
Jam, menit, dan detik sudah berlalu. Para mahasiswa sudah mulai grasak-grusuk di temapt duduknya masing-masing.
"Pak udah habis kali waktunya. Betah banget elah" ucap Diana tanda sadar. Hal itu sedikit mengusik Pak Dosen yang sedang fokus menjelaskan itu. Dia melihat ke jam di tangannya. Lalu menatap ke mahasiswanya lagi.
"Oke, kuliah kita cukup sampai di sini. Sampai bertemu lagi minggu depan" ucap Pak Rendi sambil membereskan buku di mejanya.
Diana melangkah untuk kembali ke tempat duduk ku. Namun belum juga sampai, dia sudah mendengar suara menyebalkan dari si Pak Dosen itu.
"Mau kemana kamu?" tanyanya.
"Mau istirahat pak. Kan tadi bapak bilang sudah selesai" jawab Diana sambil berusaha tersenyum semanis mungkin, berharap bisa meluluhkan si Pak Dosen galak itu. Namun ternyaya usahanya sia-sia.
"Untuk apa kamu senyum begitu. Saya tidak suka melihatnya" ucap Pak Rendi sarkas. Rasanya Diana ingin mencakar wajah gantengnya itu sekarang juga.
"Hukuman kamu belum selesai" jawab Pak Rendi masih tetap galak. "Loh kok gitu pak, pegel loh pak kaki saya ini. Jahat banget si" keluhnya hampir saja menangis dan itu membuat si Pak Dosen tersenyum tipis. Sangat tipis bahkan aku pun hampir tidak menyadarinya, untung saja penglihatan ku sangat jeli.
Lucu juga ternyata jika sedang merajuk begitu. Rendi
"Kenapa bapak malah tersenyum" protes Diana kepadanya. "Ikut ke ruangan saya sekarang!" perintah Pak Rendi tiba-tiba. Belum sempat dia menolak, Pak Rendi sudah menatapnya dengan garang, sehingga nyalinya langsung menciut untuk melawan.
Dia mengikutinya dari belakang, "Serem banget si Mas matanya, dulu ibumu nyidam apa to?" gumam Diana pelan namun sepertinya terdengar sampai telinganya Pak Dosen.
"Saya bisa dengar yang kamu katakan" ucap Pak Rendi tiba-tiba tanpa menghentikan langkahnya. Kan dedeq jadi kaget bang.
__ADS_1
"Eh .. Maafkan saya pak" ucap Diana kemudian.
*****
Setelah sampai di ruangan Pak Rendi, tiba-tiba dia berbalik dan senyum kepada Diana. Hal itu sampai membuatnya merinding. Pasalnya di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Dan senyumannya lebih mirip sebuah seringaian mencurigakan menurutnya.
Jangan-jangan dia berniat jahat padaku. hih serem. Diana
"Ke. .. kenapa bapak tersenyum begitu?" Diana bertanya dengan sedikit takut.
Dia berdehem kemudian, "Kenapa sekarang kamu panggil saya Bapak? Tadi kamu panggil saya Mas'' tanya Pak Rendi tanpa ekspresi. Padahal sebelumnya sudah tersenyum.
"Karena bapak adalah dosen saya, sudah semestinya saya memanggil seperti itu" jawabnya dengan menunduk.
"Tapi kamu kan tetangga saya, kenapa tidak kamu panggil seperti tadi saja saat kita sedang berdua begini" balas Pak Rendi santai.
Padahal saya lebih suka kamu panggil Mas dari pada Pak. Rendi
Pak Rendi menatap Diana datar, kemudian "Baiklah, panggil saya Pak kalo sedang di kampus" katanya. Diana mengangguk sambil tersenyum.
"Kenapa? kamu naksir sama saya?" tanya Rendi dengan pedenya.
"Apasih orang ini, gajelas banget", Diana bergumam pelan sekali. Tapi lagi-lagi dia seperti mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu kalo memuji saya, ucapkan dengan lantang. Jangan bisik-bisik begitu." Seru Rendi yang membuat Diana melongo.
Hello, perasaan tidak pernah memujinya deh. Kecuali bilang dia ganteng si emang. Tapi kan yang barusan, aku mengatainya. Kenapa dia bisa senarsis ini si. Diana
Dianan hanya diam saja mendengarkan dosen anehnya itu. Lebih baik yang waras saja yang mengalah.
****
Diana berdehem untung memecah keheningan. "Kenapa ya pak saya disuruh ke sini?" tanyanya sangat penasaran. Pasalnya si Pak Dosen ini dari tadi malah sibuk dan Diana dicuekin begini. Kan hayati lelah bang.
Rendi menghentikan aktivitasnya, "Sebagai permintaan maaf saya karena telah membuat kaki kamu pegal, kamu duduk di sofa emluk saya sekalian kamu temani saya makan siang nanti." katanya menatapku.
What, dia menyogokku dengan sofa empuk? astaga yang benar saja. Diana
"Eh tidak usah pak. Saya baik-baik saja" Diana berusaha menolaknya.
"Kalo kamu tidak mau yasudah saya tidak memaksa. Sekarang kamu berdiri di depan ruangan saya sampai saya kembali dari makan siang. Terserah kamu pilih yang mana" katanya enteng sekali. Diana melototkan matanha ke arah Rendi.
Ini sih bukan minta maaf namanya, tapi menyiksa lewat jalan lain . Seperti buah simalakama saja. Kesel akutu. Diana
"Saya duduk dan nanti akan menemani bapak makan siang" ucap Diana kemudian. Dari pada dia harus berdiri lagi kan. Mending dia ikut dengannya saja.
Bodo amat lah dengan gengsi. Yang penting aku aman. Di
__ADS_1
Jin Se Yeon as Diana Faradiswary