The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 15


__ADS_3

Saat ini Diana sedang berada di rumah orangtuanya, tentu saja hal ini berkaitan dengan perkataan Rendi bahwa dia sudah menemui calon mertuanya alias orangtua Diana. Sudah dua hari ini Diana menghubungi orangtuanya untuk menanyakan perihal itu, namun dia tak pernah mendapat jawaban yag dia inginkan, sebab kedua orangtuanya itu tidak menjawab dengan benar dan malah menggodanya terus-terusan.


“Wah anak Ibu sudah dewasa ternyata, sebentar lagi sudah mau menikah” goda sang ibu saat dia bertanya mengenai siapa laki-laki yang datang kerumah menemui orangtuanya.


“Apaan si Bu, Didi serius Bu” ucapnya dengan memelas.


Ayahnya terkekeh melihatnya, “Jadi sudah berapa lama kalian pacaran?” tanya sang ayah kepada putrinya.


“Bahkan aku tidak berpacaran dengannya Yah” jawab Diana jujur.


Sebenarnya kedua orangtua Diana sudah tau hal itu, namun mereka hanya senang menggoda sang putri. Hingga akhirnya mereka kasian melihat anaknya yang kebingungan itu. Kemudian mulai menceritakannya.


“Om Hari, mereka beberapa tahun lalu telah kembali ke kota ini. Apakah kamu ingat dengan keluarga Om Hari nak?” tanya Bonar kepada anaknya. Diana mengangguk, “Jangan-jangan dia adalah anaknya Om Hari Yah” kata Diana menebak.


Sang Ayah mengangguk, “Iya benar sekali, Rendi adalah anaknya Om Hari.”


“Kok Ayah baru cerita sekarang sih”, Diana sedikit kesal.


“Ayah kira dia sudah memberitahumu. Soalnya dia sudah sering datang kesini dan juga bercerita tentang dirimu bahkan kalian bertetangga kan?”


“Memang benar Yah kami bertetangga, tetapi dia tidak pernah memberitahuku apa-apa, kecuali perihal dia sudah melamarku pada ayah” ucap dia menunduk malu mengucapkan kata lamar barusan.


“Jadi apakah kamu bersedia menikah dengannya?” tanya sang ayah dengan tersenyum.


“Tapi Didi masih kuliah Yah.”


“Tidak masalah, justru bagus. Kami jadi tenang, karena sudah ada yang menjagamu di sana” ucap sang Ibu menimpali.


“Benar yang dikatakan Ibumu nak, dengan kamu menikah kami jadi tidak was-was lagi kalo kamu di sana akan sendirian dan kesepian, setidaknya dia resmi dan sah untuk menjagamu.”

__ADS_1


Diana masih diam tidak menanggapi lagi, dia sedang bingung. Dia takut setelah menikah nanti kehidupannya akan berubah, kebebasannya, kuliahnya, dan masa depannya, Diana belum siap akan hal itu. Dia masih terlalu labil untuk menjalani sebuah pernikahan, pikirnya.


Memang benar, bahkan dari dulu pun Diana sudah menyukai sosok Rendi anak dari sahabat ayahnya itu. Namun sekarang dia justru dilema, dia bingung harus bagaimana. Di satu sisi dia senang, disisi lain dia juga bingung.


“Ayah beri waktu kamu untuk berpikir, tapi jangan lama-lama ya. Karena tanggalnya sudah ditentukan”, Diana mendongak, dia terkejut. Kalo sudah ditentukan, kenapa masih diberi waktu untuk berfikir. Memangnya kalo aku berkaa tidak, pernikahan ini bakalan batal?


“Hah !!!” serunya. Kedua orangtuanya tersentak kaget, “Didi sayang, Ibu tau kamu sangat senang, tapi jangan keliatan agresif begitu dong. Santai saja” ucap Yuni menggoda sang anak.


“Siapa yang senang si Bu, Didi hanya kaget. Lagian kenapa nyuruh Didi mertimbagin kalo tanggal pun sudah disepakati. Memang pendapat Didi penting apa?”cerocosnya.


“Tidak juga sih” ucap sang ayah terkekeh.


“Tuh kan ayah ngeselin”, Diana mulai merajuk.


“Jadi bagaimana?” tanya sang ayah lagi,


“Kamu setuju?” sambungnya.


Diana percaya bahwa orangtua tidak akan mungkin menjerumuskan anaknya ke hal yang tidak baik. Dia juga berfikir, mungkin dengan cara ini dia bisa berbakti kepada kedua orantuanya.


Saat sedang asik-asiknya berpelukan, tiba-tiba ponsel milik Diana berdering menandakan ada panggilan masuk. Kedua orangtuanya kemudian melepas pelukannya, “Angkat dulu, siapa tau calon suami” goda sang ibu.


“Apaan sih Bu” jawab Diana malu-malu. Ayah dan Ibunya kemudian beranjak meninggalkan Diana yang akan menganggat telepon itu.


“Halo”


“Kamu di mana?” tanya si penelpon dengan dingin.


“Di rumah Ayah.”

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak masuk kuliah?” tanyanya lagi.


“Yakan udah di bilang lagi di rumah Ayah saya pak. Ck. Emang ada apasih pak?” tanyaku dengan nada tidak bersahabat.


“Kamu tidak masuk kelas saya dan masih bertanya kenapa?” jawabnya.


Diana lupa jika hari ini dia ada kuliah dengan tetangganya itu. Saking penasarannya dia dengan jawaban orangtuanya hingga dia melupakan kewajibannya. Dasar Diana.


“Maaf pak, saya lupa. Lain kali tidak lagi pak”, namun yang diseberang sana tidak diam saja.


Hening beberapa saat.


“Halo pak?”


“Kamu pulang dengan siapa?” dia bertanya kemudian.


“Naik bis pak”


“Kapan?” tanyanya lagi.


“Nanti sore kayaknya” jawab Diana ragu, pasalnya besok juga hari sabtu dan itu artinya dia libur. Jadi dia bisa menginap.


“Kok kamu ragu.”


“Hehe”


“Kamu pulang minggu saja, sekalian liburan mumpung weekend” Rendi memberi saran.


“Tumben baik” ucap Diana pelan, “Saya orangnya memang baik” sahut Rendi cepat.

__ADS_1


“Yasudah saya tutup telponnya, salam buat ayah dan ibu mertua” sambungnya kemudian menutup telepon secara sepihak.


“Apa-apaan dia ini, tadi galak banget sekarang jadi narsis. Memang siapa yang mau menjadikannya menantu. Pede sekali dia.” Diana bergumam lalu meletakkan ponselnya itu kemudian berjalan menghampiri ayah dan ibunya di dapur karena sekarang sudah waktunya makan siang.


__ADS_2