyatanya sudah hampir satu jam dia masih betah goleran di sini.
“Yaudah deh gue tinggal lo” kata ku akhirnya. Terserah dia mau di sini sampai kapan. Aku melangkah keluar untuk segera mengenakan sepatuku.
“Eh tunggu Din, yaelah gitu aja ngambek” kata Visa yang ternyata sudah duduk di sebelahku, “Ini nih gue udah siap, takut banget bakal telat lo” lanjutnya. Aku hanya diam sambil merengut-merengut mengikuti ucapannya.
“Dari mana saja kalian?” kata Bu Rika menegur kami.
“Maaf bu tadi Diana ketiduran di mushola, trus dibangunin susah”, aku melotot padanya, eh apa-apaan Visa ini. Kenapa jadi aku yag jadi alasan, padahal kan dia sendiri yang tidur tadi.
“Maaf bu” kataku. Percuma saja mengelak, lagian aku bukan seperti perempuan yang punya prinsip kalo bisa ribet kenapa harus simple, seperti yang di katakan kaum adam itu.
“Yasudah cepat duduk, atau saya akan berubah pikiran” katanya galak. “Baik Bu” jawab kami kompak.
Kelas belajar dengan lancar, aman dan hikmad, sampai Bu Rika bersuara, “Kelas kita cukup sampai di sini, jangan lupa tugasnya kumpul minggu depan” katanya tegas sebelum meninggalkan ruangan.
Kami kemudian membereskan buku- buku dan siap untuk lanjut ke mata kuliah terakhir hari ini yang akan di mulai lima belas menit lagi.
“Haduh capek juga ya udah hampir semester tua gini” keluh Visa sambil menyenderkan punggungnya di kursi. Saat ini teman-teman kelasku sedikit berisik, karena dosen kelas kami belum masuk. Ada yang selfi-selfi, ada juga yang bercanda atau sekedar mengobrol-ngobrol saja, dan kurasa kelas kalian juga tidak jauh berbeda kan? Udah jawab aja iya.
__ADS_1
“Ekhem” terdengar suara deheman dari arah pintu, “Loh ngapain tu Dosen, kan ini bukan mata kuliahnya” kataku dalam hati. Semua teman-temanku langsung diam dan duduk ke kursinya masing-masing.
Visa menyenggolku, “Kok Pak Rendi sih” katanya. Aku hanya menghedikkan bahu tanda aku pun tak tahu.
“Pak Budi ada urusan mendadak, jadi tidak bisa mengajar”, kami langsung berbinar ketika mendengarnya, asik bakalan pulang cepet pikirku, “dan beliau menitipkan sesuatu kepada saya”, senyum di wajah kami mendadak luntur. Hilang sudah harapan kami untuk segera pulang cepat.
“Apa itu pak” celetuk salah satu temanku.
“Siapkan kertas satu lembar, ada titipan kuis dari Pak Budi” jawab pak Rendi.
“Yaaaaah”
“Huuuuu”
“Huuuuu”
Pak Rendi sudah membacakan soal kuis pada kami dan saat ini kelasku kami sedang khusyuk mengerjakannya. Lima belas menit sudah berlalu, sedangkan waktu yag di berikan hanya dua puluh lima menit dan artinya tinggal sepuluh menit lagi waktu kami. Beberapa temanku sudah terlihat gusar, sehingga menimbulkan suara grasak-grusuk yang sepertinya membuat Pak Dosen terganggu.
“Kerjakan masing-masing, ini hanya kuis bukan ujian. Jadi santai saja dan tidak perlu berdiskusi” katanya. Iyain aja deh.
__ADS_1
“Yang sudah selesai boleh dikumpul” suara Pak Dosen terdengar lagi, kali ini aku pun mulai terusik. Karena aku masih ada satu nomor lagi yang belum terisi. “Aduh bagaimana ini” ucapku dalam hati.
“Kamu kenapa?” suara pak dosen yang tiba-tiba sudah berada di belakangku. Ah sial, kan aku kaget mas.
"Tidak papa pak” jawabku.
“Sepertinya kamu kesulitan” ucapnya mengejek.
“Hehehe, sok tahu bapak ini. Saya bisa kok”.
“Itu buktinya masih kosong” tunjuknya pada kertas lembar jawabanku. Tiba-tiba dia menunduk dan berbisik di samping telingaku.
"ah sepertinya dia akan memberitahukan jawaban padaku, baik banget sih pak" pikirku dalam hati.
“Makanya belajar !” serunya kemudian berlalu meninggalkanku begitu saja. Sial.
“Ku pikir dia akan membantu. Ternyata dia hanya menghinaku” ucapku dalam hati sambil mengetuk-ngetukan penas di atas bangku dengan kesal.
“Itu yang berisik apa sudah selesai. Kalau sudah selesai segera kumpulkan ke depan. Jangan mengganggu yang lain” katanya menunjukku, otomatis semua orang melihatku dengan tatapan berbeda-beda.
__ADS_1
Aku segera menunduk, setelah ku rasa orang-orang sudah tidak melihatku, aku langsung menatapnya dan ternyata dia juga sedang melihat ke arahku dan tersenyum jahil, aku refleks melototinya, sedangkan dia semakin terkekeh di dalam duduknya.