
“Kamu apa-apaan si !” kataku memukul lengannya yang sedang menyetir. Padahal yang kulakukan ini bisa membahayakan kami, tapi bodo amat lah, aku kesal dengannya.
“Emang saya kenapa?” tanyanya masih fokus menyetir.
“Kenapa bilang seperti itu pada ibu-ibu tadi” omel ku dengan kesal.
“Bilang apa?”, hm pura-pura gak tau.
“Bilang kalau saya ini istri bapak”
“Oh jadi kamu ingin saya bilang begitu, Ah baiklah” ucapnya dengan senyum jahil.
“Yak ! Bukan itu maksud saya pak”, aku sudah geram sekali sekarang.
“Hahaha .. iya iya saya tahu, maafkan saya. Saya hanya bercanda” belanya.
“Bercandamu tidak lucu. Apalagi bercanda dengan orang asing. Apa itu lucu?” kataku memarahinya.
“Kenapa kamu sekarang jadi seperti istri yang sedang memarahi suaminya si” katanya tersenyum.
“Suami dari hongkong”
“Saya dari Bandung kok" katanya.
"Hih bodo amat!"
"Jangan begitu, nanti kalau benar saya yang jadi suami kamu bagaimana?” tanyanya jahil.
__ADS_1
“Tidak mau”
“Kok kamu begitu. Kamu menolak takdir?”
“Emang bapak takdir saya?”
“Aamiin”
“Kok aamiin sih pak” ucapku dengan menunduk menahan malu.
“Saya berharapnya si kamu itu takdir saya” ucapnya yag membuat ku semakin malu, pasti pipiku sudah berubah seperti tomat sekarang. Ibu, anakmu:(
“Didi Kalau diajak bicara liat orangnya”, aku mendongak pelan-pelan. “Kenapa wajah mu memerah? Kamu saakit” ucapnya menyentuh keningku dengan khawatir.
“Apasih pak, saya baik-baik saya. Gausah lebay deh” jawabku memalingkan wajah darinya.
***
Sekarang kami sudah sampai di depan rumah ku. Pak Rendi segera turun untuk mengeluarkan barang belanjaan lalu menyerahkan kepadaku. Aku menerima belanjaanku, dan masih berdiri menunggunya. Maksudnya menunggu dia pulang ya, bukan menunggu dia mampir.
“Kamu tidak masuk?” tanyanya.
“Sebentar lagi. Setelah bapak pulang” jawabku.
“Kamu tidak menawarkan saya untuk mampir?” tanyannya.
“Sudah malam pak, lain kali saja”, lah ini kok malah kaya aku yang mau bertamu kerumahnya.
__ADS_1
“Saya lapar, apa kamu tidak punya sesuatu?”, Eh kok malah nanya makanan sih, kan harusnya dia pulang.
“Tidak pak, makanya tadi saya pergi ke minimarket membeli beberapa cemilan dan mie”, ucapku.
“Yasudah kalau begitu masakan saya mie saja, setelah itu saya akan pulang. Lagian rumah saya juga di situ. Jadi saya tidaak akan kemalaman pulangnya” jelasnya sambil menunjuk rumah depan.
Sebaiknya aku mengalah saja, “Hm”. Aku masuk kedalam diikuti dia yang mengekor di belakangku.
“Kamu tinggal sendiri?” tanyanya sambil membatu ku mengeluarkan belanjaan dari kantong plastik.
“Tidak pak, kadang saya bersama bibi yang bersih-bersih di rumah ini”. Aku sibuk sedang merebus air sambil menyiapkan mie yang akan ku masak.
“Kemana bibimu itu sekarang?”
“Pulang, bibi disini hanya dari senin-jumat kadang sampai sabtu sih. Tapi katanya hari ini bibi sedang ada acara keluarga jadi harus pulang.” Dia hanya ber-oh ria.
“Orang tua kamu?” tanyanya lagi, sambil dia membantu ku mencampurkan bumbu mie ke dalam mangkuk.
“Orang tua saya di kota AA. Trus saya mau kost saja tidak di bolehkan ayah saya. Jadi saya di suruh menempati rumah saudara saya ini. Saudara saya pindah ke kota AB” jelasku. Dan dia hanya manggut-manggut sembari melirik melihat sekeliling rumahku ini.
“Yuk pak, sudah mateng. Kita makan dulu” ajak ku. Dan dia mengikutiku dari belakang. Penurut sekali dia ini. Hihi. Kami mengisi perut kosong ini dengan mie instan yang sudah jelas tidak sehat. Kami makan dalam diam, yaiyalah makan sambil berbicara kan temennya setan hii
Namun ada yang membuatku tidak nyaman. Dia melihatku dengan intens sambil sesekali tersenyum. Kan dedeq jadi salting bang:(
"Kenapa sih pak?" tnyaku menghilangkan kegugupan.
"Tidak papa, saya sudah selesai. Saya pamit pulang ya. Kamu hati- hati dirumah. Dan jangan lupa kunci pintu" ucapnya sambi mengacak rambutku sebelum meninggalkan rumahku.
__ADS_1
Yaallah jantungku dagdigdug cepat sekali 😂