
Sudah satu minggu usia pernikahan mereka. Namun kelakuan mereka masih sama seperti dulu. Ribut, marahan, lalu berbaikan kembali. Sudah seperti Tom and Jerry saja.
"Sayang, aku hari ini mengajar di kelasmu pukul 09.00" ucap Rendi yang terlihat masih duduk santai di atas tempat tidur.
"Kok kamu enggak siap-siap si Mas" ucapan Diana yang terdengar seperti sedang mengomel.
"Sebentar lagi. Aku masih seru liatin kamu dandan" balasnya sambil terkekeh.
"Aku ada kuliah pagi Mas. Nanti aku telat gimana? Apa jangan-jangan kamu enggak mau nganterin aku kuliah ya !"
"Jangan teriak-teriak dong sayang. Aduh kamu ini semakin hari semakin galak saja padaku" balas Rendi sambil menggosok kedua telinganya akibat teriakan dari sang istri itu.
"Kamu yang mancing-mancing ya. Cepat mandi sana" perintah Diana dengan ekspresi kesal.
"Sebentar lagi ya", Diana pun langsung melotot menatap suaminya itu. "Iya-iya aku mandi sekarang" lanjut Rendi pasrah.
"Makin hari makin cerewet banget si bini gue ini" keluhnya pelan.
"Aku bisa dengar ya Mas" balas Diana sedangkan Rendi langsung berlari masuk kamar mandi.
Sembari menunggu Rendi mandi, Diana pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang sudah dia buat tadi pagi. Iya, saat ini mereka sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Bukan bersama orang tua Diana maupun Rendi.
Setelah dua hari menikah, mereka memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. Rendi bilang supaya mereka bisa mandiri, Diana sempat menolaknya namun berkat rayu dan bujukkan dari Rendi akhirnya mereka bisa berada di sini sekarang.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Rendi keluar dari kamar dengan setelan kemeja warna navy dengan kedua lengan yang di gulung sampai siku dan celana bahan warna hitam serta rambut yang di sisir dengan rapi. Sangat tampan.
Diana yang menyadari suaminya sudah turun segera menyapanya "Udah selesai? Cepet banget. Enggak jadi mandi ya kamu Mas?" ledeknya.
"Sembarangan kamu. Wangi begini kok enggak mandi"
"Kan bisa aja pake parfum doang."
"Terserah kamu" balas Rendi sembari menarik kursi dan duduk, "Wah nasi goreng cumi" ucapnya sumringah.
"Kamu suka?"
"Apapun yang kamu masak aku suka"
"Heleh hoax. Kemarin ikan goreng enggak kamu makan Mas-Mas" balas Diana sambil menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya.
"Tadi bilangnya apapun yang aku masak kamu suka" cibir Diana, Rendi terkekeh.
"Oke di ralat. Apapun yang kamu masak asalkan layak dimakan pasti akan aku makan"
"Jadi menurut kamu masakan aku enggak layak gitu?" tanya Diana dengan mulai berkacak pinggang. Rendi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia menyadari ucapannya. "Aduh salah ngomong gue".
"Enggak gitu sayang, udah sini-sini duduk. Lebih baik kita sarapan dulu. Katanya kamu tadi takut telat" rayunya.
__ADS_1
"Benar juga kamu Mas. Bisa telat kalau kita kelamaan makan" balasnya kemudian berlari ke arah lemari.
"Lah kamu mau kemana sayang?"
"Itu buat apa?" tanya Rendi menunjuk wadah bekal yang di bawa Diana.
"Kita bawa bekel aja Mas. Bakalan telat kalau kita makan dulu sekarang. Siniin nasinya aku masukin ke wadah" ucapnya sambil menarik piring suaminya.
"Yaampun kamu lebay deh. Kamu aja yang bawa bekel. Aku mau makan di rumah aja. Siniin" ucapnya dengan menarik kembali piringnya dengan gemas.
"Ayolah Mas. Tadi kan kamu sendiri yang bilang"
"Aku kalau makan cepet ya. Emangnya kamu."
"Yaudah terserah"
Rendi melanjutkan makannya sedangkan Diana memasukkan sarapannya ke dalam wadah bekal.
"Dah yuk berangkat" ajak Rendi sambil mengambil tisu untuk mengelap bibirnya habis minum air putih.
"Buset Mas, cepet banget. Kamu makannya enggak pake kunyah ya?" tanya Diana heran.
"Aduh, apaan sih" balas Diana sambil mengusap-usap keningnya yang di sentil Rendi.
__ADS_1
"Enak aja kalau ngomong."
"Ya kirain hehe"