
"Aku kira kamu langsung ke kamar Mas" ucap Diana meletakkan cangkir di atas meja dan duduk di sebelah suaminya.
"Capek si, tapi belum ngantuk nih. Pengen nonton tv dulu" jawabnya sambil menarik cangkir yang di bawa istrinya tadi kemudian meminumnya.
"Eh itu punyaku Mas. Biar aku ambilkan untukmu" cegah Diana.
"Enggak papa. Sunah rosul" jawab Rendi santai. Namun hal itu membuat pipi Diana merona.
"Kok pipi kamu merah Sayang. Kamu lagi bayangin apa hayo" kebiasaan jahil Rendi muncul lagi.
"Siapa? Bayangin apa? Ngawur deh kamu ha ha ha" balas Diana gugup.
"Aku siap kok kalo kamu ngajakin sunah yang itu" Rendi cengingisan.
"Mesum !!" teriaknyaa sambil memukuli bahu Rendi. "Aku bilangin mama baru tahu rasa" lanjutnya.
"Mulai deh ngaduan"
"Biarin wlee"
Melihat hal itu membuat Rendi semakin gemas pada istrinya itu. Kemudian dengan sekali tarikan Diana sekarang sudah berada di bawah ketek Rendi, tak lupa tangan nakal rendi mengacak-acak rambut istrinya juga. Diana di buat kewalahan.
"Ampun Mas. Lepasin ih"
__ADS_1
"Cium dulu"
"Enggak"
"Cium"
"Enggak mau !!!"
"Aduh iya-iya. Keras banget si suara kamu itu" omel Rendi melepaskan Diana dari kungkunganny, seperti biasanya Diana hanya cengengesan. "Itu anugerah Mas" belanya. Rendi hanya berdecak.
"By the way, kamu tadi dari mana Mas?" tanya Diana sambil merapikan rambutnya.
Rendi diam sejenak, "Oh itu. Tadi temen aku minta temenin beli hadiah buat mamanya" jawabnya gugup. Tapi memang benar, tadi dia menemani Hana membeli hadiah untuk ibunya.
Dengan ekspresi yang gugup seperti itu membuat Diana curiga, "Cewek ya?" selidiknya.
"Berbakti sekali teman mu itu Mas" balas Diana yang terdengar seperti menyindir.
"Tentu saja. Aku juga kan anak yang berbakti, sudah pasti teman-temanku mirip sepertiku sayang" jawabnya mencoba tenang.
"Hm .. Awas ya kamu bohong, tidur di luar" ancam istrinya.
"Jangan dong sayang. Dapet jatah aja belum" kalimat terakhirny tentu saja Rendi ucapkan sangat pelan namun sepertinya terdengar oleh Diana.
__ADS_1
"Apa kamu bilang?"
"Jangan dong sayang"
"Setelah itu"
"Enggak ada. Aku ngomong itu doang kok"
"Oh yaudah. Berarti aku salah denger" ucap Diana dengan tersenyum membuat Rendi penasaran.
"Emang kamu denger apaan?" tanyanya pura-pura.
"Enggak ada"
"Ck"
"Kamu kalo ada apa-apa ngomong aja sama aku. Jujur sama aku. Mungkin aku memang bakalan marah. Tapi itu lebih baik dari pada kamu bohongin aku dan larut-larut menyimpan kebohongan itu. Yang namanya bangkai lama kelamaan pasti akan tercium juga. Jadi jangan simpan bangkai di sini ya" ucap Diana menunjuk dada Rendi. Membuat Rendi terdiam sejenak. Perasaan bersalah muncul lagi.
Dia tidak berniat membohongu Diana, namun pertemuannya kembali dengan Hana membuatnya bingung. Hana, biar bagaimanapun gadis itu pernah menjadi seseorang yang berharga buat Rendi meskipun saat ini hanya ada Diana di hatinya. Dia hanya belum siap untuk menceritakan pada Diana saja.
"Kok kamu jadi diem aja sih. Udab ah tidur yuk aku capek"
Diana bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rendi yang masih diam saja.
__ADS_1
Aku tahu Mas kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Enggak papa, aku ikutin cara kamu dulu. Sampai kapan kamu bakal cerita sama aku. Diana
Sejujurnya Diana sudah curiga sejak siang saat Rendi pamit akan pergi dan tidak bisa menjemput Diana pulang. Ditambah Rendi tidak biasanya mengabaikan panggilan darinya juga kejadian di meja makan tadi. Naluri seorang istri lebih peka.