The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 08


__ADS_3

Sekarang aku sedang bersiap untuk pergi ke kampus. Hari ini aku memiliki tiga jadwal kuliah, jadi kemungkinan aku akan sampai di rumah pada sore hari. Huft .. aku harus semangat. Ganbatte !


Saat aku keluar dari kamar, kulihat Yogi sudah berada di meja makan bersama bibi yang sedang menyiapkan sarapan.


“Selama pagi” ucapku berjalan ke arah mereka.


“Pagi.”


“Pagi Non.”, jawab mereka bersahutan.


“Mau kemana lu rapi amat jam segini?” tanya Yogi.


“Kuliah lah, menurut lo” jawabku malas. “Oh.”


“Kapan lu balik?”


“Sore kayaknya, kenapa” jawabku sambil menarik piring berisi nasi goreng yang di siapkan oleh bibi.


“Ah lama dong, gue di rumah sendirian.” Yogi mendengus sebal.


“Ya jalan-jalan lah, atau kemana gitu. Cari pacar sekalian” saranku asal.


“Lu aja jomblo pake segala nyaranin orang buat cari pacar” balasnya.


“Enak saja. Sok tau lu” elak ku


“Emang cowok mana si yang mau-maunya sama lo” tanyanya sambil tertawa mengejek.


“Wah parah lu Yog, ngatain sodara sendiri. Jahat lu” jawabku dengan pura-pura marah padanya, karena kan emang bener kata yang dia katakan tadi. Kalau dia bicara kenyataan masa aku harus marah si. Iya gak si guys? Ah kalian pasti tidak akan menjawab.


Tok Tok Tok


“Sepertinya ada tamu” kataku. “Biar saya yang buka, Non Diana lanjutkan saja sarapannya”, balas bibi padaku. “Terima kasih Bi”. Aku dan Yogi melanjutkan sarapan dalam hening.

__ADS_1


Tak lama kemudian Bibi kembali, “Siapa Bi?”, tanya ku. “Mas Rendi Non, sedang menunggu Non Diana di ruang tamu” jawabnya.


Mau ngapain tu dosen pagi-pagi kesini. Peheningku jadi tidak enak, semoga tidak terjadi hal menyebalkan lagi. Diana


“Iya bi, tolong buatkan minum dulu ya Bi, saya sebentar lagi selesai” kataku. Bibi mengangguk lalu segera membuatkan minum untuk Pak Dosen.


“Siapa Di?” tanya Yogi kepo.


"Tetangga depan”


“Mau ngapain ? Jangan-jangan itu pacar lu ya? Kan tadi lu bilang punya pacar. Kok mau-maunya si dia sama lo” tanyanya lebih kearah nyinyir.


“Kapan gue bilang punya pacar? Salah denger lu” balasku. Aku meninggalkannya menuju ke ruang tamu. Yogi terlihat sedang menaruh jari telunjuk di dagunya, seolah dia sedang berfikir. Entah apa yang dia pikirkan, aku tak tahu.


***


“Pagi pak” sapa ku ramah, lagian masa iya ada tamu harus aku marah-marah si. Kan itu tidak baik, gini-gini orang tuaku selalu mengajari bahwa kita harus menghormati orang yang bertamu ke rumah loh.


“Pagi” balasnya dengan senyum, kayaknya dia lagi bahagia deh. Senyumnya terlihat manis sekali, bisa diabetes adek lama-lama bang.


“Saya mau ajak kamu berangkat ke kampus bareng” jawabnya tanpa ekspresi.


"Ah bapak tidak perlu repot-repot begitu. Saya biasa bawa motor sendiri Pak”


"Saya tidak repot" jawabnya datar,


“Jadi hari ini tidak usah bawa motor, bareng saya saja” ajaknya lagi.


“Tapi saya ada tiga matakuliah pak, kayaknya bakalan pulang sore deh. Nanti saya ribet pulangnya, harus pesen ojek lah atau naik angkot, takut” jawabku panjang lebar.


“Bareng saya lagi pulangnya.” balasnya.


Aku berfikir sejenak, mempertimbangkan apakah akan ikut dengannya atau tidak.

__ADS_1


sedetik


dua detik


tiga detik


empat detik


lima detik


Cletak ..


“Aduh, sakit”, tiba-tiba dia menyentil keningku karena aku la sekali meresponnya.


“Kamu malah melamun” jawabnya.


“Saya kan sedang mempertimbangkannya pak” bela ku dengan masih mengelus-elus dahi. Kemudian dia mendekat kearahku dan dia mengusap keningku dengan ibu jarinya lembut,


Deg.


Aku diam mematung, aku menundukkan kepalaku. Aku malu bercampur senang, pasti sekarang wajahku sudah bersemu merah seperti strowberry. Darahku juga terasa berdesir, detak jantungku rasanya seperti sedang lari maraton. Yaampun Pak Dosen satu ini, bisa saja membuat ku salah tingkah begini.


“Ekhem” suara deheman seseorang membuyarkan lamunanku. Ternyata orang itu adalah Yogi.


“Romantis sekali pagi-pagi", Yogi menggoda kami. "Didi pinjem motor ya. Pengen naik motor” katanya kemudian melirik ke arah Pak Dosen


“Pagi Mas” sapanya. “Pagi” jawabnya tersenyum, ku pikir dia akan diam saja.


“Lalu aku bagaimana ke kampusnya” seruku. “kamu bareng saya" jawab Pak Dosen singkat.


Aku menengok, “Kan saya belum bilang iya pak” seruku. Dia menghela napas, kemudian Yogi langsung memotong ucapanku “Nah tu bareng aja” suruhnya. Aku menatapnya garang, aku sedang berusaha menolak malah dia mengacaukannya. Dia hanya cekikikan menatapku.


“Yaudah saya bareng bapak hari ini. Bener ya pak pulangnya tungguin saya”, Pak dosen itu mengangguk sambil mengajungkan jempolnya ke arahku.

__ADS_1


“Saya permisi Mas, titip Diana ya Mas” kata Yogi sebelum meninggalkan kami. Kampret memang dia, iseng sekali. Lagi - lagi Pak Dosen hanya mengacungkan jempolnya ke arah Yogi seperti yang dia lakukan ke pada ku tadi.


“Ayo pak berangkat sekarang” ajak ku. Lebih baik segera pergi dari pada nanti Yogi semakin iseng. Lagipula kenapa juga Pak Dosen seperti menerima keisengan Yogi dengan santai. Bukannya kemarin dia cemburu. Ah aku tidak mau memikirkannya. Akhirnya kami berangkat ke kampus bersama.


__ADS_2