The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 14


__ADS_3

Aku masih mematung mengingat ucapan yang di lontarkan tetangga sekaligus dosenku itu. Tidak angin tidak ada badai mengapa dia tiba-tiba menciptakan gempa di hatiku. Ini benar-benar lelucon yang tidak lucu sama sekali.


“Woi !!! bengong aja lo. Ayam tetangga kemarin bengong trus mati” ucap Yogi menepuk bahuku.


Aku terlonjak kaget, “Diem Gi diem. Ada gempa” ucapku dengan masih memegangi dadaku yang bergemuruh.


Dia terlihat panik, “Dimana Di, dimana” tanyanya ikutan panik seraya bangkit dari duduknya.


“Disini” tunjukku pada diriku sendiri.


Pletak .


“Aww, sakit tauk” ucapku mengaduh sambil mengusap-usap dahiku.


“Peak lo. Gue udah panik jug, dan lo cuma halu” ucapnya meninggalkanku.


Tok tok tok.. .


“Siapa sih malem-malem begini bertamu”, aku bangkit untuk menuju seseorang yang mengetuk pintu rumah.


Ceklek


“Lah bapak” ucapku sedikit bingung menatap seseorang yang sedang berdiri di depanku dengan wajah kesal ini. “Ada apa pak?” tanya ku berusaha wajar, padahal hatiku masih bergemuruh mengingat ucapannya ditelepon tadi.


“Kenapa telpon saya kamu matikan ?” tanyanya kesal.


“A.. nu pak .. “ jawabku gagap sambil menggaruk tengguk yang tidak gatal.


“saya terkejut pak, jadi reflek mematikan telepon” ucapku akhirnya.


“Kenapa?” tanyanya lagi. Kok pake ditanya kenapa sih, ya karena diriku baper dong mas. Yaelah.

__ADS_1


“Kenapa kamu terkejut?”pertanyaannya mengulang.


“Egh .. itu ..Anu”, aku masih menunduk. Kemudian, “Becandaan bapak tadi gak lucu tau gak. Ngapain coba ngomong begitu. Bapak mau mempermainkan saya?” ucapku dengan lantang dan menatap ke wajahnya, entah dapat kekuatan dari mana aku bisa melakukan hal itu. Aku masih menatapnya dengan wajah menantang.


Dia terkekeh, “Biasa saja dong ekspresinya, kamu semakin terlihat aneh berekspresi seperti itu”, ucapnya. Aku jadi kesal, aku diam saja dan memalingkan wajahku ke arah lain. Pertanda aku marah padanya.


Dia berjalan maju, aku reflek mundur sehingga secara otomatis dia masuk ke rumahku. “Tidak sopan kamu, ada tamu bukannya di suruh masuk malah di omeli di depan pintu” ucapnya kemudian duduk.


“Bapak yang tidak sopan, belum di persilahkan masuk malah sudah duduk santai begitu” ucapku menyindir.


“Sudah-sudah, sini duduk. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu” ucapnya dengan lembut. Aku menurut dan duduk di seberangnya. Dia tak kunjung berbicara malah menatapku dengan senyum. Aku yang di tatap seperti itu jadi risih dan tidak nyaman.


“Ekhem, jadi mau bicara apa pak?” ucapku tho the point karena tidak nyaman dengan kecanggungan ini.


“Yang saya katakan di telepon tadi serius Di”, aku tampak serius mendengarkannya. “Saya serius dengan ucapan saya, bahkan saya sudah menemui calon mertua saya”. Aku terkejut dan mulutku menganga tak percaya.


Dia terkekeh, “Sudah saya bilang biasa saja Di, air liur kamu sampai menetes begitu. Aku reflek mengelap bibir ku dengan kasar.


“Hahahaha .. saya becanda, lucu sekali ekspresimu” lanjutnya.


Heh apa-apaan ini, “Kok gitu si” ucapku tak terima.


“Memangnya harus bagaimana? Bukankah kamu juga senang?” tanyanya.


Senang dari hongkong, eh tapi memang benar aku senang kok. Siapa yag tidak senang coba, dilamar sama dosen muda dan ganteng seperti dia. Semua perempuan pasti akan menyukainya. Apalagi sikap galaknya yang lucu dan menggemaskan itu. Tapi kan gengsi kalo aku langsung keliatan senang, lebih baik aku pura-pura kesal saja.


“Senang dari mana pak?” ucapku smabil menyedekapkan kedua tanganku.


“Jadi kamu tidak suka dengan saya?” tanyanya sedikit ragu.


Aku ingin tertawa melihat ekspresinya, tadi saja dia begitu percaya diri tapi sekarnag keliatan takut gitu, aku harus menahannya. Biar saja ku kerjai dulu dosen satu ini. “Yang mau menjalani kan saya, bukan orang tua saya. Kenapa bapak langsung bilang ke orang tua saya sih. Sedangkan saya tidak tau apa-apa” kataku.

__ADS_1


“Ckckckck .. saya kira kamu ini pinta ternyata hal begini saja kamu tidak paham.”


“Maksud bapak?” tanyaku bingung.


“Saya fikir kamu sudah mengerti dengan apa yang saya lakukan kepada kamu selama ini, ternyata kamu memang perempuan yang tidak peka” balasnya mencibir.


Syalan aku dikatain perempuan tidak peka. Padahal aslinya aku sangat sangat peka, namun aku hanya takut ituadalah ekspetasi ku saja. Kan sakit kalo ternyata kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasi yang kita bayangkan.


“Saya haya tidak ingin peka pak” balasku.


“Kenapa begitu? Kamu ragu?” tanyanya. Aku mengangguk, kemudian menatapnya.


“Saya takut patah hati pak, ketika saya terlalu yakin dengan ekspetasi, namun kenyataannya tidak seperti itu.” Ucapku jujur.


“Kamu sering patah hati ya” ucapnya mengejek. “Jangan ngejek dong pak, meskipun saya sering patah hati namun itu hanya saya rasakan sendiri. Orang yang buat patah hati saya malah tidak tau” eh kok aku jadi curhat.


“Cinta dalam diam?” tanyanya, aku mengangguk.


“Mulai sekarang, jangan cinta dalam diam lagi. Apalagi mencintai sendirian. Katakan saja jika kamu menyukai orang itu, termasuk jika kamu menyukai saya” ucapnya percaya diri kemudian tersenyum.


“In your dream” balasku. “Jangan seperti itu dengan calon suamimu Diana” ucapnya membuat pipiku merona. Apa katanya tadi, calon suami? Omaigat kenapa terasa manis sekali sih di pendengaranku. Pokoknya weekend besok aku harus pulang, akan ku tanyakan kepada ayah dan ibuku. Apakah benar yang dia ucapkan itu.


“Kamu blushing?” tanyanya menggodaku.


“Apaan sih pak” jawabku mengelak. Hingga seterusnya tanpa sadar kami asik mengobrol dan bercanda.


pukul 22.50 wib


“Eh sudah hampir jam sebelas” ucapnya melihat jam dinding di rumaku. Akupun menengok ke arah jam itu. “Iya pak” aku membenarkan ucapannya.


“Saya pulang dulu kalo begitu ya, atau kamu ingin saya menginap saja?” lagi-lagi dia menggodaku. Aku hanya mencebikkan mulutku, “Modus ya pak” dia tertawa.

__ADS_1


Kemudian dia bangkit, “Yasudah saya pulang dulu” ucapnya. Aku mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di luar, ‘Jangan kangen ya, besok kita ketemu lagi” ucapnya ekspresi seperti om-om genit. Aku hanya menggeleng-gelengkan melihat kelakuannya.


Aku kembali masuk kerumah dengan bersenandung kecil, ternyata jatuh cinta seperti ini rasanya yaa. Aah rasanya aku ingin tersenyum sepanjang hari. Ibu, anakmu sudah besar ternyata.


__ADS_2