
Pukul 20.00, di ruang tv Diana.
Aku menghampiri Yogi yang sedang asyik nonton sinetron. Aku terkekeh melihatnya, sungguh tidak sesuai dengan penampilannya. Bagaimana bisa laki-laki yang penampilannya keren dan sedikit sangar begitu hobbynya menonton sinetron, benar-benar menyaingi ibu-ibu komplek samping rumahku saja.
“Hoi ! serius amat mas” ledek ku lalu duduk si sebelahnya. “Apasih lo ngagetin tauk” jawabnya kesal.
“Lagian lo serius banget nonton kaya gitu. Pantas saja pakde gak ngasih lo tv di kosan. Taku lo lupa belajar” ejekku padanya.
“kayaknya si gitu, tapi kan gue pinter. Gue striming dong, punya kuota banyak kok gak dimanfaatin” balasnya dengan sombong.
“Ckckckckck, kelakuanmu sungguh tidak terpuji kanda” ucapku.
“Tidak papa jika hanya sesekali dinda” balasnya
“Sesekali pala kau, ampir tiap waktu kerjaan kau streaming terus Yogi” ucapku gemas. Dia hanya terkekeh menanggapiku.
“Lo udah makan?” tanyanya.
“Belum, laper nih. Beliin makan dong kakak” jawabku sok imut.
“Jijik kali kelakuan kau itu” katanya dengan ekspresi geli. Aku tertawa melihatnya.
“Itu di dapur ada makanan sisa gue. Makan gih dari pada mubazir” ucapnya.
“Cih dikira gue kucing kalik ya, di kasih makan sisa” balasku cemberut dan dia terkekeh.
“Becanda kali Di, gitu aja marah.” balasnya mengelus rambutku, aku menampiknya kasar.
“Buset, lo serem kalo lagi laper” balasnya dengan ngeri. Aku melengos saja ke dapur.
Dan ku menemukan sebungkus nasi goreng, dan sepertinya tadi dia memag becanda. Buktinya bungkusan nasi goreng ini masih rapi dan utuh. Alhamdulillah rezeki anak solehah.
Aku makan dengan lahap, limabelas menit kemudian bungkus nasi gorengku sudah kosong. Ku bereskan dan ku bawa camilan ke ruang tamu, sudah kebiasaanku kalo malam begini ngemil sambil nonton tv sungguh nikmat. Tidak peduli dengan diet-diet, diet besok lagi.
“Buset cepet amat buk makannya” ucap Yogi heran karena melihatku kembali dan dengan toples camilan di tanganku.
“Makannya enak, makasih ya kakak” balasku dengan senyum jahil.
“Geser dong” kataku lagi.
“Tadi ngatain gue nonton ginian, sekarang ikut-ikutan lo. Labil lo” katanya mengejekku.
__ADS_1
“Orang cuma mau numpang duduk kok” elakku. Dia tak merespon.
Tring.
Notifikasi hp ku berbunyi. Ku buka lockscreennya. Dahiku berkerut, ngapain dia ngirim pesan malem-malem begini.
Mas Dosen : DARI MANA KAMU, PULANG BARENG LAKI-LAKI LAIN.
Ebusyeett.. . ngegas banget si tu orang, pake capslock segala lagi. Kok aku jadi takut ya mau ngebales. Gimana nih.
Mas Dosen : kenapa tidak di balas?
lagi-lagi pesan darinya, namun kali ini tidak ngegas seperti tadi. Ku buka lalu ku berfikir bales apa ya kira-kira biar dia gak marah. Eh kenapa aku memikirkan perasaannya sih, tinggal ku jawab jujur saja. Ngapain aku harus bingung.
Diana : ya dari kampus lah bapak, dari mana lagi. Saya kan mahasiswa teladan (
Send.
Mas Dosen : siapa laki-laki tadi?
Aku tak berniat membalasnya, apasih nih orang kepo banget. Terserah aku dong mau bareng siapa aja. Kok dia yang repot. Ku letakkan hp ku di meja.
Hp ku kembali berbunyi, kali ini berdering yang menandakan ada panggilan masuk.
Aih menyebalkan saja. Ku angkat dan ku tempelkan ke telingaku.
“Hallo, assalamualaikum”
“Walaikumsalam”, ku lihat lagi id pemanggil, singkat banget yak jawabnya.
“Ada apa ya pak?”
“Kenapa kamu tidak balas pesan saya?”
“Pesan yang mana ya pak? Sepertinya sudah saya balas.”
“Siapa laki-laki tadi?”
“Yang mana pak?”
“Memang kamu hari ini bersama berapa laki-laki, Diana?”
__ADS_1
“Banyak pak”
“Apa kamu bilang!!!”
“Weitss .. santai dong pak. Iya bener banyak pak. Teman-teman sekelas saya, termasuk bertemu bapak juga”
“Yang pulang bareng kamu”
“Kenapa si pak, kok kepo”
“Jawab saja!”
“Teman saya pak, dulu kenal pas masih maba.”
“Kamu suka dengan dia?”
“Yaiya lah pak. Dia orangnya asik”
“Asikan saya apa dia?”, ini orang kenapa sih.bikin aku bingung aja deh perasaan. Mana ada dosen yang kepo urusan mahasiswa sampe segininya.
“Ya dia lah”. Dia diam. “Halo. Halo pak”
“Iya.”
“Kok diem pak”
"Ya terus saya harus gimana? teriak-teriak sambil bilang wow gitu?"
krik, aku tak menjawabnya.
”Saya tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain” jawabnya kemudian.
“Lah kenapa si pak. Lagian saya single. Wajar dong pak saya dekat dengan teman laki-laki saya. Siapa tau jodoh”.
“Jangan sembarangan kamu. Saya tidak suka Di, POKOKNYA TIDAK SUKA”
“Kok jadi bapak yang tidak suka sih. Ini tidak ada hubungannya dengan bapak loh”
“Kata siapa tidak ada hubungannya dengan saya?”, siapapun orangnya pasti akan bingung jika mengahadapi Rendi yang marah-marah tidak jelas seperti ini.
“Kamu itu calon istri saya, jadi saya tidak suka kamu berdekatan dengan laki-laki lain” sambungnya.
__ADS_1
Duaaaaarrrrr.
Sambungan terputus, aku mematikan secara sepihak. Aku kaget dengan apa yang dia ucapkan, becandanya keterlaluan inimah. namun di sisi lain aku juga senang dengan yang dia ucapankan barusan. Apakah benar ? entahlah, hanya Rendi dan Tuhan yang tahu.