
Di sepanjang perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan. Aku dan Pak Rendi hanya diam. Pak Rendi fokus menyetir, sedangkan aku sibuk main ponsel.
Hingga sampai di lampu merah “kita mau kemana si pak, jauh amat gak nyampe-nyampe. Padahal cuma mau makan doang”, kata ku yang mulai kesal padanya.
“Bentar lagi juga sampai, lagian kamu kenapa brisik banget si. Tinggal duduk diem juga” sahut Pak Rendi sambil memainkan jarinya di atas setir. Bukankah itu sangat menjengkelkan guys? ditanya baik-baik jawabannya ngajak berantem. Ini aku yang sensian apa dia yang keterlaluan sih.
“Ya kan capek pak, panas juga”, aku masih tetap protes padanya. Ku lihat rambu lalulintas sudah berubah hijau dan Pak Rendi kembali melajukan mobilnya. Hingga tak lama kemudian kami sampai di sebuah rumah makan padang yang terlihat ramai karena memang ini saatnya makan siang.
“Ayo turun”, ajak Pak Rendi setelah memarkirkan mobilnya.
Aku hanya menurut dan mengekor di belakang Pak Rendi. Aku tak berniat menjawabnya, ya karena diriku kesal dengan dia lah guys. Diri ini sudah sangat lapar bahkan cacing-cacing di perutku sudah meraung ingin meminta makan.
***
Setelah sampai di dalam, aku segera mencari tempat duduk yang strategis. Dimana aku dapat menikmati pemandangan yang bagus dan angin yang sepoi-sepoi. Padahal aslinya mah enggak. Yang di maksud strategis di sini adalah di pojokan, dimana tempat itu agak jauh dari orang lain. Ya kan buat jaga-jaga, siapa tau saking laparnya diriku menjadi hilaf dan berubah menjadi hulk, kan aman kalo hilafnya gak ada yang liat gini.
“Kenapa duduk di situ?”, tanya Pak Rendi kepadaku.
“Strategis Mas, Ups”, setelah menyadari bahwa aku tidak memanggilnya pak.
“Tidak papa, lagian kalo kamu panggil saya pak di sini, saya m akan di kira bapak kamu dan masak muka bapak dan anak tidak beda berarti bapaknya awet muda dong”, jawab p
Pak Rendi sambil tersenyum. Kampret harusnya kan aku marah di ejek begitu tpau sumpah senyumnya mengalihkan duniaku, manis banget pemirsah. Jadi lupa kalo tadi mau marah.
__ADS_1
Saat ini kita kami sedang duduk menunggu pesanan. Kalau kalian bertanya kapan kami memesan, jawabannya adalah sudah dari tadi. Pak Rendi yang memesan setelah kami baru masuk tadi. Benar-benar pacar idaman kan.
“Aah, aku jadi seneng” aku bergumam tanpa sadar.
“Kamu kenapa? Seneng ya bisa makan bareng saya?”, tanya Pak Rendi dengan pedenya.
“Apaan si Pak”, jawabku yang kemudian mendapat pelototan darinya. “Eh.. Pak saja, saya tidak nyaman pak” jelasku.
“Yasudah lah se nyaman kamu saja. By the way kamu tau tidak bedanya saya sama Rizky Nazar?” tanya Pak Rendi tiba-tiba membandingkan dirinya dengan Mas Iky, salah satu aktor favorit ku.
Aku menatapnya bingung. “Mau ngegombal ya Mas?” ledekku.
“Pede kamu, saya cuma mau ngasih tau aja kali” jawab Pak Rendi dengan datar. Aku yakin sekarang dia sedang kesal karena aku sudah mengganggu aksinya.
Pak Rendi kembali tersenyum, lalu menjawab dengan lantang ”Bedanya saya lebih tampan dari dia”. Hening.
Krik krik krik
Seolah bunyi jangkrik terdengar dengan syahdu, karena aku tak kunjung memberi respon. Pak Rendi kembali kesal dan langsung meminum air yang ada di depannya hingga tandas.
Eh itukan air kobokan. pikirku dalam hati.
Aku yang melihat hal itu langsung menyemburkan tawa ku, “Hahahahaaa, cukup Pak” sadar semua pengunjung yang berada di tempat itu menengok kearah kami.
__ADS_1
Dia terlihat mengernyit seolah berkata apaan yang barusaja ku minum. "Ini minumnya mas" ucap mbak pelayannya dengan tersenyum.
"Hm." jawabnya singkat dengan ekspresi datar. mungkin dia menahan malu.
”Kenapa kamu tidak bilang?” ucapnya sewot. Aku pura-pura tidak tahu, "bilang apa?" sahutku.
“Seharusnya kamu langsung merespon, jadi saya tidak malu dan salah minum begini” kata Pak Rendi masih dengan wajah kesalnya.
Aku masih terus terkekeh, “Maaf Pak, saya gagal fokus tadi”. Dia hanya mendengus, kemudian melahap makanannya dengan kesal.
Setelah makan siang, kami kembali ke kampus. Karena aku harus mengambil si Genta, motor kesayanganku yang masih terparkir di parkiran kampus.
“Kamu yakin gamau pulang bareng saya?” tanya Pak Rendi.
"Tidak pak, kasian Genta udah nungguin sambil panas-panasan” jawabku.
"Pacar kamu?" tanyanya.
"Bukan."
"Lalu?"
"Motor kesayangan saya pak. Tuh pak motor aja saya sayang. apalagi bapak" candaku. Namun dia seperti terkejut dan menganggapnya serius.
__ADS_1
Aku meninggalkannya begitu saja ke parkiran, “Padahal kan aku hanya bercanda. Dasar Pak Dosen jomblo, pasti dia tidak biasa mendengar gombalan macam itu. Makanya dia kaget”, gumamku sambil terkekeh.