The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 12


__ADS_3

Tidak ada yang berubah dengan rutinitasku sebagai mahasiswa. Pagi, siang, dan sore semua berhubungan dengan kampus. Tak jarang juga saat malam hari aku masih aktif di kampus, yah karena aku jadi salah satu pengurus organisasi kampus. Orgaisasi kampus tidak akan jauh-jauh dari yang namanya rapat dan rapat. Apalagi kalo kita buntu ide, bisa dipastikan rapat akan berakhir dinihari bahkan bisa sampai pagi hari. Kok gitu? Kalo kalian bingung yasudah tidak papa. Jangan difikirkan, biar aku saja.


Pukul 17.00 WIB


“Aah akhirnya aku pulang juga hari ini” ucapkan dengan riang berjalan menuju parkiran tempatku menitipkan si Genta, motor kesayanganku.


Hari ini aku ada jadwal kuliah dari pagi, dan sekarang baru selesai. Bisa kalian bayangin dong gimana rasanya, ditambah semua mata kuliah tersebut adalah mata kuliah wajib. Aku memang tipe orang yag gampang sekali mengeluh, oleh karena itu saat diriku melewati suatu kejadian dan aku bisa ikhlas, maka jangan heran jika aku akan memberikan reward pada diriku sendiri nantinya.


“Hey Di!” kudengar seseorang memanggilku, “Eh elo” balasku dengan tersenyum.


“Iya ini gue, masih inget kan?” tanya orang itu.


“Masih lah, kenalan pertama gue waktu maba. Yang orangnya tengil minta ampun” lagi-lagi aku tersenyum sambil mengatakannya. Dia Gerry, teman satu kampusku namun beda jurusan. Dia adalah orang pertama yang mengajak ku berkenalan sewaktu kegiatan pengenalan lingkungan kampus. Orangnya keren, humoris, dan ramah. Makanya aku mudah akrab dengan dia. Namun setelah kami memasuki semester ini, kami jarang berkomunikasi lagi. Ntahlah, mungkin karena kesibukan masing-masing.


“Inget lah Ger, apakabar lo?” tanyaku.


“Baik, yah seperti yag lo lihat” jawabnya sumringah.


“Kok baru balik Di?” tanyanya lagi.


“Iyanih, hari ini gue full time” balasku sedikit lebay, dia hanya mendengus. “Lo sendiri ngapain belum balik?” tanyaku kepo karena suasana kampus sudah mulai sepi, sudah sore juga kan.

__ADS_1


“Oh gue ada kegiatan UKM tadi. Terus sekalian santai-santai aja di sekret” jawabnya.


“Widih jadi aktivis kampus nih kayaknya udahan”


“Ah gak juga Di, mengisi waktu luang saja. Lagian bosen juga kalo hanya fokus kuliah, kita kan butuh pengalaman dari luar juga” jawabnya diplomatis.


“Iya iya bener tuh. Biar gak dikatain mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang” aku terkekeh. Di sela-sela obrolan kami, aku seperti merasa ada yang memperhatikanku. Ku lihat ke sekeliling tapi tidak ada siapa-siapa. Ah mungkin hanya perasaanku saja. Ku lanjutkan lagi ngobrol dengannya.


Saking asyiknya kami mengobrol, tak terasa gelap pun jatuh di ujung malam menuju pagi yang dingin~ eh kok jadi nyayi lagunya Payung Teduh sih. Maafkan aku teman-teman, aku mudah sekali terbawa suasana. Kembali ke laptop.


Kulihat jam di tanganku, ternyata sudah hampir jam enam. Pantas saja langitnya sudah mulai gelap. Aku mulai krasak-krusuk tidak nyaman dan Gerry menyadari pergerakanku.


Aku sibuk memakai helmku dan kulihat Gerry malah menatapku, padahalkan dia sudah siap tinggal jalan saja. Aku mengerutkan dahi seolah bertanya kenapa. Dan dia menjawab “Ayo gue anterin, udah mau gelap”.


“Gausah kali Ger” tolakku.


“Gapapa Di, lagian gara-gara gue juga tadi ngajakin lo ngobrol lama banget. Kita jadi lupa waktu” jawabnya kekeh.


“Yaudah deh, lumayan punya bodyguard gratis” jawabku kemudian tertawa.


Sekitar tiga puluh menit kami sampai di rumah ku.

__ADS_1


“Makasih ya Ger.” Ucapku padanya. Dia mengangguk.


“Mampir dulu, lagian magrib tinggal sebentar lagi. Solat di sini saja” tawarku padanya. Karena memang benar, magrib tinggal tersisa sepuluh menit lagi.


“Makasih Di, gue lanjut aja. Lagian di sana kan ada masjid. Gue magrib di sana aja” balasnya menunjuk masjid di komplek ku.


Aku mengangguk, “Baiklah, sekali lagi makasih ya. Hati-hati” ucapkan sambil melambaikan tangan. Dan dia hanya mengangguk sambil tersenyum.


Aku masih asyik menatap punggung Gerry yag sudah mulai menghilang, kemudian ku sedikir beralih ke rumah Pak Dosenku.


Deg.


Dia sedang menatapku di depan rumahnya. Pandangan kami bertemu, aku tersenyum kemudian sedikit membungkuk ke arahnya. Dia tidak membalas dan hanya menatapku datar, kemudia masuk ke dalam rumahnya.


Kenapa sih mas serem banget. Padahal udah gateng loh pake sarung dan peci begitu. Senyum dikit pasti bikin aku adem. Dasar aneh.


Mengingat aku belum melaksanakan kewajibanku, aku bergegas masuk ke dalam. “Baru pulang Di, buru-buru amat.kebelet lo?” tanya Yogi yang sedang santai di depan tv dengan senyum jahilnya.


Aku mendengus, “Gue belum solat. Jangan berisik lo” jawab ku sewot sambil berlari.


“Dasar kebiasaan,bla bla bla” ceramah Yogi panjang lebar, aku tak menghiraukannya. Maap ya sodara, situasi sedang urgent hihi.

__ADS_1


__ADS_2