The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 23


__ADS_3

Tok tok tok


"Biar aku saja yang buka Bu" dengan semangat Diana melangkahkan kakinya untuk menyambut calon suaminya itu.


"Siapa ya?" tanyanya bingung karena melihat orang berbeda lagi dari yang dia tunggu.


"Saya sales mbak. Mau menawarkan .


.." belum sempat melanjutkan Diana sudah memotongnya lebih dulu, "Maaf mbak saya sedang sibuk. Lain kali mungkin. Permisi" ucapnya menutup pintu dan masuk ke dalam rumah dengan lantai gontai.


"Pasti tamu tak diundang lagi" kata sang ibu meledeknya.


"Tauk ah kesel Bu." keluhnya.


"Yasudah mungkin sebentar lagi", ayahnya menenangkan.


Beberapa menit kemudian terdengar pintu diketuk, "Itu" tunjuk sang ibu pada pintu yang diketuk.


"Ibu aja yang buka. Didi udah males" jawabnya dengan bermain ponsel ditangannya.


"Dasar mutungan" ucap sang ibu sambil berjalan membukakan pintu.


Ceklek


"Malem tante" sapa seorang laki-laki tampan yang akan menjadi menantunya itu, di susul ada dua orang tua laki-laki dan perempuan di belakangnya.


"Malem nak. Eh jeng mari masuk" ajaknya pada tamunya itu.


"Kok bukan Diana tante yang nyambut aku?" tanyanya sambil celingukan mencari sosok perempuan yang akan menjadi calon istrinya itu.


"Tuh. Ngambek" tunjuk bu Yuni pada seorang gadis yang sedang duduk dan asik bermain ponsel.


"Kenapa?" tanya Rendi dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Korban php" jawab Bu Yuni terkikik.


"Ha? Kok bisa bu?" tanyanya lagi.


"Dia sudah antusias sekali tiap ada yang mengetuk pintu, dia kira itu kamu. Namun sudah dua kali ternyata orang yang salah" ceritanya pada calon menantunya itu. Rendi dan orangtuanya itu lantas tertawa kecil saat mendengar cerita Bu Yuni.


"Kali ini gak salah lagi kok nak" ucap Bu Yuni menyadarkan Diana dari dunianya itu.


"Eh" kagetnya. "Malem om, tante." sambungnya saat melihat dua orang paruh baya berdiri di depannya.


"Kok calon suami gak si sapa" ledek Bu Sri, ibunya Rendi kepada calon mantunya itu.


"Malem pak" sapanya kemudian.


Bu Sri mengerutkan keningnya, "Kok pak?" tanyanya.


"Karena aku dosennya ma" jawab Rendi menatap Diana yang sedang menunduk malu. Mereka semua mengangguk mendengar jawaban Rendi.


"Ayo duduk calon besan, sampai lupa mempersilahkan."


"Dasar calon pengantin" ucap para orangtua itu.


"Jangan macem-macem kamu Ren" ayahnya memperingatkan.


"Semacem aja kok yah"


"Dasar anak itu"


"Sudah tidak papa Har. Mereka sudah dewasa kok" Pak Bonar menyahuti sahabatnya itu. Kemudian mereka mulai berbincang.


"Diana" panggilnya.


"Iya?"

__ADS_1


"Kamu nungguin saya ya?"


"Nungguin pak RT sama tukang sales" jawabnya sambil menata kue di atas piring.


"Kenapa tertawa?" sambungnya lagi.


"Jadi mereka yang sudah php in kamu?" tanya Rendi dengan masih menertawakannya.


"Ibuku bilang begitu?" Rendi mengangguk mengiyakan.


"Tidak seperti itu padahal" elaknya.


"Lalu seperti apa?" ucapnya dengan mendekat ke arah Diana.


"Apasih pak. Kok deket-deket"


"Kenapa memangnya" ucap Rendi terus menatap mata Diana


"Jaga jarak!!" teriaknya membuat Rendi memekik menutup kedua telinganya.


"Apasih kamu pake teriak-teriak segala. Kamu pikir saya mau ngapain?" protesnya kesal. Niatnya ingin menggoda gadis itu malah dia sendiri yang kena kesal.


"Mau bantuin saya menata ini kan? Nih" ucapnya menyodorkan piring dan kue dalam kotak itu.


Rasakan itu. Siapa suruh mengerjaiku. Diana


"Kamu mau kemana?" tanyanya karena melihat Diana akan pergi.


"Ke kamar sebentar"


"Ikut !!" serunya sambil menaik turunkan alisnya.


"In your dream" balas Diana terkekeh meninggalkan Rendi yang wajahnya sedang cemberut itu.

__ADS_1


Niatnya mau berduaan malah ditinggalin. Apes malah berduaan sama bolu-bolu ini. Rendi


__ADS_2