
Pukul 15.00 WIB
Ting.
Terdengar suara notif pesan dari ponsel Diana. Saat ini dia sedang berberes untuk segera pulang karena hari ini sangatlah melelahkan.
Mas Dosen : Keruangan saya sekarang!
Diana mengerutkan dahinya bingung, ada apa gerangan Pak Dosennya itu memanggilnya. Dia merasa hari ini tidak membuat kesalahan padanya. Dia tidak mau bingung sendiri, akhirnya dia melenggang menuju ruangan dosennya itu.
Tok tok tok.
Ceklek
“Masuk” terdengar suara dari dalam.
“Duduk dulu, sebentar lagi saya selesai” ucap Rendi yang masih sibuk menatap layar komputernya.
“Memang ada apa ya pak saya di suruh ke sini?”, Diana bertanya.
Rendi menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Diana sejenak, “Kamu lupa kalau kamu tidak bawa kendaraan?” tanyanya.
Oh benar juga, kenapa aku bisa lupa ya. Pantas saja dari tadi aku mencari kunci Genta tidak ketemu. Diana
“Oh iya, maaf pak saya lupa” jawab Diana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia malu.
“Hm” balasnya singkat tanpa melihat Diana.
“Pendek banget kaya rok banci lampu merah” Diana berucap asal.
Rendi terkekeh namun masih tetap fokus menatap layar komputer dan tidak melihatku.
“Masih lama gak si pak” tanyanya yang mulai kesal pada Rendi.
“Sebentar lagi.” jawab Rendi singkat.
“Dari tadi sebentar terus pak-pak, bangun rumah udah jadi ini” sindir Diana.
“Oh jadi kamu ingin membangun rumah tangga dengan saya” Rendi menggodanya.
“Jangan pede pak” jawabnya sibuk memainkan ponsel di tangan.
__ADS_1
”Kamu sendiri yang bilang barusan” balas Rendi.
Diana mendengus “Hanya perasaanmu saja kang” balas Diana, "Kang cilok" lanjutnya. kemudian sambil terkikik.
“Jangan kurang aja Diana” jawab Rendi datar. Diana yang mendengar hal itu jadi menyesal, niatnya hanya bercanda namun ternyata orang yang diajak bercanda malah marah.
Buset dah ni orang. Di bencandain dikit aja udah serem. Pantas saja jomlo, selera humornya aja gak ada. Diana
"Maaf pak, saya hanya bercanda." balas Diana.
"Kalo mau bercanda, nanti di rumah saja" balas Rendi yang membuat Diana bingung. Melihat Diana yang mengerutkan dahi seolah sedang berpikir, Rendi bangkit dari duduknya dan mengambil tas kerjanya.
“Ayo pulang, saya sudah selesai” ajaknya kemudian.
Diana tidak menjawab, dia hanya mengikutinya dari belakang.
***
“Apakah kamu senang pergi bareng saya begini?” tanya Rendi membuka obrolan, karena sedari tadi mereka hanya diam di dalam perjalanan.
“Seneng lah pak, lumayan hemat bensin” Diana berkata sambil terkekeh.
“Kalau kamu senang, besok dan seterusnya kamu pergi bareng saya” kata Rendi.
“Tidak papa, saya juga senang kok” jawabnya.
“Tapi saya tidak mau pak, saya tidak enak dengan bapak. Lagian nanti apa kata mahasiswa lain kalau tau saya sering nebeng bapak dan juga saya tidak mau jika nanti pacar bapak salah paham melihat saya bareng bapak begini” Diana berkata panjag lebar.
"Banyak bicara kamu" balas Rendi menyebalkan. "Ih kok gitu si Pak" sahut Diana cepat.
Rendi tersenyum sedikit, “Saya tidak keberatan dengan hal itu, lagian pede sekali kamu, kalau orang akan mengira saya ada apa-apa denganmu” jawabnya mengejek.
Diana kesal mendengarnya, “Iya pak saya hanya remahan rengginan yang tertinggal di pojok toples, jadi tidak mungkin orang akan melihat saya, begitukan maksud bapak?” Diana menjawab dengan kesal.
Kenapa menjahilimu membuat saya senang begini. Rendi
“Kamu marah?” Rendi bertanya.
“Saya tidak marah”
“Kenapa kamu jadi sewot begitu”
__ADS_1
“Saya sadar diri pak”
“Sadar kalau kamu pantas buat saya?” tanya Rendi dengan jahil. Diana diam saja tidak menyahut.
Eh kok aneh pertanyaannya, becandanya gak lucu tau gak. Diana
"Diana" panggil Rendi.
Diana tidak tertarik membalasnya, dia kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Kemanapun asal tidak ke arah Rendi.
“Benarkan kamu marah?” tanyanya lagi. Rendi memanggilnya berulang kali sehingga hal itu membuat Diana risih.
"Apasih pak. Saya tidak marah" Diana akhirnya menjawab.
"Lihat saya kalo kamu tidak marah." perintah Rendi pada Diana. Diana menengok menatap Rendi seolah berkata puas kamu sekarang. Rendi kemudian tersenyum melihatnya.
“Ternyata kamu gadis pemarah ya, pantas saja kamu jomblo. Pasti laki-laki pada takut sama kamu ya” Ucap rendi sambil terkekeh.
Diana merasa harga dirinya terluka dengan perkataan Rendi, padahal si Rendi hanya sedang menjahilinya. “Maksud bapak apa? Gausah ngatain begitu dong !” serunya.
“Kalau bapak tidaksuka dengan saya, yaudah saya turun di sini saja pak, saya bisa pulang sendiri” lanjut diana dengan kesal.
“Eh” Rendi terkejut.
Sepertinya aku sudah keterlaluan. Rendi
Rendi mengubah ekspresinya menjadi lebih bersahabat dan lembut, “Maafkan saya ya Didi, saya hanya bercanda. Saya suka kok sama kamu” ucapnya dengan senyum.
“A.. apa pak?” Diana meminta Rendi mengulangi ucapnnya tadi. Rendi tersenyum,
"Apa apanya?" tanya rendi pura-pura tidak tahu.
"Bapak tadi bilang apa?"
“Kalau kamu tidak dengar yasudah” balas Rendi. “Sekarang diam saja dan jangan berpikiran konyol lagi” sambungnya.
"Memang aku mikir apa dan siapa yang konyol. Tapi apa ya maksudnya tadi ya, dia suka padaku. Ah tidak mungkin" pikir Diana sambi menggelengkan kepalanya dan itu terlihat aneh.
"Kamu kenapa?" Rendi bertanya karena melihat Diana yang sedang geleng-geleng seperti itu. Diana menengok, "Eh .. gapapa kok pak. Fokus menyetir saja pak" jawab Diana dan Rendi hanya tersenyum samar.
Setelah sampai di rumah, Diana masih memikirkan ucapan Rendi tadi. Hingga membuatnya uring-uringan sendiri.
__ADS_1
Perempuan memang suka begitu, mudah sekali terbawa perasaan pada sesuatu yang belum pasti. Padahal makna kata suka bukan berarti cinta kan? Bukankah semua orang mudah suka dengan orang di sekelilingnya, dan itu semua bersifat umum. hmm sadarlah wahai ukhty