The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 22


__ADS_3

Malam ini Rendi terlihat sedang bersiap untuk datang bersama kedua orang tuanya ke rumah Diana. Rencananya akan membicarakan tentang pernikahan. Rendi terlihat tampan malam ini walau hanya mengenakan kemeja panjang warna navy yang di lengannya di gulung setengahnya, di tambah senyum bahagia yang terpancar dari raut wajahnya. Terlihat segar dan bahagia.


Setelah siap dia berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga rumahnya untukĀ  menghampiri papa dan mamanya. Namun di sana terlihat kosong tidak ada siapa-siapa.


"Loh mana papa sama mama si" gumamnya. Kemudian dia berjalan lagi berpikir mungkin kedua orangtuanya itu masih bersiap.


Sampai di depan pintu kamar orangtuanya dia mengetuk, "Ma, Pa ayo cepat. Nanti ke buru malem loh" rengeknya dari balik pintu.


"Iya sebentar sayang" sahut mamanya dari dalam.


"Sepertinya sudah tidak sabar sekali anak itu ma" ucap papa Rendi dengan tersenyum jahil pada istrinya.


"Iya pak. Dasar anak muda." balas istrinya sambil membuka pintu kamar untuk keluar.


"Lama banget si ma" keluh Rendi saat sudah melihat ibunya hampir di dekatnya. Ibunya hanya tersenyum geleng-geleng.


"Mama kan harus dandan Rend, masa kerumah calon besan penampilan mama biasa saja, mama tidak mau. Yang ada calon besan akan malu nanti" belanya pada sang anak.


"Sudah-sudah. Lebih baik kita berangkat sekarang." ucap sang papa menengahi.


"Nah bener itu" Rendi menyahut cepat.


Mereka bertiga berangkat menuju kediaman Pak Bonar dengan menggunakan mobil yang mungkin memakan waktu sekiat 45 menit.

__ADS_1


Sedangkan di lain tempat, "Ma aku pake baju yang mana nih?" tanya seorang gadis yang sudah frustasi karena dari tadi dia sudah mengeluarkan semua isi lemari namun merasa tidak menemukan baju yang pas, siapa lagi jika bukan Diana.


"Mama kan udah bilang pakai gaun itu saja. Lagian itu juga masih baru kok" kata ibunya yang mulai jengah.


"Tapi warnanya terlalu biasa" Diana tetap mengobrak-abrik kembali baju-baju itu.


"Terserah kamu Di. Liat itu, 15 menit lagi Rendi sampai dan kamu belum siap." ucap sang ibu sambil menunjuk jam dinding.


"Ah ibu becanda?" balasnya.


"Saran ibu pakai itu saja. Gaun itu cantik kok." saran Bu Yuni lagi kepada anaknya.


Namun Diana masih terlihat menimbang sesuatu di otaknya.


"Kenapa masih tidak mendengarkan ibu. Cepat atau kamu akan malu sendiri nanti kalau belum juga siap" lanjutnya yang nampak mulai kesal dengan anak tunggalnya itu.


Beberapa menit sudah berlalu, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Seperti mereka sudah sampai.


"Biar ibu yang bukakan pintu" Bu Yuni akan bangkit dari duduknya.


"Biar Didi aja bu" cegah Diana. Bu Yuni mengangguk mengiyakan.


ceklek

__ADS_1


"Kok pak RT sih." keluhnya karena melihat yang datang bukan seseorang yang dia tunggu.


"Mau nagih iuran pengajian neng" balas Pak RT sambil nyengir menunjukkan buku andalannya.


"Owalah. Ini pak." ucap Diana dengan menyerahkan uang lima puluh ribuan ke Pak RT itu.


"Makasih neng. Sudah bapak catat ya" balasnya meninggalkan rumah Diana.


Diana masuk kembali dan menghampiri ayahnya.


"Loh kok sendiri. Tamunya gk di ajak masuk?" tanya Ibu penasaran.


"Pak RT bu." jawabnya lesu padahal tadi dia sudah semangat sekali.


Kedua orang tua itu terkekeh, "Sabar dong sayang" sang ayah menasehati.


"Mungkin sebentar lagi" sang ibu menimpali.


Kenapa aku terlihat berharap sekali sekarang. Ah memalukan saja. Diana


**Ting.


Mas dosen : Maaf macet jalannya**.

__ADS_1


"Apa itu rendi?" tebak Bu Yuni.


"Iya."


__ADS_2