The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 19


__ADS_3

“Ekhem”


Dia berdehem untuk mencari perhatian dari seseorang yang sedang fokus mencuci piring di wastafel. Saat ini Rendi sudah berada di belakang Diana, namun Diana mengabaikannya.


“Ekhem” ulangnya, namun Diana tak merasa terusik sama sekali. Hal itu membuat Rendi gemas dan menarik rambutnya dari dari belakang.


“Aw, apa-apaan sih kamu” jawab Diana sewot.


“Siapa suruh kamu mengabaikan saya.” balas Rendi santai.


“Lagian ngeselin banget jadi orang.”


“Siapa yang ngeselin, saya hanya bercanda kok” ucap Rendi dengan tengilnya tanpa merasa bersalah.


Diana yang melihat itu semakin kesal, rasanya darah di tubuhnya sudah mendidih. Dia mengambil air dari wastafel.


Byurrrrrr ..


“Diana kamu apa-apain sih” keluh Rendi yang sekarang sudah basah kuyup akibat siraman rohani dari Diana, eh siraman air ding. Diana sudah tertawa melihat keadaan mengenaskan dari Rendi yang basah kuyup itu.


Rasain kamu. Emang enak? Siapa suruh menggangguku. Diana


Mendengar suara kegaduhan membuat Pak Bonar dan Bu Yuni bergegas lari ke sumber suara dan betapa terkejutnya mereka melihat calon mantunya itu sudah dalam kondisi mengenaskan, basah kuyup dengan ekspresi menahan kesal. Refleks kedua orangtua itu tertawa melihatnya.


Sial. kenapa mereka malah menertawakanku. Rendi


“Kamu habis hujan-hujanan dimana nak?” tanya Bu Yuni di sela-sela tawanya.


“Anak ibu KDRT pada saya” ucapnya mencari pembelaan.


“Enak saja KDRT, jangan sembarangan menuduh dong pak” balas Diana tak mau Rendi


“Kamu apakan calon mantu ayah Di?”. Pak Bonar akhirnya bertanya dengan sisa-sisa tawa di wajahnya.


“Dia yang mulai duluan Yah” jawab Diana menunjuk Rendi.

__ADS_1


“Mulai apanya, saya hanya mau minta maaf tadi” ucap Rendi tak mau kalah.


“Bapak yag mulai duluan yaa. Masih saja tidak mau mengakui.”


“Saya tidak melakukan apa-apa. Lalu apa yang harus saya akui?”


“Tapikan bla bla bla........”


“Sayakan bla bla bla...........”


Dan terjadilah perdebatan yang semakin membuat telinga sakit. “Cukup” teriak Pak Bonar membuat mereka berdua terdiam menghentikan aktivitasnya.


Mereka menoleh ke arah Pak Bonar ingin protes karena perdebatan mereka belum selesai. Namun sebelum itu, Pak Bonar sudah berucap kembali, “Kalian berdua salah. Biar Ibu yang bereskan tempat ini.”


Ibu terlihat akan protes, namun ayah langsung memberi kode untuk tidak membantahnya. Ibu hanya mengangguk mengiyakan. “Rendi bersihkan diri kamu di kamar Diana, dan kamu Diana siapkan ganti untuk Rendi, ambil baju di kamar ayah.”


Diana akan protes namun lagi-lagi dicegah dengan ucapan Pak Bonar, “Tidak ada bantahan. Cepat.” Perintahnya. Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat itu, namun masih saja dengan perdebatan kecil. Diikuti Pak Bonar yag juga akan meninggalkan tempat itu.


“Ayah” panggil Bu Yuni pada suaminya. Yang dipanggil menengok kebelakang, “Mau kemana?” sambungnya.


“Mau kedepan” jawab Pak Bonar melanjutkan langkahnya.


“Bantu atau tidur di luar” ancamnya. Membuat Pak Bonar menciut dan berfikir lebih baik menuruti apa mau istrinya itu, sedangkan Bu Yuni kemudian tersenyum “Salah siapa menyuruhku seenaknya, maka ayah juga harus membantuku” pikirnya. Begitulah kehidupan keluarga Diana, dipenuhi dengan hal-hal konyol dan candaan.


Sedangkan di sisi lain ada, Rendi dan Diana sedang memperebutkan sesuatu.


“Pinjam handukmu Di.”


“Enak aja. Gausah pakai handuk gapapa kali pak.”


“Astaga, percuma saya ganti kalau mandi tidak kamu beri handuk.”


“Ya masa bapak mau pake handuk saya sih.”


“Memangnya kenapa?”

__ADS_1


“Saya tidak biasa berbagi barang pribadi saya dengan orang asing” ucapnya dengan memeluk handuk di dadanya. Rendi sudah mengacak rambutnya frustasi.


“Yasudah pinjamkan saya handuk pada orangtuamu” ucap Rendi mengalah.


“Tidak mau, saya tidak mau meninggalkan bapak di kamar saya sendirian. Nanti kalau bapak macam-macam di kamar saya bagaimana?”


Ribet banget. apa dirumah ini hanya ada satu handuk saja. Rendi


“Kalau begitu berikan saja handukmu.”


“Tidak mau!”


“Astaga saya hanya meminjam hadukmu Diana, bukan meminjam dalamanmu” ucap Rendi dengan gemas.


Diana melotot, “Jangan sembarangan ngomong dong pak!” seru Diana menahan malu. Bagaimanapun dia dan Rendi kan beda jenis, membicarakan hal sepeerti itu terasa aneh.


Keburu hambamu ini masuk angin Ya Alloh. Aku harus mencari ide. Rendi


“Kenapa Yah?” ucap Rendi. Diana menengok dan saat itu dimanfaatkan rendi untuk mengambil handuk di tangan Diana kemudian dia berlari masuk ke kamar mandi.


“Woi” teriak Diana.


“Handukku. Kau harus ternodai oleh orang itu” sambungnya menatap pintu kamar mandi dengan nanar, sedangkan di dalam kamar mandi Rendi tersenyum bangga melihat haduk itu sudah berada di tangannya.


“Hanya benda ini, membuat ku hampir masuk angin karena tidak segera mandi” ucapnya melihat handuk ditangannya. “Wangi juga” diciumnya handuk itu.


Rendi keluar dari kamar mandi setelah sekitar sepuluh menit di dalamnya. Dia melihat Diana yang tiduran di atas ranjang dengan anteng. Sepertinya dia tertidur. Muncul ide jahil dari otak Rendi untuk mengusili Diana. Rendi mendekati kasur tempat Diana tidur dan menempelkan telapak tangannya yang dingin itu ke pipi Diana, membuat pemilik pipi itu terkejut dan bangun.


“Hish usil banget sih jadi orang” sungutnya.


“Lagian ditinggal bentar aja udah molor. ***** banget jadi cewek” ledek Rendi.


“Kasurku ternyaman, tidak ada yang menandinginya” ucapnya sambil kembali merebahkan diri di kasur.


“Masa sih. Lebay kamu” balas Rendi.

__ADS_1


“Yee gak percaya yaudah” ucapnya dengan masih menikmati kasurnya itu.


“Eh mau ngapain?” tanyanya panik karena melihat Rendi naik ke atas kasurnya. Rendi tersenyum.


__ADS_2