
“Eh mau ngapain?” tanyanya panik karena melihat Rendi naik ke atas kasurnya. Rendi tersenyum.
“Kamu bilang ini nyaman, saya mau coba lah” jawabnya akan merebahkan diri namun Diana menghalaunya.
“Gak ada gak ada. Cepet keluar. Nyamannya Cuma buat pemilik kamar” balasnya.
“Saya kan calon pemilik kamar ini juga” balas Rendi tak mau kalah.
“Eh mana ada. Jangan percaya diri gitu deh.”
“Sebentar lagi kita kan mau menikah. Kalau saya jadi suami kamu pasti saya akan tidur di sini lah.”
“Siapa bilang?”, pertanyaan Diana membuat Rendi mengerutkan dahinya.
“Maksudnya siapa bilang?” tanyanya pada Diana.
“Siapa bilang bapak tidur di sini. Bapak tidur di sono tuh” tunjuknya pada sofa kecildi pojok kamar. Rendi mengikuti arah pandang Diana.
“Kenapa kamu sudah berencana jadi istri yang kejam Diana” ucapnya ngeri membayangkan harus tidur di sofa kecil itu.
“Kenapa dia bodoh sekali sih percaya dengan ucapanku” ucap Diana dalam hati.
__ADS_1
“Nih handuk mu” ucapnya mengulurkan handuk ke arah Diana. “Terimakasih” sambungnya. Kemudian dia bangkit dari kasur dan berjalan keluar meninggalkan Diana.
Hal itu membuat Diana mengerutkan dahinya bingung, “Kenapa tuh orang. Tumben gak protes. Apa dia marah padaku?” monolog Diana pada dirinya sendiri.
“Ah terserahlah. Aku mau tidur siang saja. Sudah lama sekali aku tidak tidur siang di kamarku ini” ucapnya dengan tiduran menggesek-gesekkan kakinya pada kasur, “Nyaman sekali” sambungnya.
Rendi berjalan ke ruang tamu, disana terlihat ayah dan ibu Diana sedag berbincang. “Loh kok sendirian nak, Diana mana?” tanyanya Bu Yuni setelah melihat kehadiran Rendi.
“Ada bu dikamarnya. Mungkin sebentar lagi kesini” jawabnya.
“Oh begitu, kalo gitu sini duduk bareng ayah biar ibu buatkan kamu minum. Mau teh atau kopi?” tanya Ibu lagi.
“Tidak usah repot-repot Bu” jawabnya tidak enak.
“Ibu benar. Lagian sebentar lagi kamu juga akan resmi jadi anak kami kan” jawab ayah menimpali.
Rendi tersenyum mengangguk, “Hm baiklah Bu, teh saja Bu.” Ucapnya. Ibu mengangguk mengiyakan kemudian berjalan ke dapur untuk membuatkannya.
Beberapa menit kemudian Ibu kembali dengan membawakan minuman untuk Rendi bersamaan dengan Diana yang juga baru keluar dari kamarnya. “Kamu ini gimana, calon suami bukannya di bikinin minum malah ditinggal tidur. Gimana nati kalau kamu sudah menikah” omel Bu Yuni yang melihat Diana dengan ciri khas orang bangun tidur. Padahal Diana hanya berguling-guling dikasur tidak bisa tidur kemudian dia bosan dan memutuskan untuk keluar mencari hiburan dan sampailah dia di ruang tamu kena omel ibunya.
“Kan sudah di buatkan oleh Ibu” jawabnya sambil nyengir menampilkan gigi putihnya yang rapi.
__ADS_1
“Dasar anak itu, kamu mau kemana ?” tanya Pak Bonar pada anaknya.
“Nonton tv yah” jawabnya akan berbalik.
“Duduk sini temani Rendi mengobrol” suruh ayah padanya.
“Yuk pak kita nonton tv saja pak. Enakan nyantai di sana” ajaknya pada Rendi.
“Loh malah nyuruh-nyuruh tamu si” Pak Bonar protes.
“Tidak papa pak, saya ikut Diana kesana dulu ya pak” jawab Rendi sopan. Kemudian bagkit mengikuti Diana dari belakang. Belum jauh mereka berjalan ibunya sudah memanggil lagi, “Bawakan teh nya Nak Rendi ke sana Di.”
“Iya bu” jawabnya sambil berjalan dengan malas, Rendi hanya tersenyum melihatnya. Menurutnya manis sekali melihat Diana yang penurut itu pada ibunya, bagaimana nati jika mereka sudah menikah? Pasti bahagia sekali jika dia bersikap begitu juga.
“Senyum-senyum sendiri, gila ya” celetuk Diana yang sudah berada di depannya membuat Rendi berjengit, “Cepet banget, kamu sudah di depan saya lagi” balasnya.
“Ngelamunin saya ya pak” godanya.
“Geer kamu.” balasnya tersenyum sambil mengacak rambut Diana lembut. Membuat jantung Diana seperti lari marathon dengan perlakuan Rendi barusan.
"Ngaku aja deh pak" balas Diana berusaha menetralkan kegugupannya. Dia masih gadis labil yang gampang baper dengan perlakuan manis laki-laki.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa?" balas Rendi tersenyum jahil. Diana diam.
"Sial. harusnya di jawab tidak saja. kalo begini aku sendiri kan yang mati kutu. bodoh kamu diana bodoh" ucapnya dalam hati. Sedangkan Rendi tau bahwa Diana sekarang sedang salah tingkah. Dia berjalan begitu saja meninggalkan Diana yang masih diam seperti orang bingung itu sendirian.